Rabu, Desember 10, 2008

X9 Tales (day 15)

Hujan di luar masih deras. Bahkan jalan turunan depan rumah nyaris nampak seperti sungai kecil karena terlalu banyaknya jumlah air yang ditumpahkan hujan. Langit di luar berwarna kelabu rata. Nampak seperti tak berawan. Padahal seluruh langit di selimuti mendung merata. Intensitas hujan dari tadi tidak berubah. Begitu stabil sampai-sampai dt merasa kalau hujan kali ini tak akan berakhir.

Anak-anak sudah asik bergumul dengan selimut masing-masing. Sedang dt hanya bersenjata jaket angkatan untuk melawan dingin gara-gara dengan semena-mena selimut dt dijajah mamih Mentul. Oia, dt belum cerita ya kalau dt punya tiga emak di sini. Mbak Silfi, sang ibu. Ilmi, sang ibu tiri. Mentul, mamih angkat dt. Sekarang Mentul malah ngejajah handbody dt padahal dia seharian belum mandi. Diiringi lagu-lagu hujan yang slow dan membuai, kami bahas kebutuhan dana untuk acara besar hari Minggu nanti. Dan sesekali melenceng untuk ketawa-ketiwi tentang Bang Ipin.

Bang Ipin itu ketua karang taruna dusun Kuso. Lebih tinggi sedikit dari dt, kulitnya putih, tampangnya manis. Yaiyalah manis, secara temen-temennya yang lain pada sepet-sepet. Kalau mau dianalogiin, layaknya gula jawa di antara micin. Tapi Bang Ipin itu berondong. Satu angkatan di bawah kita-kita. Lumayan banyak lo yang kecantol sama Bang Ipin. Mbak Silfi, Mentul, Dina, Popo, dan masih ada sederet temen yang penasaran soalnya belum pernah ketemu Bang Ipin.

Sudah dua hari ini bahan bercandaan dan gojlokan terus-terusan tentang Bang Ipin, Mentul, Mbak Silfi, dan bang pilot (gebetan barunya Mbak Silfi).

Ah, hujan di luar akhirnya mulai reda juga. Walau sepertinya semua masih asik menyibukkan diri dengan menghangatkan tubuh dengan menyesapi teh atau susu hangat yang baru diseduh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar