Senin, Juni 02, 2008

Nine Rivers Tragedy (1)

Semua berawal waktu dosen PIPPG yang menitahkan kami, mahasiswa gizi, untuk mengambil data batita di kecamatan Dau. Dan, luckily kelompok dt kebagian Nine Rivers Village yang medannya jelas lebih ringan kalau dibandingkan dengan desa-desa yang diterima empat kelompok lain. Sumpah! Serasa surga waktu tahu di mana harus ngambil data.

Jadi, Nine Rivers itu desa yang tetanggaan sama perumahan-perumahan besar Dieng, yang jelas menjamin akses jalan mulus (bukan jalan makadam, maksudnya). Dan berhubung itu desa juga ga tertinggal-tertinggal amat, dt yakin ga perlu acara tentiran bahasa jawa dan cukup berbekal beberapa kosa kata bahasa jawa paling standar untuk mempersiapkan diri untuk wawancara ke responden di sana.

Dan jadilah dua belas srikandi (bayangin dong, masa satu kelompok cewek semua) berboncengan naik enam sepeda terbang motor. Awalnya sih semua berjalan semulus jalan ke balai desa Nine Rivers, tapi masalah mulai muncul waktu kami nimbrung nyari data di Posyandu di Sumberejo. Di akhir Posyandu, kami yang tahu unggah-ungguh ini jelas pamitan sama bu ReTe dan bu kader di sana. Nah, waktu minta diri ini, bu ReTe minta tolong.

“Gini, lho, dik, kebetulan kan mau ada lomba desa, jadi bisa minta tolong bantuannya untuk mendata warga di erwe dua sini?”

Berhubung ibu ReTe pasang tampang ‘berani nolak, berarti mati’, ga ada pilihan lain selain bilang iya. Lagian, cuma data nama dan umur aja apa susahnya sih...Well, itu yang pertama kali muncul dalam pikiran dt. Berbekal formulir yang diformat, dibuat, diprint, dan difotokopi sendiri, dua hari kemudian, kami datang lagi untuk menuhi janji. Begitu nongkrong di rumah bu ReTe, kami langsung dikasih perintah tambahan untuk ngasih catatan tentang status kesejahteraan tiap KK yang ada. Gubraks! Mana kami tahu, mana keluarga yang prasejahtera, sejahtera I, II, III, atau III plus? Diajarin aja engga. Dan dengan tampang sok polos penuh tanda tanya, dt nekat nanyain apa aja kriterianya. Untung aja ada kriteria tertulis yang ibu ReTe pegang.

Kriteria Keluarga Sejahtera I:

- Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga

- Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 (dua) kali sehari atau lebih

- Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/ sekolah, dan bepergian

- Bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah

- Bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sarana/ petugas kesehatan.

Kriteria Keluarga Sejahtera II:

- Memenuhi kriteria KS I

- Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur

- Paling kurang, sekali seminggu keluarga menyediakan dagin/ ikan/ telur sebahai lauk pauk

- Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru pertahun

- Luas rumah paling kurang delapan meter persegi tiap penghuni rumah

- Seluruh anggota keluarga dalam tiga bulan terkahir dalam keadaan sehat

- Paling kurang satu orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap

- Seluruh anggota keluarga yang berumur 10—60 tahun bisa membaca tulisan latin

- Seluruh anak berusia 5—15 tahun bersekolah pada saat ini

- Bila anak hidup dua atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil)


Kriteria Keluarga Sejahtera III:

- Memenuhi kriteria KS II

- Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama

- Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga

- Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga

- Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya

- Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang satu kali tiap enam bulan

- Dapat memperoleh berita dari surat kabar/ TV/ majalah

- Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai dengan kondisi daerah setempat

Kriteria Keluarga Sejahtera III plus:

- Memenuhi kriteria KS III

- Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materiil

- Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/ yayasan/ institusi masyarakat

Melihat kriteria-kriteria di atas, jadilah dt harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti ”Ibu rajin beribadah, ga?” atau ”Tiap keluarga punya baju yang berbeda untuk kegiatan, tidak?” Dan itu ga hanya satu atau dua rumah. Dalam satu erwe yang harus didata seluruh warganya, ada empat erte, dan menurut pak ReTe (dari erte tetangga tentu) kira-kira ada seratusan KK tiap ertenya. Reaksi dt cuma mangap dodol begitu denger jumlahnya. Coba deh diitung, seratus KK di tiap empat erte dibagi dua belas orang. Itu artinya kurang lebih tiap orang harus wawancara ke tiga puluhan lebih KK. Jangan gila dong! Padahal di satu rumah butuh waktu lebih dari sepuluh menit karena harus nanyain nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan tiap orang yang tinggal di satu rumah. Ah, jangan lupa pertanyaan Keluarga Sejahteranya.

Setelah seharian jalan dari pintu ke pintu (kek lagunya ebiet), dengan konyolnya terus-terusan menanyakan pertanyaan bodoh yang sama, dan sampe sempet dikira orang yang minta sumbangan, dt cuma dapet sebelas rumah yang terdata. Kok cuma sedikit? Habisnya, banyak banget rumah yang kosong ditinggal pergi jalan-jalan ke mall (maklumlah, namanya juga hari minggu) plus banyak pula warga yang nolak untuk diwawancarai. Heran deh, apa susahnya, sih, nunjukin kartu keluarga terus ngejawab pertanyaan-pertanyaan yang sedikit konyol? Tapi kalau responden sudah menolak, mau apa lagi? Paling juga cuma bisa menghela nafas panjang sambil ngelus dada.

Waktu istirahat siang, kami ngaso dulu di mushola terdekat. Bener deh, selama survei di desa, mushola benar-benar jadi sanctuary buat dt. Di sana kami saling tukar pengalaman dan keluh kesah, karena untuk mempercepat pengambilan data, kami jalan sendiri-sendiri, one man girl show gitu, deh. Melihat sepertinya banyak yang nyerah dengan pengambilan data yang tidak seharusnya kami lakukan ini, ada yang berusul gimana kalau kami bilang cuma bisa bantu segini dulu. Dan untuk selanjutnya biar bu ReTe dan para kader yang berjuang. Lagian kan seharusnya itu memang jadi tugas mereka.

Baru dari mushola kami balik ke rumah bu ReTe berniat untuk ngerekap data yang sudah didapat, buka bontotan makan siang, sekalian ngomong kalo kami udah nyerah. Begitu sampai di sana kami langsung disuguhi makan siang. Mie instan. Sesuatu hal yang jarang dt makan (jangan ngerasa aneh kalo denger anak kosan jarang makan mie instan. Arek gizi geto loh!). Padahal bontotan juga udah siap dibuka. Dan jadilah kami kekenyangan karena harus makan bontotan sendiri plus semangkuk mie instan. Dan berhubung bu ReTe sudah begitu baik mau bikinin mie instan, kami jadi nerasa ga enak untuk bilang nyerah. Jadi, dengan segala kesabaran terakhir yang tersisa, kami rela berangkat untuk cari data sekali lagi.

Saat sore menjelang, kami akhirnya balik ke rumah bu ReTe untuk mengambil motor yang memang dititipkan di sana, sekalian menyerahkan data yang seadanya. Di sana kami bilang kalau cuma data itu yang bisa kami dapat hari ini, dan melanjutkan lain kali. Padahal itu bohong. Jelas kami bakal membangun rencana biar ga usah nerusin ngumpulin data yang bukan kebutuhan kami. Gimana caranya? Tauk, ah... Liat entar...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar