Senin, Oktober 27, 2008

It's Ice Cream Time

Nah, setelah berbicara hal-hal panas yang berhubungan tentang neraka, bagaimana kalau sedikit pendinginan? It's Ice Cream time!



You Are a Hot Fudge Sundae


Classic, simple, and divine.

Why mess with perfection?





You Are Rocky Road Ice Cream


Unpredictable and wild, you know how to have fun.

You're also a trendsetter who takes risks with new things.

You know about the latest and greatest - and may have invented it!

You are most compatible with vanilla ice cream.




Your Ice Cream Personality:


You like to think of yourself as a fairly modest person. And it's true that you don't talk yourself up... but you're also pretty happy with who you are.

You are the type of person who likes to throw caution to the wind. You only live once, so you're going to live as large as possible. You are definitely a wild one!

You are a very open minded, liberal, and flexible person. You love many things. You tend to have tastes that range from down home to cosmopolitan.

You are a natural multitasker. You feel alive when you're doing more than one thing at a time.

You are fun loving and sweet. You tend to enjoy joking around and teasing people.



Okay, okay, bagaimana mungkin seorang yang fairly modest, classic, dan simple bisa jadi unpredictably wild, eh? Well, sepertinya dt memang paduan yang aneh ; ))

Kamis, Oktober 23, 2008

Berbicara tentang Neraka

Melanjutkan pembicaraan tentang neraka. dt sempat bilang gini sama Revo. ”tahu ga kalau dt ga takut sama neraka.” Nah lo. Kok bisa coba? Yang jelas kalimat itu bukan muncul karena bawaan period, lo ya. Kalimat itu murni dari akal sehat dt yang masih waras. Ini cuma tentang perbedaan pola pikir aja kok.

Menurut dt, neraka adalah bentuk konsekuensi dari setiap pelanggaran yang kita lakukan. Dan sebagian besar perbuatan pelanggaran itu kita lakukan dengan penuh kesadaran. Sadar bahwa kita melakukan hal yang salah. Berbohong. Mencuri. Menjelek-jelekkan orang. Berprasangka buruk. Sebutkan saja satu-satu. Dan berhubung kita melakukan pelanggaran itu secara sadar, itu artinya kita juga harus siap dengan konsekuensi yang sudah ada. Neraka.

Dan itu yang dt rasakan. Melakukan tiap perbuatan yang dt ketahui dengan sadar bahwa itu dosa dan mau tak mau harus siap dengan pembalasannya. Itu sudah jadi tanggung jawab dt, kan? Kalau memang sudah jadi tanggung jawab, apa yang harus ditakutkan. Terima saja. Gitu aja kok repot.

Yang dt takutkan justru kalau ada orang yang merasa sedih saat mereka ga bisa ketemu dt di surga.

Kadang dt sendiri heran kenapa pola pikir dt bisa membuat berbagai hal bisa jadi sesimpel ini...


Strangest Period

Menstrual syndrome kali ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya saat period seperti ini, dt berlimpah energi, senyum terus mengembang, emosi meluap penuh optimisme, intinya masa terbaik dt justru pas masa period itu. Tapi period kali ini beda. Sumpah!

Di mulai dari masa pre period dengan emosi labil yang berlebihan. Waktu itu kebetulan dt tanpa sengaja ikut rapat informal yang harusnya ga dt ikuti. Di sana para otak organisasi pada brainstorming memikirkan nasib organisasi ke depannya. Dan dt yang memang ga tahu duduk permasalahannya dan diem aja selama perbincangan itu (waktu itu sebenernya dt lagi asik nulis cerita) malah ngerasa bersalah. Ga jelas banget kan. Waktu itu, sesampai di kosan dt nangis sejadi-jadinya. Perasaan dt penuh rasa bersalah dan dt ngerasa seperti orang paling ga berguna sedunia.

Dan yang masuk golongan parah lagi adalah kemarin sore. Tiba-tiba dt merasa tertekan luar biasa. Depresi. Padahal detik sebelumnya dt masih ketawa-ketawa seneng sambil baca postingan anak-anak IH. Dan detik berikutnya, kepala dt berat luar biasa. Rasanya otak bagian belakang diperas keras-keras. Lalu muncul pikiran-pikiran aneh. Cutter. Pisau. Korek api. Rasanya pengen main-main sama benda-benda itu. Rasanya seru kalau naruh ujung cutter di leher terus ditekan. Rasanya seru kalau naruh bilah pisau di pergelangan tangan terus digores. Rasanya seru kalau bisa nyalain korek api dan bakar setiap hal semua yang bisa dijilat lidah api.

Pikiran-pikiran aneh. Sampai akal sehat dt sendiri teriak-teriak sendiri. Rasanya dalam kepala dt ada tiga orang yang berbeda. Satu dengan kepribadian anehnya yang gila itu. Satu dengan akal sehat, logika, dan kewarasannya. Dan satu lagi hanya diam saja melihat dua yang lain, bingung harus apa. Kepala dt rasanya ruwet sendiri sampai-sampai dt ga bisa konsentrasi untuk nerusin bikin tugas.

dt putusin untuk istirahat sebentar daripada tugas malah berantakan. Henpun yang jadi sasaran. dt smsin temen-temen yang sekiranya bisa membantu mengalihkan perhatian dt dari pikiran-pikiran gila yang depresif itu. Lian. Mida. Revo. Sha. Sayangnya sms ke Sha dan Mida ga nyampe-nyampe. Lian masih sibuk ngajar. Dan jadilah smsan sama Revo.

And thanks a lot to Revo perhatian dt jadi sedikit teralihkan (walau sesaat sempat terpikir untuk menerjang lampu-lampu kendaraan yang kelihatan cantik). Ya jelaslah teralihkan. Lagi serius-serius ngomongin mati dan neraka tiba-tiba muncul kalimat yang satu itu. Siapa yang ga teralihkan. Untung henpun dt ga jatuh terus nyemplung (soalnya waktu itu jalan deket kubangan air). Wkwkwk.

Overall, masa period ini memang masa period paling aneh yang pernah dt rasain, jadi buat temen-temen yang ngerasa dt lebih aneh dari biasanya, harap maklum. *tersenyum manis sambil membungkuk hormat*

Selasa, Oktober 21, 2008

It's about Halloween

Sekarang sudah masuk bulan Oktober. Dan di IH pun Halloween Party juga sudah di mulai. Jadi, mari sedikit bermain-main dengan kuis yang berbau Halloween. Trick or Treat.



What Your Halloween Habits Say About You


You love the drama of Halloween. You definitely like to have the best costume around - and everyone noticing you.

Sneaky and devious, people should really watch out for you. You are usually underestimated and forgotten.

Your inner child is curious, brainy, and maybe even a little gross.

You truly fear the dark side of humanity. You are a true misanthrope.

You're logical, rational, and not easily effected. Not a lot scares you... especially when it comes to the paranormal.

You are a traditionalist with most aspects of your life. You like your Halloween costume to be basic, well made, and conventional enough to wear another year.


Wew, underestimated and forgotten, eh? Yet I'm sneaky though. Sometimes it's fun to be invisible.


You Should Be a Werewolf


You are seen as a bit tough and quite unpredictable. You follow your impulses.

You see Halloween as a time you can go a little crazy.

You love to scare people, and people are quite scared of you.

You tend to be intimidating - and not just on Halloween!


Me? Intimidating? I don't think so. I think I need second opinion.


You Are an Alien


You're so strange, people occasionally wonder if you're from another world.

You don't try to be different, but you see most things from a very unique, very offbeat perspective.

Brilliant to the point of genius, you definitely have some advanced intelligence going on.

No matter what circles you travel in, you always feel like a stranger. And it's a feeling you've learned to like.

Your greatest power: Your superhuman brain

Your greatest weakness: Your lack of empathy - you just don't get humans

You play well with: Zombies

What Kind of Monster Are You?

Wew again. Not human and play well with Zombies? Whatever. :))

Kamis, Oktober 16, 2008

[FanFiction] Unrequited Love


Disclaimer:
Tante JK Rowling untuk segala hal yang telah Anda cipatakan dan yang saia bawa-bawa kemari. Well, kecuali ide cerita...



Unrequited Love



”At the first time I saw you, Harry, I recognize you immediately.

“Not by your scar. By your eyes.

“Their your mother’s, Lily’s.

“Yes, oh yes, I knew her.”

***


End of Summer 1975


Mataku membelalak seakan-akan kedua bola di dalamnya ingin ikut meloncat keluar. Tidak percaya melihat satu benda yang baru saja berdenting jatuh dari dalam amplop yang biasa aku terima tiap tahun.
Benda berkilauan itu berdenting saat beradu dengan lantai. Lencana Prefek. Tanganku menyentuhi logam berkilau dengan huruf P besar itu. Dingin. Sepertinya burung hantu ini salah mengirimkan surat. Tidak mungkin orang seperti aku bisa mendapat kehormatan untuk menjadi Prefek.

Aku harus bicara pada Profesor Dumbledore tentang kesalahpahaman ini. Paling tidak, pada Profesor McGonagall.

Namun lekas aku mengurungkan rencanaku dan memilih untuk menerima tanggung jawab sebagai Prefek begitu tahu siapa partner kerjaku. Gadis itu. Gadis berambut merah dengan pipi yang selalu bersemu itu. Gadis yang senyumnya tak pernah lekang. Gadis dengan mata hijau tenang yang mampu membuai dan membuatku lupa siapa sebenarnya aku ini. Gadis itu, Lily Evans.

Dialah satu-satunya orang yang mau menolongku saat orang lain tidak. Bahkan dialah orang pertama yang menyadari absennya diriku pada hari-hari tertentu. Dia, Lily Evans-lah yang selalu membantuku. Bahkan sebelum aku menjadi bagian dari the Marauders.

Aku ingat saat purnama pertamaku di Hogwarts. Untung saja Dumbledore telah menyiapkan satu tempat khusus untukku. Sebuah rumah kecil --well, gubuk, lebih tepatnya-- yang tidak jauh dari Hogwarts. Bahkan Dumbledore menanamkan sebuah pohon gila yang saat menanamkannya saja sudah membuat Madam Pomfrey kalang kabut. Good man Dumbledore. Namun tetap saja proses itu menyakitkan. Membuat diriku sendiri malu atas keadaan ini. Membuatku merasa berbeda dari yang lain. Membuatku minder dan memilih untuk tidak dekat dengan siapapun. Tiga hari berturut-turut aku tidak berani melangkahkan kakiku keluar dari gubuk kecil itu.

”Ke mana saja kau beberapa hari ini?” Pertanyaan yang Lily ajukan saat memindahkan pupuk kotoran naga dalam pelajaran Herbologi esoknya mengejutkanku dan membuatku gelagapan mencari alasan.

“A-aku sakit.”

“Tapi aku tidak melihatmu di Hospital Wing.” Mata itu menatapi wajahku menyelidik. Namun aku juga merasakan sedikit perhatian di sana dan membuat kulit pucatku ini sedikit bersemu dan kelihatan lebih hidup.

“Er… aku dirawat di tempat lain.”


Purnama kedua, purnama ketiga, aku masih tidak berani keluar dari gubuk yang mulai dijuluki penduduk setempat dengan sebutan Shrieking Shack itu. Dan Lily Evans terus saja mempertanyakan kehilanganku itu. Padahal yang lain tidak peduli apakah aku ada atau tidak. Dan yang lain memilih untuk menganggapku tidak ada. Maka itu aku putuskan untuk purnama berikutnya aku hanya menghabiskan malam di gubuk itu dan kembali ke Hogwarts paginya. Tidak peduli betapa lemah, malu, dan merasa rendahnya aku. Untuk menghindari serangan menyelidik Lily dan yang lebih penting lagi, agar nada kecemasan tidak keluar dari bibir tipis itu.


”Remus... hei, Remus,”
ujar Lily sambil menyentuh pundakku, membuyarkan ingatan kecilku. ”Sebaiknya kita patroli sekarang.” Aku hanya mengangguk dan tersenyum sendu. Mengikuti gadis berambut merah itu memeriksa lorong-lorong gerbong Hogwarts Ekspress.

Wahai Dumbledore, semoga lencana ini bukan salah alamat. Kalaupun lencana ini adalah kesalahpahaman, kumohon agar kau tidak mengambilnya dariku. Karena lencana ini adalah alasanku agar dapat lebih sering bersamanya. Amin.

***


End of Summer 1977


Tidak biasa-biasanya James mengundang untuk menghabiskan sisa musim panas di rumahnya. Dalihnya adalah ia punya pengumuman terpenting abad ini. Kini adalah awal Agustus, itu artinya masih ada sekitar empat minggu yang akan dihabiskan di rumah James yang entah berapa kali besarnya bila dibandingkan dengan rumahku. Dan kini, kami berempat, di atas tempat tidur James, asik memperhatikan pembantaian catur sihir Peter oleh Sirius sampai James memutuskan untuk menyampaikan berita penting.

“Ehem… ehem. Okay, aku tidak ingin kalian tahu dari yang lain,” ujar James sok penting sambil menyengir lebar.

“Demi kolor Merlin! Apa yang begitu penting sampai kau mencegah Ratu-ku menggorok Kuda Peter?”
Komentar Sirius membuatku tertawa kecil, sedangkan Peter masih pusing sendiri melihat bidaknya yang tinggal segelintir.

“Okay, okay. Sabar sedikit kenapa. Jadi pengumuman pentingnya adalah,” James meloncat berdiri di atas tempat tidur dan berkacak pinggang, “kalian sedang melihat Head Boy tahun ini!”

“Whoa! You what?!” Sirius ikut meloncat di atas tempat tidur memberi selamat pada James, diikuti olehku dan Peter yang sepertinya separuh konsentrasinya masih pada bidak-bidak caturnya yang terus menyumpahinya karena ia tidak pandai bermain.

“Dan coba tebak siapa Head Girl-nya,” tambah James saat kami sudah duduk lagi, “Lily Evans!”

DEG!

Jantungku terasa berhenti. Membuatku otak kekurangan oksigen. Dan bereaksi dengan menolak untuk percaya kalimat terakhir James. No way. No way! NO WAY! Bukan rahasia lagi bagi kami kalau James menyukai Lily. Bukan rahasia lagi bagi kami kalau James selalu bertindak bodoh untuk menarik perhatian Lily. Dan juga bukan rahasia lagi bagi kami kalau setahun terakhir ini James mengubah strateginya. Ia mencoba menjadi anak baik.

Padahal akhir kelas enam lalu aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Prefek.
Mengapa? Karena sepertinya Evans mulai curiga dengan hilangnya diriku secara konstan di malam-malam patroli. Itu adalah alasan tak berdasar untuk Dumbledore. Karena Lily sudah terlalu sering marah padaku karena aku terlalu sering absen dari patroli malam dan menganggap bahwa aku lebih memilih bermain-main dengan tiga sahabatku daripada tanggung jawabku sebagai Prefek, dan sudah lelah dengan kemarahan Lily? Itu adalah alasan bohong untuk James, Sirius, dan Peter. Karena aku lelah ditempeli dan digunakan James sebagai alasan agar ia bisa berdekatan dengan Lily dan karena rasa sakit yang menyayat pedih di dadaku setiap kali melihat mereka bercanda berdua dan aku seakan sedang memakai Invisibility Cloak milik James? Itu adalah alasan sebenarnya yang aku pendam sendiri.

”Moony, wajahmu pucat sekali,” ucap Peter yang sudah menyerah dengan catur sihirnya dan memilih untuk memperhatikan air mukaku. Membuat yang lain ikut memperhatikan.

”Bukannya purnama sudah lewat dua hari lalu?” tanya James, masih menelisik wajahku yang pasti suram kini.

”Purnama kali ini kuat sekali,” ujarku beralasan. ”Lemasnya memang masih terasa.” Aku memaksa memasang senyum tipis untuk menghilangkan kekhawatiran sahabat-sahabatku. Dan memutuskan untuk lekas pulang alih-alih menghabiskan sisa musim panas di rumah James.
Tidak ingin berbagi kesenangan James yang diangkat sebagai Head Boy. Tidak ingin mendengar rencana-rencana kecil James untuk mendekati Lily. Tidak ingin terus-menerus memasang senyum sendu palsu di depan sahabatku.

***


End of Summer 1979


It’s a bad luck if the groom sees the bride before the wedding. Unfortunately, I’m not the groom. Aku memilih untuk menemui Lily sebelum menemui James yang saat ini pasti sedang ditemani Sirius dan Peter. Aku menemukannya di salah satu kamar tamu di rumah Potter. Ia mengenakan gaun putih panjang yang membuat rambut merahnya tampak mencolok namun membuatnya lebih apik. Rambut itu digelung tinggi. Kulihat tangan Lily menjangkau gelungan itu, mencoba menyematkan tudung tipis itu. ”Biar kubantu.” Dari sebelahnya aku mengambil tudung itu. ”Yang lain ke mana?”

”Ah, Remus! Aku tidak tahu kau di sana.” Lily tersenyum dan menyodorkan gelungan rambutnya agar aku bisa membantunya.”Mommy dan Ibu James sibuk menerima tamu. Dan Petunia, ah, kau tahu Petunia dia tidak akan mau terlibat apapun dengan dunia sihir.”

Aku hanya menggumam mendengarkannya dan sibuk melingkarkan tudung ke gelungan rambutnya dan menyematkan hiasan rangkaian bunga untuk menahannya. ”Done,” ujarku. Wajah Lily bangkit dan aku menyibak tudung itu. Wajah dan senyum Lily yang selalu sama. Wajah dan senyum yang selalu bisa membuatku merasa teduh.

”So, what am i look like?” tanya Lily sambil berputar memeragakan gaunnya.

“Beautiful,” ujarku jujur.

“Jadi, kapan Remus kami akan menyusul? Sudah menemukan gadis yang tepat?”

Ingin rasanya aku mengangguk dan berkata kalau gadis itu ada di hadapanku sekarang. Tapi jelas tidak mungkin. Lily pantas menerima lebih. ”Memangnya ada yang suka dengan manusia setengah serigala miskin seperti aku?” Ya, Lily telah mengetahui keadaanku saat kami semua bergabung dengan Orde Phoenix.

Lily berbalik dan menggengam tanganku.”Tentu saja ada. I like you.” Aku tahu itu hanya ucapan antarteman biasa.”Gadis bodoh mana yang menolak pria hebat, superbaik, dan lembut sepertimu?” Ah, mata itu. Mata hijau yang membuatku kelu dan aku hanya bisa tersenyum setuju. Walau ada gadis lain, hanya kau yang aku inginkan, Lily.

Karena engkau, kau yang mampu melihat keindahan orang lain walaupun orang itu tidak bisa melihat keindahannya sendiri. Karena engkau, kau yang mampu melihat keindahan dalam pria berpakaian lusuh tak berarti dan telah menunjukkan keindahan itu padaku. Karena engkau, kau yang mampu membuatku merasa berharga dan berharap untuk dapat memiliki kasihmu.

Memangnya kau siapa? Kau itu Werewolf! Kau hanya makhluk kelas dua! Tidak pantas kalau kau mendambakannya. Jelas James lebih pantas untuknya. Salah satu sisi diriku meneriakiku.

Aku tahu itu. Tapi tetap saja, salahkah bila aku tetap menyimpan perasaan ini dan terus mendambanya. Walaupun dadaku harus terhimpit nantinya tiap kali aku menemui mereka berdua. Terhimpit cemburu dan rasa bersalah pada James karena turut mencintai wanita yang sama. Wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi miliknya. Aku memilih untuk tidak merusak persahabatanku.

Lily yang kembali mematut diri di depan cermin mulai menceritakan rencana kehidupan pernikahannya dengan James. Dada ini tertekan begitu keras hingga sepertinya jantungku meloncat ke tenggorokan dan membuatku tercekat. Perasaanku campur aduk antara sakit karena wanita yang aku cintai memilih sahabatku dan bersalah karena tidak turut bergembira dalam kegembiraan mereka. Rasa itu terus menekan ke atas hingga seakan memerah kantung di kedua ujung dalam mataku. Memaksa mengalirkan air mata pedih.


If I were a teardrop
I want to be born from your eyes
Caressing your cheeks
And dieing on the tip your lips

But if you are my tears
I will never cry
Because I don’t want to lose you
Both of you


Tidak ada air mata. Hanya sunggingan senyum sendu.


-Finite-


FanFic ini juga ada di IH.
Huge thanks to:
- Agung yang ngirimin sms yang manis banget dan sudah saia gubah sedikit
- Miyu, Mida, Sha, Lian, Inta, Ayu, dan semua orang yang saia ganggu waktunya untuk bantu-bantu cari judul

Minggu, Oktober 12, 2008

It's about lying




You Are a Great Liar



You can pretty much pull anything over on anyone.

You are an expert liar, even if you don't lie very often.



No comment deh... --"






You Can Definitely Spot a Liar



Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars.

Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector.



Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood?

And the most important question is, am I really a great liar?

Sabtu, Oktober 11, 2008

Mas Yayan's Baby

Beberapa hari yang lalu ada saudara yang main ke rumah. Mas Yayan, namanya. Mas Yayan bawa anaknya yang masih satu tahun. Bagas namanya. Lucu banget. And somehow, i want a baby.

I want to have a baby.

A baby of my own.

Jumat, Oktober 10, 2008

Ripiu Gath 031008

Ceritanya nih, Manda yang urang Bandung itu mudik ke rumah neneknya yang ada di Surabaya. Berhubung dt yang lagi pulang di Sidoarjo ini ga jauh-jauh amat sama Surabaya, jadilah kita ngerencanain gathering kecil-kecilan. Setiap anak HPI dan anak IH yang ada di Surabaya dihubungi (halah lebay! wong cuma nelpon si Cheeta ama Lissa doang). Rencananya sih, Ummi yang juga mudik ke Surabaya juga diajakin, tapi ternyata pas hari H, Ummi sudah balik ke Malang. Dan Lissa yang niatnya mau ikutan ternyata masih di kampung halamnnya (di mana ya… Lamongan kalo ga salah). Jadilah cuma Cheeta yang nemuin. Bertiga dong? Ya engga dong, kita bawa pasukan juga. Manda ngeborong adek-adek dan sepupunya, Inka, Adam, plus Icha. Nah, dt juga bawa adek plus Fita dan Kiki. Cuma si Cheeta yang single fighter.

Nah, kita semua ngumpul dulu di McD soalnya ini meeting point yang paling gampang. Selain itu, kita juga sekalian makan siang dulu sebelum nonton. Setelah perut terisi dan ga rewel lagi dan Cheeta akhirnya datang (telat nih...), kita naik ke lantai empat di Delta Plasa. Tempat cinema berada. Di studio dua, kita bersembilan nonton pilem yang paling ditunggu abad ini (lebay lagi...) Laskar Pelangi.

Itu film bagus! Sumpah! Walaupun banyak yang sama dengan buku, tapi tetep aja bagus. Dan menurut dt antara pilem dan buku seharusnya berdiri sendiri-sendiri karena emang sama bagusnya (walaupun, sekali lagi, ga sama dengan bukunya =.=”). Padahal dt menantikan perdebatan Lintang sama Pak Mahmud tapi yang ada malah pak Mahmud ngedukung Lintang ngelawan juri. Adegan Ikal-Kapur-A Ling itu juga beda... seharusnya kan mereka berdua sampe bersemuka. Tapi jadinya malah adegan Ikal nangkep kotak kapur dengan sok keren sambil ngintip mukanya A Ling. Tapi boleh juga tuh... wkwkwk... Bling-bling sama bunga Seroja yang muncul waktu kukunya A Ling muncul juga lucu. Ah, terus pas Mahar nyanyi Seroja juga konyol abis. Endingnya mengharukan... si Manda aja sampe mbribis mili (sesenggukan – pen.), si Cheeta malah sampe nangis-nangis.


Selesai nonton, kita duduk dulu di kursi di pujasera dan ngobrol dan poto-poto dikit. Gath berakhir waktu mama dt nelpon nyuruh pulang. Oia, di akhir gath, si Adam ngilang, tapi untungnya udah ketemu XD.


th Surabaya 031008

Kamis, Oktober 02, 2008

Sindroma Pasca Lebaran

Sebelumnya, dt mengucapkan mohon maaf lahir dan batin bagi siapapun yang pernah dt sakiti baik yang tidak sengaja ataupun yang dt sengaja.

Oke, Aidil Fitri a.k.a. Lebaran. Sebuah salah satu hari raya umat Muslim yang dirayakan setelah satu bulan berpuasa Ramadhan. Nah, sekarang apa aja sih yang jadi khasnya lebaran? Ketupat. Opor ayam. Sungkeman. Kumpul-kumpul keluarga. Mudik. Well, semua bener, dan dt perlu garis bawahi yang terakhir itu. Mudik. Kegiatan lebaran khas Indonesia. Semua orang berbondong-bondong kembali ke kampung halaman di hari spesial itu. Semuanya dikorbanin biar bisa mudik. Jual kalung emas sampe pinjem duit tetangga biar bisa bawa oleh-oleh buat orang di kampung. Mau naik sepada motor sambil bawa barang berlebih, mau naik mobil dengan resiko antre berjam-jam, naik kereta api yang umpel-umpelan, atau naik pesawat dengan tiket yang harganya naudzubillah, semua dijabanin. Termasuk sama maid di rumah dt. Mbak Mar.


Adalah sebuah keharusan untuk pulang dan libur sejenak di kampung halaman bagi mbak Mar. Dan kami-kami ini ditinggal sama elemen paling penting dalam kehidupan rumah tangga ini. Jadilah, Mama, Papa, Adek, Akung, dan dt harus bagi-bagi tugas yang biasanya semua dikerjain sama mbak Mar. Dan kami langsung memilih pekerjaan spesialisasi masing-masing.


Mama langsung ambil tanggung jawab menyetrika dan ngepel. Papa yang ahli nyuci, jelas ambil tugas nyuci baju plus cuci mobil. Kalo adek mau punya tugas ngelap-ngelap, ngerapihin tempat tidur, dan ga bikin rumah jadi berantakan.
And me? Well, dt takes the rest. Cuci piring, ngejemur baju dan ngangkat jemuran, nyapu, and those annoying little task such as make sure everything in place and do anything they told me to. Yah, intinya dt jadi House Elf. Dan akung? Er… he does the smoking and grumbling.