Kamis, Oktober 16, 2008

[FanFiction] Unrequited Love


Disclaimer:
Tante JK Rowling untuk segala hal yang telah Anda cipatakan dan yang saia bawa-bawa kemari. Well, kecuali ide cerita...



Unrequited Love



”At the first time I saw you, Harry, I recognize you immediately.

“Not by your scar. By your eyes.

“Their your mother’s, Lily’s.

“Yes, oh yes, I knew her.”

***


End of Summer 1975


Mataku membelalak seakan-akan kedua bola di dalamnya ingin ikut meloncat keluar. Tidak percaya melihat satu benda yang baru saja berdenting jatuh dari dalam amplop yang biasa aku terima tiap tahun.
Benda berkilauan itu berdenting saat beradu dengan lantai. Lencana Prefek. Tanganku menyentuhi logam berkilau dengan huruf P besar itu. Dingin. Sepertinya burung hantu ini salah mengirimkan surat. Tidak mungkin orang seperti aku bisa mendapat kehormatan untuk menjadi Prefek.

Aku harus bicara pada Profesor Dumbledore tentang kesalahpahaman ini. Paling tidak, pada Profesor McGonagall.

Namun lekas aku mengurungkan rencanaku dan memilih untuk menerima tanggung jawab sebagai Prefek begitu tahu siapa partner kerjaku. Gadis itu. Gadis berambut merah dengan pipi yang selalu bersemu itu. Gadis yang senyumnya tak pernah lekang. Gadis dengan mata hijau tenang yang mampu membuai dan membuatku lupa siapa sebenarnya aku ini. Gadis itu, Lily Evans.

Dialah satu-satunya orang yang mau menolongku saat orang lain tidak. Bahkan dialah orang pertama yang menyadari absennya diriku pada hari-hari tertentu. Dia, Lily Evans-lah yang selalu membantuku. Bahkan sebelum aku menjadi bagian dari the Marauders.

Aku ingat saat purnama pertamaku di Hogwarts. Untung saja Dumbledore telah menyiapkan satu tempat khusus untukku. Sebuah rumah kecil --well, gubuk, lebih tepatnya-- yang tidak jauh dari Hogwarts. Bahkan Dumbledore menanamkan sebuah pohon gila yang saat menanamkannya saja sudah membuat Madam Pomfrey kalang kabut. Good man Dumbledore. Namun tetap saja proses itu menyakitkan. Membuat diriku sendiri malu atas keadaan ini. Membuatku merasa berbeda dari yang lain. Membuatku minder dan memilih untuk tidak dekat dengan siapapun. Tiga hari berturut-turut aku tidak berani melangkahkan kakiku keluar dari gubuk kecil itu.

”Ke mana saja kau beberapa hari ini?” Pertanyaan yang Lily ajukan saat memindahkan pupuk kotoran naga dalam pelajaran Herbologi esoknya mengejutkanku dan membuatku gelagapan mencari alasan.

“A-aku sakit.”

“Tapi aku tidak melihatmu di Hospital Wing.” Mata itu menatapi wajahku menyelidik. Namun aku juga merasakan sedikit perhatian di sana dan membuat kulit pucatku ini sedikit bersemu dan kelihatan lebih hidup.

“Er… aku dirawat di tempat lain.”


Purnama kedua, purnama ketiga, aku masih tidak berani keluar dari gubuk yang mulai dijuluki penduduk setempat dengan sebutan Shrieking Shack itu. Dan Lily Evans terus saja mempertanyakan kehilanganku itu. Padahal yang lain tidak peduli apakah aku ada atau tidak. Dan yang lain memilih untuk menganggapku tidak ada. Maka itu aku putuskan untuk purnama berikutnya aku hanya menghabiskan malam di gubuk itu dan kembali ke Hogwarts paginya. Tidak peduli betapa lemah, malu, dan merasa rendahnya aku. Untuk menghindari serangan menyelidik Lily dan yang lebih penting lagi, agar nada kecemasan tidak keluar dari bibir tipis itu.


”Remus... hei, Remus,”
ujar Lily sambil menyentuh pundakku, membuyarkan ingatan kecilku. ”Sebaiknya kita patroli sekarang.” Aku hanya mengangguk dan tersenyum sendu. Mengikuti gadis berambut merah itu memeriksa lorong-lorong gerbong Hogwarts Ekspress.

Wahai Dumbledore, semoga lencana ini bukan salah alamat. Kalaupun lencana ini adalah kesalahpahaman, kumohon agar kau tidak mengambilnya dariku. Karena lencana ini adalah alasanku agar dapat lebih sering bersamanya. Amin.

***


End of Summer 1977


Tidak biasa-biasanya James mengundang untuk menghabiskan sisa musim panas di rumahnya. Dalihnya adalah ia punya pengumuman terpenting abad ini. Kini adalah awal Agustus, itu artinya masih ada sekitar empat minggu yang akan dihabiskan di rumah James yang entah berapa kali besarnya bila dibandingkan dengan rumahku. Dan kini, kami berempat, di atas tempat tidur James, asik memperhatikan pembantaian catur sihir Peter oleh Sirius sampai James memutuskan untuk menyampaikan berita penting.

“Ehem… ehem. Okay, aku tidak ingin kalian tahu dari yang lain,” ujar James sok penting sambil menyengir lebar.

“Demi kolor Merlin! Apa yang begitu penting sampai kau mencegah Ratu-ku menggorok Kuda Peter?”
Komentar Sirius membuatku tertawa kecil, sedangkan Peter masih pusing sendiri melihat bidaknya yang tinggal segelintir.

“Okay, okay. Sabar sedikit kenapa. Jadi pengumuman pentingnya adalah,” James meloncat berdiri di atas tempat tidur dan berkacak pinggang, “kalian sedang melihat Head Boy tahun ini!”

“Whoa! You what?!” Sirius ikut meloncat di atas tempat tidur memberi selamat pada James, diikuti olehku dan Peter yang sepertinya separuh konsentrasinya masih pada bidak-bidak caturnya yang terus menyumpahinya karena ia tidak pandai bermain.

“Dan coba tebak siapa Head Girl-nya,” tambah James saat kami sudah duduk lagi, “Lily Evans!”

DEG!

Jantungku terasa berhenti. Membuatku otak kekurangan oksigen. Dan bereaksi dengan menolak untuk percaya kalimat terakhir James. No way. No way! NO WAY! Bukan rahasia lagi bagi kami kalau James menyukai Lily. Bukan rahasia lagi bagi kami kalau James selalu bertindak bodoh untuk menarik perhatian Lily. Dan juga bukan rahasia lagi bagi kami kalau setahun terakhir ini James mengubah strateginya. Ia mencoba menjadi anak baik.

Padahal akhir kelas enam lalu aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Prefek.
Mengapa? Karena sepertinya Evans mulai curiga dengan hilangnya diriku secara konstan di malam-malam patroli. Itu adalah alasan tak berdasar untuk Dumbledore. Karena Lily sudah terlalu sering marah padaku karena aku terlalu sering absen dari patroli malam dan menganggap bahwa aku lebih memilih bermain-main dengan tiga sahabatku daripada tanggung jawabku sebagai Prefek, dan sudah lelah dengan kemarahan Lily? Itu adalah alasan bohong untuk James, Sirius, dan Peter. Karena aku lelah ditempeli dan digunakan James sebagai alasan agar ia bisa berdekatan dengan Lily dan karena rasa sakit yang menyayat pedih di dadaku setiap kali melihat mereka bercanda berdua dan aku seakan sedang memakai Invisibility Cloak milik James? Itu adalah alasan sebenarnya yang aku pendam sendiri.

”Moony, wajahmu pucat sekali,” ucap Peter yang sudah menyerah dengan catur sihirnya dan memilih untuk memperhatikan air mukaku. Membuat yang lain ikut memperhatikan.

”Bukannya purnama sudah lewat dua hari lalu?” tanya James, masih menelisik wajahku yang pasti suram kini.

”Purnama kali ini kuat sekali,” ujarku beralasan. ”Lemasnya memang masih terasa.” Aku memaksa memasang senyum tipis untuk menghilangkan kekhawatiran sahabat-sahabatku. Dan memutuskan untuk lekas pulang alih-alih menghabiskan sisa musim panas di rumah James.
Tidak ingin berbagi kesenangan James yang diangkat sebagai Head Boy. Tidak ingin mendengar rencana-rencana kecil James untuk mendekati Lily. Tidak ingin terus-menerus memasang senyum sendu palsu di depan sahabatku.

***


End of Summer 1979


It’s a bad luck if the groom sees the bride before the wedding. Unfortunately, I’m not the groom. Aku memilih untuk menemui Lily sebelum menemui James yang saat ini pasti sedang ditemani Sirius dan Peter. Aku menemukannya di salah satu kamar tamu di rumah Potter. Ia mengenakan gaun putih panjang yang membuat rambut merahnya tampak mencolok namun membuatnya lebih apik. Rambut itu digelung tinggi. Kulihat tangan Lily menjangkau gelungan itu, mencoba menyematkan tudung tipis itu. ”Biar kubantu.” Dari sebelahnya aku mengambil tudung itu. ”Yang lain ke mana?”

”Ah, Remus! Aku tidak tahu kau di sana.” Lily tersenyum dan menyodorkan gelungan rambutnya agar aku bisa membantunya.”Mommy dan Ibu James sibuk menerima tamu. Dan Petunia, ah, kau tahu Petunia dia tidak akan mau terlibat apapun dengan dunia sihir.”

Aku hanya menggumam mendengarkannya dan sibuk melingkarkan tudung ke gelungan rambutnya dan menyematkan hiasan rangkaian bunga untuk menahannya. ”Done,” ujarku. Wajah Lily bangkit dan aku menyibak tudung itu. Wajah dan senyum Lily yang selalu sama. Wajah dan senyum yang selalu bisa membuatku merasa teduh.

”So, what am i look like?” tanya Lily sambil berputar memeragakan gaunnya.

“Beautiful,” ujarku jujur.

“Jadi, kapan Remus kami akan menyusul? Sudah menemukan gadis yang tepat?”

Ingin rasanya aku mengangguk dan berkata kalau gadis itu ada di hadapanku sekarang. Tapi jelas tidak mungkin. Lily pantas menerima lebih. ”Memangnya ada yang suka dengan manusia setengah serigala miskin seperti aku?” Ya, Lily telah mengetahui keadaanku saat kami semua bergabung dengan Orde Phoenix.

Lily berbalik dan menggengam tanganku.”Tentu saja ada. I like you.” Aku tahu itu hanya ucapan antarteman biasa.”Gadis bodoh mana yang menolak pria hebat, superbaik, dan lembut sepertimu?” Ah, mata itu. Mata hijau yang membuatku kelu dan aku hanya bisa tersenyum setuju. Walau ada gadis lain, hanya kau yang aku inginkan, Lily.

Karena engkau, kau yang mampu melihat keindahan orang lain walaupun orang itu tidak bisa melihat keindahannya sendiri. Karena engkau, kau yang mampu melihat keindahan dalam pria berpakaian lusuh tak berarti dan telah menunjukkan keindahan itu padaku. Karena engkau, kau yang mampu membuatku merasa berharga dan berharap untuk dapat memiliki kasihmu.

Memangnya kau siapa? Kau itu Werewolf! Kau hanya makhluk kelas dua! Tidak pantas kalau kau mendambakannya. Jelas James lebih pantas untuknya. Salah satu sisi diriku meneriakiku.

Aku tahu itu. Tapi tetap saja, salahkah bila aku tetap menyimpan perasaan ini dan terus mendambanya. Walaupun dadaku harus terhimpit nantinya tiap kali aku menemui mereka berdua. Terhimpit cemburu dan rasa bersalah pada James karena turut mencintai wanita yang sama. Wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi miliknya. Aku memilih untuk tidak merusak persahabatanku.

Lily yang kembali mematut diri di depan cermin mulai menceritakan rencana kehidupan pernikahannya dengan James. Dada ini tertekan begitu keras hingga sepertinya jantungku meloncat ke tenggorokan dan membuatku tercekat. Perasaanku campur aduk antara sakit karena wanita yang aku cintai memilih sahabatku dan bersalah karena tidak turut bergembira dalam kegembiraan mereka. Rasa itu terus menekan ke atas hingga seakan memerah kantung di kedua ujung dalam mataku. Memaksa mengalirkan air mata pedih.


If I were a teardrop
I want to be born from your eyes
Caressing your cheeks
And dieing on the tip your lips

But if you are my tears
I will never cry
Because I don’t want to lose you
Both of you


Tidak ada air mata. Hanya sunggingan senyum sendu.


-Finite-


FanFic ini juga ada di IH.
Huge thanks to:
- Agung yang ngirimin sms yang manis banget dan sudah saia gubah sedikit
- Miyu, Mida, Sha, Lian, Inta, Ayu, dan semua orang yang saia ganggu waktunya untuk bantu-bantu cari judul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar