Sabtu, November 08, 2008

The New F Word

Sebuah respon terhadap entri seorang teman pada 071008.


Kalau kalian suka nonton the Oprah Show, kalian pasti tahu apa itu the new F word. Forgive. Sebenarnya pembicaraan ini sudah lama dibahas di acara talk show itu. Jadi, mohon maaf sebelumnya kalau ternyata tidak semenggugah saat dt nonton acaranya secara langsung.

Saat seseorang menyakiti kita, sengaja atau tidak, hal berikutnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Melupakan? Mengingat? Memaafkan? Walau dengan mudah kita menentukan yang mana, terkadang saat melaksanakannya tidak semudah keinginan kita.

Sebagai orang timur, kita —mending jangan pake kata kita, deh— dt diajari untuk selalu bersikap legowo, berlapang dada. Memaafkan setiap kesalahan bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf. Sulit, kah? Sangat sulit awalnya. Kenapa dt harus memberi maaf sementara orang itu belum mau meminta maaf? Butuh waktu dan latihan untuk dapat dengan mudah memaafkan orang lain dan dengan ringan memaafkan saat orang lain menyakitimu.

Menurut dt, memaafkan adalah sebuah kondisi di mana saat dirimu, paling tidak, dapat merasa plain —tawar— saat mengingat sebuah kenangan yang menyakitkan. Tidak lagi merasa sakit, pedih, atau terluka. Memaafkan sendiri punya berbagai bentuk.

Umumnya orang-orang mengartikan memaafkan dengan melupakan sebuah kejadian dan bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa. Melepaskan rasa sakit dan membiarkannya terhapus bersama waktu.
Itu yang biasanya kita lakukan. Tapi hati-hati, apa kita sudah benar-benar melupakannya? Menghapusnya? Atau ternyata kita hanya menumpuk semua kenangan kecil itu di sudut gudang memori yang paling dalam? Karena saat tiba-tiba kenangan itu muncul kembali dan kau masih merasa sakit, itu tanda bahwa kau belum benar-benar memaafkan. Hanya berpura-pura —dt ulang, pura-pura— melenyapkannya.

Bentuk yang lain dari memaafkan adalah justru memigura dan menghias kenangan pahit itu. Memajangnya sebagai pajangan, trofi, atau sekadar pengingat. Dan tiap kali mengenangnya, kau akan tertawa kecil (bukan ketawa hampa, lo). Ini adalah tahap memaafkan yang menurut dt paling susah. Hanya orang yang memiliki kebijakan tingkat tinggi untuk bisa melihat keindahan dari hal yang paling menyakitkan.

Memaafkan namun tetap mengingat kejadian pahit itu lalu berusaha terus menjalani hidup dengan segala perubahan yang terjadi karena rasa sakit yang sudah muncul, itu juga termasuk salah satu bentuk memaafkan, kok.

Layaknya jerawat, begitu pula dengan menyakiti orang lain.
Menyakitkan. Menyebalkan. Beberapa meninggalkan bekas. Beberapa lenyap begitu saja.

Tiba-tiba muncul jerawat di dahimu. Apa yang kau lakukan?
> Dioperasi?
> Dipencet?
> Diolesi obat jerawat?
> Dibiarkan saja?

Ternyata jerawat itu meninggalkan bekas. Apa yang kau lakukan?
> Mendekam di kamar agar tidak ada orang lain yang tahu?
> Tutupi dengan make up?
> Olesi dengan obat penghilang noda jerawat?
> Dibiarkan saja (lagi)?

Apapun itu kau harus hidup dengan noda itu. Coba lihat lagi wajahmu sekarang dengan sebuah noda kecil di dahi. It is not that bad, right? Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perasaanmu saat melihat kembali kejadian itu. Biasa sajakah? Masih sakitkah? Kalau masih sakit, itu artinya kau belum benar-benar memaafkan.

Kau tahu, saat kita tidak memaafkan seseorang, sebenarnya itu adalah tanda bahwa kita membiarkan orang itu terus-menerus menyakiti kita. Coba lihat, bagaimana keadaan orang yang menyakitimu sekarang. Biasa sajakah? Dan dirimu masih terus saja kesakitan? Itu namanya tidak adil. Kalau dia bisa berjalan dan melanjutkan hidup dengan tenang, kamu pun harusnya demikian. Atau dia juga kesakitan? Well, dt sarankan, sembuhkan luka kalian bersama. Sakit itu ga enak.

Jadi bagaimana agar kita bisa memaafkan orang lain? Singkatnya sih, be objective. Seperti kata pepatah lama, ’tidak ada asap kalau tidak ada api’. Saat seseorang menyakitimu, coba keluar dari situasi itu dan melihatnya sebagai orang lain. Coba cari tahu apakah ada tindakan ’aku’ yang memicu orang itu sampai bertindak menyakiti? Tanyakan mengapa sampai orang itu menyakiti ’aku’. Kalau memang tidak ada kesalahan dari ’aku’, coba pahami kondisi orang itu. Sedang banyak masalahkah? Sedang PMS-kah? Sedang butuh perhatiankah? Kalau memang iya, coba maklumi.
Karena orang itu sedang berada dalam kondisi yang jauh lebih labil dari ’aku’.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar