Kamis, Desember 31, 2009

A Lil Inconvenience on the Way Back Home

Oke, jadi dt janji nyeritain tumpukan duka-duka kecil yang menyebalkan di akhir perjalanan liburan natal dt yang menyangkut komplain ke beberapa pihak yang dt urung tulis di status FB karena khawatir entar berujung kek Prita Mulyasari atau Luna Maya *rofl*. Tapi akhirnya dt jabarin juga dt blog. Wkwkwk. Jangan khawatir, bakal dt tulis sehalus mungkin dan berusaha untuk hanya menjabarkan fakta yang ada (tapi bo’ong :p).

Diawali dengan kelelahan yang memuncak setelah muter-muter Muzium Negara yang isinya harusnya tentang sejarah Malaysia tapi menurut dt lebih pantas disebut dengan sejarah Malaka dan kaum Melayu karena juga masih banyak sangkut-pautnya dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, yang dilanjutkan dengan naik teksi ke train stesen (itu ejaan Malaysia lo :p). Nah, di sana ada express train yang mengantarkan kita langsung dari KL center ke KLIA. The fastest and greenest way to KLIA. Dan paling mahal juga tentunya. Kalo naik bus, cuma butuh 8 ringgit perorang, kalo naik itu kereta habis 35 ringgit perorang. Empat kali lipat lebih bo! Cepet sih. Nyaman sih. Tapi mahal. Tapi berhubung cuma sekali-sekali, dijabanin deh, biar tahu rasanya gitu, hehe. Nyampe di KLIA, kita nyari counter Air Asia (pertama kalinya nyobain naik maskapai ini nih) yang ternyata ga ada. Nah lo! Tanya sana-sini, ternyata seluruh penerbangan Air Asia itu ada di LCCT. Ngek! LCCT itu semacam terminal anak kalau KLIA adalah terminal induknya. Jadi, dari KLIA kita naik bus 2 ringgit –yang dt kirain gratis– ke LCCT. Check in, masuk imigrasi, lirik jam, masih ada dua jam lagi sebelum pesawat boarding yang langsung dt isi dengan ngubek-ubek book store di airport.

Buku-bukunya standar kek yang ada di book store lain di airport. Buku-buku baru karangan Stephenie Meyer dan Dan Brown masih merajai, didampingi novel-novel sepanjang masa punya Agatha Christie, Sidney Sheldon, dekaka. Walau sayangnya dt ga bisa nemuin buku-buku Katie MacCallister, dt nemuin satu buku yang sepertinya menarik yang berjudul Beyond Black (dt lupa siapa pengarangnya). Di rak cuma tinggal satu. Cacat pula. dt tanya ke yang jual siapa tahu masih tersimpan eksemplar yang masih sempurna entah di mana. Tapi ternyata kata penjualnya cuma tinggal yang ada di rak. Ragu mau dt beli. Cacat. Sampul cuil, ujung buku melengkung, halaman-halaman terlipat, belum lagi harganya yang dua kali lipat lebih dari harga novel normal kalau dikurskan ke rupiah. Dan dengan berat hati dt melangkah keluar dari toko buku dengan tangan hampa.

Diem-dieman nunggu pesawat dengan buku sudoku di tangan, dt yang lupa bawa jaket mulai kedinginan diterpa AC airport. 19.40 – oke, lima menit lagi. 19.50 – lah kok belum ada panggilan boarding. 20.10 – sebuah pengumuman menyatakan bahwa pesawat Air Asia yang harusnya dt tumpangi mengalami kelewatan (bahasa Malay-nya delayed tuh). Ngek! Dan ditengarai pesawat akan berangkat pada pukul 21.45. Dobel ngek! Walah, udah kedinginan, kelaperan, nganggur pula. Dan langsung direspon mama dengan kalimat singkat, ”Ini terakhir kalinya naik Air Asia.” Jiahaha. Duh, yang biasa punya bargaining position tinggi.

Setelah menunggu pesawat sambil ditemani teh hijau panas yang ga hijau dan mahal (yaiyalah, beli minum di airport gitu...), naik juga kita ke pesawat dan langsung memejamkan mata saking lelahnya dan menidakpedulikan jualan makanannya kru pesawat. Oia, kalo di Air Asia kita ga dapet makan-minum, tapi kita dikasih menu ala carte biar bisa milih makanan untuk dibeli di atas pesawat. Tapi kalo kalian duduk di bangku dengan nomor-nomor akhir, jangan harap punya banyak pilihan makanan atau minuman karena udah tinggal yang tersisa aja.

Penerbangan diakhiri dengan teknik landing yang ga begitu mulus (yang sebenernya dt suka karena exciting, tapi buat banyak orang hal ini menakutkan) dan berlanjut dengan berjalan ke imigrasi. Dengan muka lencu dan setengah sadar karena lelah dan mata masih berat karena belum tuntas tidur di pesawat dt berjalan gontai melewati imigrasi. Ga heran, jam udah nunjukin setengah dua belas lebih waktu Surabaya. Pas ngantri di imigrasi, ada aja orang yang seenaknya nempel di belakang dt sambil ngawe-awe temennya biar ikutan motong antrean. Langsung aja papa ngejawil dan nyuruh itu mbak-mbak ambil antrean yang bener.

Lepas dari imigrasi tinggal melewati bea cukai untuk bisa keluar dari airport. Dan berhubung dt ga bawa bagasi atau barang yang butuh persetujuan bea cukai, nyelononglah dt ninggalin adek, mama, n papa di belakang buat masukin backpack sekolahan dt ke mesin pemindai yang langsung dihadang petugas laki-laki dengan pertanyaan ketus ”Kertasnya mana?” Yang dimaksud adalah kertas pernyataan deklarasi yang ada hubungannya sama bea cukai. ”Ada di ayah,” dt jawab pendek aja sambil nunjuk Papa yang lari-lari kecil di belakang dt. Pas masukin backpack sekolahan dt ke pemindai, dt dapet satu pertanyaan lagi dengan nada yang sangat judgmental, ”Mana bagasinya?” ”Ga ada.” Heran deh, emang orang dodol mana sih yang bakal ninggalin dan melupakan bagasinya gitu aja di airport? Kalo niatnya mau ngingetin, ya mbok pake nada halus dengan intensi mengingatkan. Bukannya pake nada tinggi yang langsung menghakimi bahwa kita salah kalo ga ngebawa bagasi saat mau melewati mesin pemindai.

Dalam keadaan setengah linglung dan setengah kesal dt melewati area pemindai. Baru selangkah lepas dari sana, dt diteriakin, ”Heh! Heh! Ke sana dulu! Lewat sana!” dt dan adek yang setengah ngantuk malah diem aja ga bereaksi sementara mama yang juga diusir-usir untuk melewati jalan memutar yang lebih jauh langsung merespon dengan nada yang ga kalah tinggi, ”Ngapain, pak?” Si petugas tetep kekeuh untuk nyuruh kita ke petugas lain yang ada di ujung jalan dan bilang kalo kita kudu nunjukin paspor. Weh, buat apa? Bukannya tadi udah dicek pas diimigrasi? gitu dalam pikiran dt. Sementara si petugas masih dengan nada tinggi dan kesal, lengkap dengan jari telunjuk yang nuding-nuding, kekeuh maksa dt, adek, dan mama untuk jalan memutar untuk keluar, sedangkan papa dibiarkan melenggang keluar begitu aja. What the...

Mama yang juga kesel sama si petugas langsung narik dt dan adek buat ngikutin papa sambil bilang, ”memangnya TKW, keluarga, pak!” ke si petugas yang nyuruh-nyuruh tadi. Si petugas yang tadinya pasang tampang garang dan sebel mampus langsung diem plus salting. dt jadi heran sendiri dengan fenomena itu. Setelah nanya ini itu sama mama, dt menyimpulkan bahwa dt baru saja melihat sebuah fenomena diskriminasi.

Pengecekan paspor ulang yang diminta petugas nyebelin tadi ditujukan untuk para TKW yang umumnya jadi pembantu di negeri Jiran. Entah apa alasannya, atau memang prosedurnya seperti itu. Sementara, Air Asia adalah salah satu maskapai yang menyediakan penerbangan dengan harga sangat terjangkau yang biasanya jadi pilihan TKW untuk dijadikan penyedia transportasi mereka. Jadi mungkin, para petugas berasumsi bahwa setiap wanita yang cukup umur, bertampang pribumi, tidak berpakaian mewah, dan naik Air Asia adalah seorang pembantu di negeri Jiran yang harus melewati pengecekan paspor ulang, tanpa harus dt mengerti apa alasannya.

Kalau memang itu ketentuannya, seharusnya petugas bisa bersikap menghormati para pahlawan devisa kita (atau siapapun pengguna jasa mereka), bukannya merendahkannya dengan bersikap kasar seakan-akan mereka ga punya hak untuk dihormati hanya karena predikat pekerjaan mereka yang sebagai pembantu rumah tangga.

Additional note: nama-nama petugas sengaja ga dt sebutin karena saat itu dt ga terlalu awas untuk memperhatikan dan mengingat nama yang tertulis kecil-kecil di name tag :p

Rabu, Desember 30, 2009

Christmast on Malay

Jadi, selama liburan natal dt pelesiran ke Malaysia. Gimana suasana natal di Malay? Ga berasa. Yaiyalah, secara Malaysia adalah salah satu negara yang kental banget budaya Islam-nya. Paling baru terasa natalnya pas dt masuk ke Suria KLCC yang di lantai dasarnya ada satu pohon natal yang supergede yang menjulang sampai lantai empat dan di bawah sana ada panggung yang dipenuhi ornamen merah, hijau, putih, emas khas natal plus seorang santa gendut berbaju merah berjenggot putih lebat yang siap diajak poto-poto. Di tempat lain? Jangan harap deh.

Ke mana aja di Malay? Hm, cuma sedikit tempat yang dt kunjungi, secara cuma ngabisin tiga hari dua malem di sana. Hari pertama dari KLIA dt naek bus ke Kuala Lumpur yang entah berapa waktu yang dt habisin. Yang pasti lama banget soalnya dt sempet ketiduran sampe dua kali. Dan langsung menuju hotel. dt nginep di Corus Hotel, yang kurang lebih lima menit dari Twin Tower kebanggaan Malaysia itu. Setelah check in dan leyeh-leyeh sebentar, dt langsung cabut ke Suria KLCC yang cuma butuh jalan kaki lima menit. Muter-muter, beli pernik, poto-poto di air mancur, makan, balik ke hotel.

Hari ke dua, setelah check out, dt langsung ke KL Bird Park.Yeah, taman burung yang menurut dt masih bagus Bird Park-nya Singapore karena lebih banyak atraksinya. Tapi lumayanlah udaranya dan lingkungannya yang hijau menyenangkan. Setelah poto-poto sama burung (yaiyalah, masa mau poto-poto sama orang utan), langsung tancap ke Genting Highland yang katanya adalah sebuah tempat di mana pemerintah Malaysia menghalalkan perjudian di sana. Untuk ke Genting Highland, kalian harus naik Genting Skyway. Well, ga harus sih, tapi naik Genting Skyway adalah salah satu must do kalo kalian pelesiran ke Malay.

Genting Skyway adalah bentuk transportasi yang cepat dan nyaman (kecuali kalian phobia dengan ketinggian) dalam wujud kereta gantung. Mirip-mirip Gondola di Ancol sanalah. dt ngantre dua jam lebih biar bisa naik itu kereta gantung, and it’s worth it! Menikmati pemandangan bagian atas hutan yang masih liar diselimuti kabut tipis malu-malu ditemani hawa dingin rintik ringan gerimis, kalo ditambah secangkir teh manis anget n mendoan, manteb banget deh. Sayangnya no food and drink inside the skyway. Jaraknya dari Genting bawah dan atas sekitar 3,4 km yang ditempuh dalam waktu ga sampe setengah jam. Bahkan Genting Skyway memproklamirkan diri sebagai kereta gantung terpanjang dan tercepat se-Asia Tenggara.

Nah, sampe di sana dt langsung berada dalam gedung yang menurut dt serupa kek mall (mall lagi, mall lagi.. =.=) yang langsung ditelusuri buat nyari jalan keluarnya yang malah membimbing dt untuk terus naik ke lantai yang lebih tinggi dan berakhir di sebuah pintu masuk kasino! Yay! Ketemu sama kasinonya eui! Mari mencoba bermain dengan dewi fortuna di sini, gitu pikir dt. Tapi begitu masuk, dt langsung dihadang petugas yang langsung bertanya ”Are you 21 yet?” Ngek! Umur dt udah 22 kali, pak. Tapi kalo ngelirik apa yang dt pake waktu itu, pasti petugasnya percaya aja kalo dt bilang umur dt 14 tahun. Secara dt pake kaos kedodoran, celana ¾ longgar, plus sepatu Crocs warna-warni khas anak kecil. Ditambah lagi backpack anak sekolahan, rambut diiket ekor kuda tinggi, and clearly, no make up. Kalo ga bareng sama ortu, mungkin dt udah dikira anak ilang kali ya. Dan dengan setengah hati, dt meninggalkan kasino dan menyenangkan diri sendiri dengan membeli dua ons gummy worms dan menghabiskannya sendirian (beneran jadi anak kecil kan… *ngakak*).

Capek muter-muter dan sore sudah datang, waktunya turun dan check in hotel. Tapi kali ini ga pake Skyway, bakal pingsan deh kalo disuruh ngantri dua jam lagi. Jadi dt pilih taksi untuk ke Awana Hotel dan berasa kek naik rollercoaster selama perjalanan. Jalan berliku dan menurun yang lumayan tajam sambil diguyur hujan deras. You should try it, it’s fun! (walau mama papa pada kepedesan selama di jalan, wkwk)

Last day, rencananya mau maen-maen di Theme Park (semacam Dufan-nya Genting Highland) tapi berhubung hari hujan dan kabut tetep tebal, diputuskan untuk mendingan turun dan jalan-jalan di Muzium Negara di KL sambil ngabisin waktu sampe waktu check in tiket pesawat nantinya.

Oia, ada hal konyol yang kejadian selama dt di Malay. Kita salah kamar, dua kali, di dua hotel berbeda! Oke, biarin dt cekikikan dulu. (...) Ehm, udah. Jadi pas di Corus, kata mama, kita dapet kamar 1109. Naiklah kita ke lantai 11 dan mencari kamar nomor 1109. 1116-1115 (oh, nomor kamarnya mundur) 1114-1113-1112-1111-1110-1108. Lho kok? Baliklah ke nomer 1110, dan menyusuri pelan-pelan sapa tahu kelewatan. Pintu kamar 1109 harusnya tepat ada di tikungan antara kamar 1110 n 1108. Tapi ga ada yang namanya itu pintu dengan nomor 1109. Nah lo! Untungnya ketemu sama cleaning service yang langsung kita sudutkan dan kita introgasi. Usut punya usut, ternyata emang ga ada kamar nomor 09 ditiap lantai. Bukan karena kepercayaan tertentu, tapi entah kenapa memang begitu penomorannya. Lah terus kamar kita? Apa artinya kita ditipu sama pihak hotel? Engga bo! Kita salah baca tulisan si resepsionis yang nulis nomor kamar. Muakakaka. Ternyata kita dapet 1102.

Nah, pas di Awana Hotel juga kejadian tuh acara salah kamarnya. Kata mama, kita dapet kamar 2366, tapi sampai di depan kamar, dt ngerasa ada yang ganjil. ”Kok di pintu ada kiwir-kiwirnya,” celetuk dt, tapi keknya ga ada yang denger. Dan mama tetep mencoba membuka pintu dengan kartu yang ada. Ga bisa. Giliran adek yang nyoba. Ga bisa juga. Terus giliran dt nyoba yang berujung dengan pertanyaan ”Beneran kamar 2366?” Selain itu dt juga ngerasa ada suara kartun dari dalem kamar. Oke, bisa diabaikan kalo tentang kemampuan dt mengenali arah sumber suara dt yang emang jarang benernya. Tapi gantungan Don’t Disturb di handle pintu itu jelas satu hal yang ganjil kan. Dilihatlah tulisan nomor kamar yang juga ditulis tangan oleh sang resepsionis. 2360. Ya jelaslah kalo itu pintu kamar ga bisa kebuka. Wakakakak.

Note to myself: selalu ingetin mama papa untuk bawa kacamata tiap kali pergi liburan. Wkwkwk.

Jumat, Desember 18, 2009

Punya Pulau Pribadi. Mau?

Sebelumnya, dt mau ngucapin Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1413 H buat yang ngerayain. Bukannya dt ga ngerayain juga, tapi tiba-tiba dt penasaran, sejak kapan kita mulai menyadari penanggalan Hijriah selain di bulan Ramadhan dan mulai merayakan hari-hari yang dispesialkan dengan saling menyampaikan ucapan selamat-ini dan selamat-itu? Yang mungkin terkadang ga bener-bener ngerti makna di balik hari yang dispesialkan itu.

Oke, bukan itu subyek entri sekarang.

Jadi, beberapa saat lalu dt jalan-jalan ke blognya Ichanx dan ngebaca entri tentang keinginannya pengen pulau pribadi sebagai hadiah ulang tahun. Sedikit ngayal eh? Tapi menurut dt itu bisa aja kejadian. Belum lagi beberapa saat lalu pada heboh eksploitasi dan penjualan pulau-pulau kecil di Indonesia. Nah, waktu awal baca, dt mikir ke sana dan ternyata bukan itu yang diomongin Ichanx. Dia ngomongin tentang MyPulau. Anyway, Ichanx berhasil dapet "pulau pribadi"-nya sekarang.

Nah sekarang, apa itu MyPulau? Setelah googling dan lihat langsung, dt simpulkan kalau MyPulau itu semacam situs jejaring sosial kek Facebook, Friendster, Twitter, dan kroco-kroconya. Karena penasaran dan ga ada yang bantu berbagi pengalaman via status FB (belum pernah nyobain MyPulau semua kali ya temen-temen dt), akhirnya dt sign up.

Di halaman awal, kita langsung disuguhi gambar peta Indonesia (ini artinya kalo MyPulau produk anak bangsa kan?) buat milih mau bikin pulau di sebelah mana dan baru bisa ngedaftar. Sign in. Log in. Dan dt dihadapkan ke sebuah halaman dengan gambar pulau dan sebuah pohon kelapa di tengahnya. Terus diapain? Scroll! Di bawah sana ada beberapa opsi dan fitur yang bisa diulik. Standarlah, profile, photo, agenda, group, bla bla bla. Fitur yang menarik mungkin bagian Pulau Mall di mana bisa belanja-belanja pake Coco (mata uangnya MyPulau). Terus tampilan pulau sendirian itu bisa berkembang sesuai dengan teman yang dimiliki, group yang diikuti, bla bla.

Anyway, dt belum eksplor lebih banyak jadi ga bisa cerita banyak juga. Tapi kalo disuruh bandingin sama Facebook, dt masih lebih milih Facebook. *tongue*

Kamis, Desember 17, 2009

Pelaku Individualistis

Menurut ipersonic, dt masuk ke dalam kategori kepribadian pelaku individualistis. Coba aja kalau pengen ngelihat kalian masuk kategori apa. Sebenernya dt begitu suka mengotak-kotakkan diri tapi tetep aja seneng sama yang namanya ramal-ramalan kepribadian kek gini. So, seperti apa pelaku individualistis itu? Ini dt kopipes hasilnya.

Tipe Pelaku Individualistis adalah orang-orang yang yakin akan diri sendiri dan sangat mandiri. Mereka orang-orang yang pendiam dan realistis, sangat rasional, dan sangat tegas. Mereka memelihara individualisme mereka dan senang menerapkan kemampuan mereka pada tugas-tugas baru. Namun mereka juga adalah orang-orang yang sangat spontan dan impulsif yang suka mengikuti inspirasi sekonyong-konyong mereka. Tipe Pelaku Individualistis adalah para pemerhati yang baik dan tajam yang menyerap segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Namun demikian, mereka tidak terlalu peka dalam hubungan antar manusia dan terkejut ketika sesekali membuat orang tersinggung dengan sikap blak-blakan dan lugas mereka. Mereka tidak terlalu menyukai kewajiban; namun jika Anda memberi mereka ruang, mereka adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak rumit, mudah bergaul, dan periang.

Tipe Pelaku Individualistis menyukai tantangan – aksi dan hal-hal yang dianggap aneh adalah bagian dari kehidupan mereka. Mereka suka mencobai nasib dan banyak orang tipe ini memiliki hobi berisiko seperti skydiving atau bungee jumping. Ini juga berlaku pada kehidupan sehari-hari mereka. Tipe Pelaku Individualistis mampu mengatasi situasi-situasi kritis; mereka dapat menangkap situasi, membuat keputusan, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dengan sangat cepat. Hirarki dan otoritas tidak terlalu membuat mereka terkesan; jika seorang atasan tidak kompeten, mereka tidak akan terlalu menghormatinya. Tipe Pelaku Individualistis suka menerima tanggung jawab. Mereka memiliki kepekaan terhadap realitas yang menonjol dan selalu menemukan solusi yang paling tepat dan praktis untuk sebuah masalah. Mereka melerai konflik secara terbuka dan langsung; di sini, kadang-kadang mereka tidak terlalu peka namun mereka sendiri juga dapat menerima kritik dengan sangat baik.

Sebagai teman, tipe Pelaku Individualistis setia dan penuh pengabdian; mereka hanya memiliki beberapa hubungan pertemanan namun banyak di antaranya berlanjut seumur hidup. Orang senang berbicara dengan mereka karena sikap optimis mereka dalam memandang kehidupan dan kemampuan mereka untuk mendengarkan. Namun demikian, mereka lebih suka membicarakan minat dan hobi yang sama ketimbang isu-isu teoritis atau filosofis – hal-hal itu tidak cukup nyata bagi mereka. Mereka membutuhkan banyak kebebasan dan waktu bagi diri sendiri dalam hubungan asmara namun, pada saat bersamaan, mereka juga sangat toleran terhadap pasangan mereka. Sangat jarang tipe Pelaku Individualistis jatuh cinta hingga mabuk kepayang. Mereka terlalu rasional. Mereka lebih suka memilih pasangan berdasarkan kesamaan minat dan kegemaran yang ingin mereka bagi bersama pasangan tersebut. Tipe Pelaku Individualistis tidak terlalu menyukai emosi yang meletup-letup. Mereka lebih suka membuktikan cinta mereka dengan tindakan dan mengharapkan hal yang sama dari pasangan mereka. Barangsiapa berharap mengikat diri dengan seorang Pelaku Individualistis membutuhkan banyak kesabaran. Butuh beberapa saat sebelum tipe kepribadian ini bersedia terlibat dengan orang lain.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: introvert, praktis, logis, spontan, suka berpetualang, memiliki tekad, mandiri, berani, setia, analitis, realistis, optimis, tertarik, tidak banyak bicara, ingin tahu, hati-hati, individualis, menyukai aksi, menyukai hal-hal baru, tenang, rasional, pendiam, trampil, percaya diri, komunikatif, rendah hati.


So, buat kalian yang merasa cukup mengenal dt, apa dt seperti penjelasan di atas?

Minggu, Desember 06, 2009

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita.

Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok.

Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain.

Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri.

Berhubung sudah terbiasa ngelipet-masang-ngisi kotak yang paling engga sebulan sekali, jelas kerjaan nyiapin konsumsi ini gampang banget. Langsung aja bagi tugas, Mama sama Adek yang ngelipet dan masang, dt yang masukin kue ke kotak, dan mbak Mar yang nata kotaknya ke dalam kresek. Kerja efektif seperti biasa.

Tapi tiba-tiba muncullah Akung. Yang langsung duduk dan menawarkan bantuan. Tumben. Sumpah tumben. Waktu itu di kepala dt langsung kepikir, wah besok ujan deres nih keknya. Sebenernya dt pengen nolak bantuan soalnya semua udah punya tugas efektif masing-masing. Tapi kok yang ga enak juga liat antusiasme Akung yang pengen ngebantu. Pengen berkontribusi buat skripshit cucu kali, ya. Yasu, dt ambilin beberapa lembar calon kotak yang belum dilipet. Dan semua langsung kembali bekerja dalam diam. Biar cepet gitu kerjanya.

Nah, alkisah cerita hampir berakhir karena setiap kotak sudah terisi dan tertata rapi, tertinggallah tiga kotak yang masih digarap Akung. Menolehlah dt, buat ngelihat hasil garapannya Akung dan langsung dt memalingkan kepala sambil nahan ketawa. Yeah, dt tahu kalo dt cucu ga tahu adat. Masa Akung sendiri diketawain. Tapi ga sampe ketawa kok. Ngikik ketahan gitu deh. Nah, kotak tiga biji ini baru selesai dan terpasang keliru dengan fantastisnya.

Jadi, buat yang sering ngerangkai atau yang merhatiin gimana betuk kotak kertas makanan, pasti tahu kalo lidah-lidah itu kotak ada di sebelah dalem. Sedangkan Akung dengan elegannya ngerangkai kotak kertas dengan lidah mengarah keluar. Mantab!

Walhasil, Adek yang jadi relawan buat ngebongkar dan merangkai sisa tiga kotak garapan Akung. Wekekek..

Selasa, Desember 01, 2009

Data Collecting Story (1)

Dalam beberapa hari terakhir ini rasanya banyak banget kejadian dan pemikiran yang ngeramein kepala dt. Yang saking ramenya justru bikin dt bingung mau nulis yang mana. Karena setiap kejadian dan pemikiran itu saling berhubungan, tumpang tindih, dan ga jelas ujung pangkalnya. Selain itu, akses dt ke inet beberapa hari terakhir memang cuma terbatas via Aiko aja (hape dt tersayang tuh). Jadi rasanya rada ribet kalau mau bikin entri panjang lebar pake dua jempol dan dibatasi kuota 5000 karakter.

*sigh*

Anyway, dt pengen muntahin yang terbaru dulu. Hari ini rencananya dt bakal ke Ngalam buat jemput temen-temen yang bersedia jadi enumerator dan bantu dt ambil data besok. Dari rumah ibu, dt dianter bapak ke Bungurasih. Dari sana dt bakal ke Ngalam.

Sebelumnya dt sudah ngontak beberapa temen yang sekiranya bisa ngebantu dt. Mentul, Anida, Rakhmi, Afni, Lucky, Dita, Dewi, plus Esti. Tapi ternyata Rakhmi n Afni ga bisa soalnya pas hari yang bersamaan mereka lagi ada yudisium. Terus pas reconfirm lagi dua hari lalu, Mentul ga bisa juga soalnya lagi ngurusin berkas buat penerimaan CPNS di Blitar (Congrats, ya, Mam! ^-^b). Nah, terus kemaren tiba-tiba Lucky juga bilang ngga bisa soalnya tiba-tiba dapet panggilan psikotest di Surabaya. Ngelu ga seh.. Akhirnya mau ga mau dt kudu siap dengan lima cewek yang tersisa, termasuk dt.

Rencana dt, dt ngajak mereka ngumpul dan berangkat bareng entar jam setengah tiga, padahal dt udah nyampe di malang sekitar jam dua belasan. Nah, sembari nunggu ini, dt berencana ngenet dan minta adek naruh data yang dt butuhin di email dt. Lumayanlah, dua jam ga nganggur. Tapi pas nyampe warnet, ternyata dt ga bisa ngebuka gmail, yahoomail, hotmail, bahkan blogger. Waktu itu dibilang Load Page Error. dt tunggu beberapa menit sambil buka-buka yang lain. Terus waktu dt coba lagi masih ga bisa juga, dt nanya ke mbak yang jaga. Eh, katanya itu memang pusatnya yang lagi ga bisa. Duh, yang bener aja! Masa tiga penyedia email gratis besar gitu trouble di waktu yang bersamaan.

Akhirnya dt berinisiatif buat ngeintrogasi temen-temen yang lagi online. Nanyain apa mereka bisa buka email masing-masing. Eh, bisa tuh. Berarti kesalahan ada pada warnet. dt coba lagi buka gmail dan halaman Load Page Error kembali muncul. Terus di bawahnya ada opsi add exception dan dt coba klik dan ngikutin petunjuknya. Voila! Terbukalah halaman muka Gmail! Sumpah! Rasanya seneng sampe pengen jumpalitan!

Oke, step selanjutnya. Lirik jam, jam satu lewat. Harusnya adek udah nyampe di rumah. Telponlah dt ke rumah dan mendapat kabar kalo ternyata adek belum pulang. Jadinya dt langsung nelpon ke hape adek. Adek bilang dia masih di sekolah. Masih ngerjain tugas. Yeah, right. Paling juga lamaan waktu ngumpul, ngobrol, n maen-maen daripada ngerjain tugasnya.

Jadi deh dt langsung cengo. Bingung kudu ngapain dan ini otak langsung nyusun plan B buat damage control.

*sigh*

Rabu, November 11, 2009

What a Geisha is

Dalam berapa hari terakhir ini dt mencekoki diri sendiri dengan film Memoirs of a Geisha. Yeah, dt tahu itu film lama. Tapi semua juga tahu kalau itu film bagus. Jadi jangan salahkan dt kalau dt nonton ulang untuk kesekian kali. Lagi. Lagi. Dan lagi. Dan entah kenapa dt ingin punya kemampuan layaknya seorang Geisha.

Menurut kalian, apa Geisha itu? Pelacur? Wew, kalian salah besar. Menurut bahasa, Geisha yang terdiri dari dua huruf kanji, yaitu Gei (yang artinya seni) dan Sha (yang artinya orang), memiliki arti seniman. Jadi bisa dibilang kalau Geisha adalah karya seni berjalan. Setiap gerakan, suara, dan kata-kata dihasilkan oleh seorang Geisha adalah seni. Cara mereka bertindak, berbicara berjalan, duduk, tidur, bahkan melihat, memiliki tekniknya sendiri. Bisa dibilang, Geisha itu seperti sosok Barbie-nya Jepang. Sebuah sosok sempurna yang isinya hanya misteri dari keindahan.

Sejak jaman Meiji yang berawal sekitar pertengahan abad 19, Geisha mulai dikenal. Yang namanya Geisha awalnya adalah seorang pria, sedangkan yang wanita dikenal sebagai Odoriko. Nah, dt ga tahu sejak kapan seniman wanita juga disebut sebagai Geisha. Nah, sekarang apa sih kerjaannya seorang Geisha? They entertain. Menghibur. Mereka menari, menyanyi, memainkan musik, menuangkan sake, dan menemanimu ngobrol.

Yang Geisha lakukan saat bekerja kebanyakan adalah menemani klien mereka. Jaman baheula dulu, setiap pernikahan kalangan atas adalah pernikahan yang diatur yang biasanya mereka juga ga bebas untuk berkeluh-kesah dengan istri atau anggota keluarga yang lain. Makanya mereka membeli jasa Geisha untuk menemani mereka. Mendengar dan menghibur mereka. Everyone wants to be heard. Dan inget, no sexual things include.

Hm, kalo ga bawa-bawa hubungan seksual, kenapa Geisha bisa dikonotasikan sebagai pelacur? Well, semuanya berawal sejak Perang Dunia ke-2, di mana Jepang ikut ambil andil. Saat Jepang kalah dan negara mereka mulai "dijajah" Amerika, warga Jepang mau ga mau kudu menerima keberadaan tentara Amerika di tanah mereka. Dan layaknya tuan rumah yang baik, Jepang berusaha menunjukkan keramahan mereka dengan menyajikan budaya terbaik oleh seniman terbaik. Para Geisha dipanggil. Bagi tentara berpendidikan dan berpangkat tinggi, atau pengusaha Amerika dari kalangan atas tentu senang dengan keramah-tamahan dan keindahan seni tradisional Jepang.

Tapi bagaimana dengan tentara kelas bawah yang hanya tahu menerima perintah atasan mereka? Mereka ga peduli dengan misteri Geisha dalam balutan kimono tebal. Mereka ga peduli kelembutan gerakan butō yang Geisha tarikan. Mereka ga peduli indahnya alunan musik hasil petikan shamisen para Geisha. Mereka ga peduli dengan kemampuan berbahasa dan berbicara para Geisha. Yang mereka pedulikan hanya wanita-wanita dengan dada dan paha terbuka. Jugun Ianfu. Pelacur-pelacur dalam kimono tipis dengan bedak tebal dan bibir merah. Tapi tetep aja para tentara yang ga ngerti budaya Jepang menyebut mereka dengan sebutan Geisha.

Dan asal kalian tahu, Geisha asli itu orang yang berpendidikan. Mereka harus bisa membaca, menulis, tahu sejarah dan budaya, bisa berpuisi dan berpantun, bisa memainkan musik dan menari, intinya yang kek dt bilang tadi. Sebuah karya seni berjalan yang mampu menghadapi orang-orang dengan bahasa dan tindakan yang cerdik. Lagipula, untuk bisa jadi temen ngobrol yang sebanding dan tidak membosankan dari orang-orang kalangan atas yang berpendidikan, para Geisha juga ga boleh kalah tinggi pendidikannya. Makanya cuma para kalangan atas yang bisa menjangkau dan membeli jasa para Geisha. Karena jasa Geisha mahal. Berapa duit yang keluar untuk memfasilitasi pendidikan mereka? Berapa duit yang keluar untuk memoles diri dengan make up dan kimono sutra yang mahalnya naudzubillah? Berapa duit pula buat biaya hidup dan makan mereka?

Euh, jadi makin ngelantur, kan...

Jadi yang dt inginkan adalah kemampuan mendengar dan menghibur seorang Geisha. Menjadi teman ngobrol yang sebanding untuk tiap orang. Tahu kan kalau dt seorang calon dietitian alias konselor nutrisi yang intinya nanti kerjaan dt itu jual omongan? Itu artinya, sebelum omongan dt didenger orang lain, dt harus denger orang lain dulu. dt harus dapetin kepercayaan orang lain dulu. Sebelum dt bisa nentukan dan nganjurkan sesuatu untuk mereka, dan membuat mereka menuruti saran yang dt kasih.

Anyway, dt masih takjub dengan sosok Geisha. Bisa dibilang, mereka adalah boneka. Mengatur diri begitu ketat agar dapat selalu menjadi sosok sempurna seperti yang diinginkan dan dikhayalkan setiap orang. Mereka tidak diizinkan memiliki keinginannya sendiri. Mereka tidak diizinkan untuk memilih cintanya sendiri. Karena mereka tidak punya pilihan lain selain menjadi boneka dalam kaca yang dipuja orang dan harus tampak sempurna setiap saat.

Kalau dipikir-pikir siapa sih yang mau hidup dalam segala ikatan peraturan yang begitu mengikat sampai-sampai ga diizinkan untuk bertindak sesuai keinginan diri sendiri? Ga ada. dt yakin ga ada.

We become Geisha not to pursue our own destinies. We become Geisha because we have no choice. - Mameha, Memoirs of a Geisha.

Minggu, November 08, 2009

Semoga Malang Mendapatkan Kembali Predikat Dinginnya.

Hari ini Malang disiram hujan. Walau cuma sedikit, jelas rintikan air itu mampu sedikit demi sedikit mengembalikan suasana Malang yang dingin. Paling tidak malam ini akan lebih sejuk daripada malam-malam sebelumnya, dan sepertinya dt perlu mengeluarkan selimut tipis dt. Tahu kan kalau dt punya kebiasaan tidur pake selimut ga peduli seberapa hangat suhu saat dt tidur? Well, tidur pake selimut di sini ga berarti selalu bergelung dalam selimut. Terkadang, saat cuaca pengap tak tertahankan, selimut akan tetap menemani dt walau cuma dt peluk.

Dan sekarang dt sedang menikmati belaian dinginnya angin yang sengaja dt izinkan masuk dengan membuka separuh pintu kamar. Yeah, yang lain juga turut masuk, tentu. Nyamuk, maksudnya. Menurut dt dingin dan sejuknya suhu kamar saat dt berangkat tidur nanti akan sebanding kalau harus diiringi pengantar tidur khas para nyamuk yang hanya bisa menghasilkan satu jenis bunyi. Nging. Tapi ga masalah, dt sudah siapin antinyamuk untuk menjamin kenyamanan telinga dt saat berangkat tidur nanti.

Semoga suasana seperti ini akan tetap terjaga.
Semoga esok matahari tak lagi terlalu berani dan membiarkan awan menirai sinar dan panasnya.
Semoga esok awan akan membawa hujan walau hanya sejenak.
Semoga esok hujan mampu menyejukkan hari dan mengundang angin untuk berdansa.
Semoga esok angin berdansa dan mampu memberikan kenyamanan bagi kami.

Dan semoga Malang mendapatkan kembali predikat dinginnya.

Jumat, November 06, 2009

Malang Panas

Wahai warga Malang, entah hanya perasaan dt atau bukan, tapi menurut dt, Malang panas. Paling tidak untuk beberapa hari terakhir ini (Soalnya emang baru balik hari Selasa dari rumah). Dan tolong jangan bawa-bawa becandaan "kebanyakan dosa tuh" yang sering dt pake. Soalnya dt juga mendapat pernyataan serupa dari temen-temen yang menurut dt dosanya lebih sedikit daripada dt.

Jadi, sejak Selasa dt tidur tanpa berbalut selimut. Padahal umumnya, dt selalu tidur bergelung bareng selimut kalo di Malang. Dan untuk pertama kalinya dt menjauhkan diri dari yang namanya selimut dan memilih untuk meraih kipas yang sudah mulai berdebu soalnya ga pernah dt pake.

Hari ini, setelah menemani Rakhmi dan Afni yang baru selesai sidang skripshit (Lulus!) kami berlanjut ke Cafetaria UB bareng Lucky dan Ekka. Nah, pas lagi asik menghabiskan jus alpukat hasil traktiran dua orang yang baru dinyatakan lulus itu, Ekka nyeletuk kalo di luar sana gelap. Padahal waktu itu masih jam duabelas lewat sedikit. Tumben. Biasanya jam segitu lagi panas-panasnya yang pasti bakal bikin kita dehidrasi tanpa membuat kita berkeringat, soalnya keringatnya keburu menguap saking panasnya.

"Wah, mau ujan keknya.."

Waduh, padahal dt lagi ngegembol Ichibun dan ga bawa payung. Mana dt juga punya jemuran pula. Dan reflek dt langsung berdoa, "Ya Allah, semoga hujan turun saat setiap orang siap." Well, definisi setiap orang di sini itu dt maksudnya.. *ngakak setan*

Sesampainya di kosan, dt lihat jemuran sudah dipinggirkan ke tempat aman. Wah, sudah ada yang siap-siap kalo ujan ternyata. Tapi setelah di tunggu, sepuluh menit, setengah jam, dua jam, dan akhirnya sampai terbitnya entri ini, Malang belum juga dijatuhi tetesan air yang sebenarnya bisa menyegarkan suasana.

Malang panas... *kipas-kipas*

Kamis, November 05, 2009

Happy Guy Fawkes Day

Remember, remember the fifth of November
The gunpowder treason and plot
I know of no reason why the gun powder treason should ever be forgot

But what have the man?

I know his name is Guy Fawkes
And I know it was 1605 when he attempted to blow up the houses of parliament
But who was he really?
What is he like?

We told to remember the idea not the man
The man can failed
He can be caught
He can be killed and forgotten

But four hundreds years later
An idea can still change the world

I have witness first hand the power of the ideas
I see people kill in the name with them
And die defending them

But you cannot kiss an idea
Cannot touch it or hold it

Ideas did not bleed
They did not feel pain
They did not love

And it is not an idea that I missed
It is a man
A man who made me remember the fifth of November
A man that I would never forget

Selasa, November 03, 2009

Ngelu..

Dalam rangka pengumpulan data buat skripshit tersayang, kemaren dt ke kantor mama dengan baju ala pelamar pekerjaan. Bahkan sekretaris mama bilang kalo tampilan dt kemaren feminim banget. Yah, bisa dt maklumin, berhubung kalo ke kantor mama, dt lebih suka pake jeans dan kaos santai, nah sekarang pake kemeja, rok selutut, plus heels. Waktu dt ngaca juga dt juga rada kaget, sudah lama rasanya ga dandan kek gini sejak ga ada kuliah.

Well, sudah pada tahu kan kalo di kampus dt, urusan baju juga diatur, jadi setiap mahasiswa yang kuliah kudu tampil rapi dengan catatan no jeans, no shirts, and no sandals, of course. Tujuan kampus sih sepertinya membiasakan mahasiswanya untuk tampil rapi dan berkredibilitas. Dan sepertinya kampus juga ngerti kalo penampilan memang bukan segalanya, tapi penampilan bisa memngaruhi segalanya. Ambil contoh gini deh, ada dua dokter sama-sama ahli, sama-sama pinternya, yang satu tampilannya rapi n wangi, yang satunya awut-awutan. Nah, mau pilih yang mana?

Oke, kembali ke acara kemaren. dt berencana untuk sampling karyawan kantor mama, makanya mama nolongin dengan nyoba menghubungkan dt dengan pak Adam. Nah, pas ngobrol sama pak Adam, pak Adamnya bilang sih bisa aja. Bahkan dt juga diizinkan mengakses medical record yang kudunya classified (tenang, dt ga merencanakan hal yang aneh-aneh sama data-data itu). Sekarang tinggal ngurus prosedur dan persyaratannya. Kata pak Hanafi (bawahannya pak Adam yang biasa ngurus hal begini), dt diminta untuk nyerahin proposal dan surat pengantar dari kampus. No problemo.

Itulah mengapa dt ngampus hari ini. dt berencana untuk ngurus ijin surat-menyurat itu sekalian konsultasi ke ibu dosen pembimbing tersayang. Nah, pas nyampe kampus, dt langsung ngejujug ke kantor beliau yang ternyata dt tidak menemukan batang hidungya di sana. Ngajar mungkin, gitu pikiran dt. Makanya akhirnya dt milih ke kantin buat online dan kirim sms ke beliau, nanyain kapan ada waktu luang hari ini.

Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit lebih sedikit, akhirnya datang sms balasan.

Saya lagi di Bangkalan, ayah saya meninggal kemarin. Telpon aja.

Aduh, ngelu! Begitu diniatin ngampus, yang dicari malah ga ada. Belum lagi, semua perizinan harus beres dalam minggu ini mengingat kedua dosen pembimbing dt berangkat haji akhir minggu ini.

Anyway, dt juga menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya ayah dari ibu Nurul Muslihah. Semoga amalan beliau diterima dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan.

Women Should Work

Well, at least that what i think...

Ini berawal saat dt membaca status facebook temen yang bilang: “berapa usia ideal cewek nikah, sih?” Nah, saat pengen ngirim comment, tak disangka tak dinyana ternyata dt kehabisan pulsa. Maklumlah, kalo udah online kadang sering kalap dan lumayan sering kejadian model gini. Jadilah dt kirim komentar dt lewat sms (pulsa online sama pulsa sms terpisah, fyi).

dt: Kata mama sih, umur 24—25an lah yang pas. Kenapa? Udah ada yang ngelamar nih?
Adina: Belum ngelamar sih. Iseng-iseng aja dia ngajak nikah. Haha.. Rabu depan aku 23 lo, bentar lagi dong. Emang dt mau nikah umur berapa?
dt: Ebuset, ngajak nikah kok iseng. Haha, tuwek awakmu! *tongue* dt sih ntar aja 28an. Pengen kerja dulu biar dapet financial freedom dulu sebelum nikah biar punya bargaining position di mata suami (halah bahasaku)
Adina: Emang kalo punya financial freedom bisa dapet bargaining position? Aku masih ga ngeh korelasinya apa? *garuk kepala*
note: texting di atas telah dipersingkat dan diedit demi kenyamanan bersama :p

Nah, acara texting itu berhenti saat dt bilang kalo mendingan dibahas kalo ketemu karena ga bakal cukup kalo dijelasin selembar sms (kuliah satu sks aja belum tentu cukup).

Sampe sekarang dt masih percaya kalau wanita sebaiknya juga bekerja dan punya penghasilan sendiri dan punya kebebasan finansialnya sendiri. Karena kalau melihat pola keluarga di sekitar dt, dt malah melihat ketidakseimbangan di keluarga yang ibunya justru ga bekerja. Eh, salah, ga berpenghasilan sendiri, lebih tepatnya.

Kenapa pake istilah tidak memiliki penghasilan sendiri? Karena menurut dt, ibu rumah tangga juga sebuah pekerjaan. Sebuah karir (yang harusnya juga memberi penghasilan yang ga mereka dapat). Dan kalau dilihat sampai sekarang, status pekerjaan ibu rumah tangga masih disamakan dengan para pengangguran yang ga kerja karena mereka ga menghasilkan rupiah.

Ah, such injustice..

Dan hanya karena tidak membantu mengisikan koin ke celengan ayam, ibu rumah tangga sering jadi warga nomor kesekian karena dirinya (dan mungkin para suami juga) merasa hanya berfungsi sebagai tukang makan gaji suami yang sering kali pendapatnya tidak terlalu didengar dan sering kali diremehkan.

Lah, ibu rumah tangga kan ngurus anak dan rumah.

Menurut dt sih, urusan ngurus anak dan rumah itu tergantung komitmen tiap orang. Ga begitu ngaruh apakah sang ibu bekerja atau berkonsentrasi jadi ibu rumah tangga. Coba lihat wanita-wanita yang mengaku sebagai ibu rumah tangga, apa mereka masih sempat mampir ke dapur buat masak masakin makan malem buat orang serumah? Apa mereka ga punya pembantu atau babysitter yang nongkronging anaknya? Apa anak-anak mereka memberikan kepercayaan pada mereka? Apa anak-anak mereka membagi setiap cerita mereka hari itu entah yang sepele hingga yang rahasia pada mereka? Kalau iya, well, mereka benar-benar ibu rumah tangga.

Sekarang coba lirik wanita pekerja yang berkomitmen untuk mengurus keluarga, toh mereka masih punya waktu untuk keluarganya, suaminya, anak-anaknya. Terus sekarang lirik wanita tidak bekerja yang ngaku ibu rumah tangga tapi tetep ga tahu apa acara tivi favorit anaknya. Ada kan? Well, once again, being parents are all about commitment. Dan ga cuma buat wanitanya, tapi juga kaum prianya.

Kebanyakan pria bakal angkat tangan dan kaki kalau disuruh ngurus anak dan lebih milih kerja atau sok tenggelam dengan kesibukannya sendiri. Aduh, aku sudah seharian kerja masa disuruh ngurus anak juga. Yeah, kerja itu alasan yang paling sering dipake para lelaki buat melarikan diri untuk ngasuh anak. Dan kalau istri juga kerja dan berpenghasilan, otomatis suami ga bisa pake kalimat pamungkas itu. Eh, tapi bukan berarti dua-duanya jadi ga mau ngurus anak, ya.

note: Kalau ga ada komitmen untuk ngurus dan ngedidik anak, tolong jangan sok-sok-an bikin anak, ya… *wink*

Kamis, Oktober 29, 2009

I've Lost Track of Time

Sekarang hari apa sih?

Sekarang tanggal berapa sih?


Sering menanyakan hal itu? Well, dt sering. Apalagi sekarang dt sudah ga ada kuliah.
Apa hubungannya? Berhubungan sekali sebenarnya. Saat kuliah atau sekolah, kita harus menyingkronkan dengan hari dan tanggal kan? Hari apa pakai seragam apa, hari apa bawa buku pelajaran apa (yang sebenernya lebih relevan untuk anak sekolah, karena saat kuliah kita udah ga lagi pake seragam atau peduli hari ini ada kuliah apa). Walau saat kuliah sudah ga begitu memperhatikan lagi baju atau buku apa yang mau dibawa, paling engga ada tugas, praktikum, dan laporan yang mengingatkan tanggal. Yeah, deadline-deadline mengerikan itu sangat membantu dalam mengingat tanggal. Dan sekarang, saat kuliah, tugas, praktikum, laporan, dan deadline sudah tidak lagi ada, dt seakan ga lagi merasa butuh hari atau tanggal.

I've lost the track of time.

Anggap kita sedang dalam liburan yang sangat panjang, yang tidak akan ada yang peduli saat kita tidur sangat larut dan bangun sangat siang, karena memang tidak ada kewajiban untuk melakukan suatu hal yang terjadwal. Mungkin itu yang bisa menggambarkan kondisi dt saat ini. Yang sayangnya liburan sangat panjang itu ga bisa dt isi dengan acara senang-senang karena dt berada di bawah ancaman deadline skripshit. Well, yeah, it's another deadline, tapi tidak cukup membantu karena jangka waktunya yang sangat panjang yang akhirnya berhasil membuat dt untuk bilang "entar aja, ah" dan "nanti dulu, deh." Dan begitu deadline tinggal hitungan hari baru deh kalang-kabut ga jelas juntrungannya.

Sebenernya dt menjadwalkan untuk menyelesaikan revisi dan kuesioner sebelum hari jumat ini. Beberapa saat lalu dt mikir gini:
ah, jumat, masih ada 24 jam lagi.
Tapi dengan datangnya sms mama yang nanyain kapan dt pulang ke rumah, jadi bikin dt sedikit alert dengan pertanyaan di awal entri itu, dan langsung melirik kalender di henpun.

Eh, sekarang kamis ya? Berarti besok jumat dong? MATI!

Dan dt malah lebih milih untuk update blog daripada ngerevisi skripshit *ngakak tolol*

Rabu, Oktober 28, 2009

Lama Tak Meracau

Setelah sekian lama ga menjamah blog, akhirnya dt pegang lagi.

Dan yeah, banyak yang dt ubah. Mulai dari template baru (yang dengan bodonya dt simpan sampai link pada ilang semua) dan link baru (kalo ada yang merhatiin). Sebenernya udah beberapa waktu lalu dt pengen ngubah semuanya, seluruh hidup dt kalau perlu, tapi berhubung ga mungkin, dt mencoba untuk menata ulang networld dt yang makin amburadul ga karu-karuan ini. Dan memberedel blog adalah salah satu langkah awal.

Selain memberedel blog yang ini, dt juga berencana untuk ngebuat dua blog lagi. Satu untuk artikel gizi dt dan satu lagi untuk alter dt (yang rencananya bakalan keminggris gitu, haha). Tapi ya gitu deh, yang namanya rencana tetep rencana, sampai sekarang cuma ada link blog dengan template cantik tapi belum ada entrinya. Well, semoga semua bisa mulai aktif bulan November nanti. Amin. Dan dalam beberapa waktu ke depan, dengan hadirnya wifi di kosan dt (YAY!), semoga dt bisa membenahi semua dan bisa tertata seperti yang dt inginkan.

Mengaktifasi diri dt yang lain, berarti ada bagian lain yang harus dinonaktifkan. Maklumlah, kapasitas dt kan terbatas. Belum lagi kapasitas dt juga harus dibagi dengan realworld yang makin lama memang makin menyita waktu *lirik dua entri di bawah*. dt berusaha untuk menarik diri dari forum walau dt akui dt masih punya banyak banget tanggungan di sana. Dan walaupun sudah entah sejak berapa abad lalu dt ngajuin pengunduran diri, tapi ga ada yang ngegubris, jadi dt merasa perlu melakukan satu hal yang cukup drastis. Hapus id.

Anyway, sepertinya ada sedikit trouble dengan blogger.com soalnya tampilannya jadi rada ga jelas gini dan ada banyak tombol yang seharusnya ada tapi ga muncul. Tapi ya apa mau dikata, namanya juga gratisan. Gratis kok minta slamet.

Sabtu, Oktober 10, 2009

Listrik Padam Tidak Merata

Kalau prakiraan cuaca hari ini menyatakan hujan tidak merata jelas hal yang biasa. Tapi dt baru menemukan fenomena baru!

LISTRIK PADAM TIDAK MERATA!

dt lebih suka pake istilah listrik padam, btw, daripada pake istilah mati lampu. Soalnya yang mati kan ga cuma lampu. Tapi tivi, komputer, laptop, radio, dan semua barang elektrik, bahkan yang pake batre pun bakal mati waktu cadangan listrik habis.

Oke, kembali ke topik semula. Umumnya kalo listrik padam kan umumnya langsung satu daerah yang padam atau beberapa blok yang padam. Fenomena listrik padam sebelumnya yang paling aneh pernah dt temui adalah saat satu deretan blok padam, sedangkan sederet blok di depan mereka nyala terang benderang ga ada masalah. Tapi ternyata, eh ternyata, ada fenomena listrik padam yang lebih aneh lagi!

Dan kejadian ini terjadi di kosan dt.

Jadi, awalnya listrik udah padam sejak jam satu siang tadi dan berhasil buat dt bengong ga jelas sampe senja menjelang. Setelah nyalain lilin dan akhirnya berujung main-main sendiri dengan ngebakar rambut, perut dt mulai berisik minta diisi. Bangkitlah dt dari sisi lilin yang sudah tinggal separuh batang itu. Begitu keluar dari kosan, dt lihat kok kosan seberang nyala terang benderang dan kosan tetangga kiri juga kerlap-kerlip lampunya, sedangkan kosan dt tetap tenang dalam kegelapannya.

Urung cari makan, dt malah balik masuk, buat laporan ke ibu kos. dt pikir kosan dt listriknya njegleg atau malah jangan-jangan diputus PLN! Tapi ternyata, katanya ibu kos sih, pembagian listriknya emang beda gardu jadi emang ada yang mati dan ada yang engga. Dan ibu kos juga udah laporan ke pihak yang berwenang dan ga ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dengan sabar.

Yeah, right.. >.>

Tapi berhubung perut dt udah ga sabar, dt memulai kembali petualangan cari makan sambil setenah percaya sama apa yang ibu kos bilang tadi. Tapi di sepanjang jalan, ucapan ibu kos beneran terbukti. Jadi, dalam satu deretan blok, ada beberapa rumah yang padang njingglang dan beberapa yang lain peteng ndedet. Setiap interval dua sampai tiga rumah yang listriknya nyala, ada satu sampai dua rumah yang gelap-gelapan.

Aneh banget deh..

Senin, September 07, 2009

Skrip-s-h-i-t

Entah sudah berapa lama dt jadi suka sebel kalau lihat Ichibun. Ichibun itu nama laptop dt.

Jadi sekarang dt sedang memasuki babak paling kritis bagi tiap mahasiswa. Skripsi. Atau yang lebih suka dt sebut dengan skripshit. Seharusnya babak itu dt lalui dalam dua semester lalu. Tapi dt terlalu nyantai dan terlalu konsentrasi ke pemagangan dan melupakan babak yang satu itu. Well, ga melupakan sebenernya, lebih tepat kalau dibilang pura-pura lupa. Dan berhubung memang ada hal lain yang bisa dt pakai sebagai alasan, dt pakai terus alasan itu sampai batas yang paling memungkinkan. Sekarang.

Masa pemagangan sudah sangat lama selesai. Acara dt yang memolor-molorkan pengumpulan tugas magang juga akhirnya sudah dt kumpulkan. Temen-temen yang lain sudah yudisium dan sekarang lag meributkan dana wisuda yang kek pemerasan. Sedangkan dt? Proposal untuk skripshit aja belum rampung.

Sebenernya banyak temen-temen yang peduli sama dt yang terus-terusan tanya gimana perkembangan babak melelahkan itu. Sampai dt sendiri jengah menjawab dan selalu membalas pertanyaan mereka dengan "Jangan tanya. Sensitif." Dan mereka mengerti itu. Skripshit memang sensitif apalagi kalau perjalanannya lambat dan ga mudah kek yang dt alami.

dt sendiri kadang heran. Apa yang salah sih dengan babak spesial punya dt ini? Toh tema sudah ada. Rigid pula. Bahan sudah siap. Semua tinggal olah. Kalau butuh apa-apa, ada temen, orang tua, dan dosen pembimbing yang siap bantu. Itu artinya masalahnya cuma ada di dt sendiri. Yups. Sudah pasti. Toh, memang ga mungkin menyalahkan orang lain, kan.

Just want to let you know, dt sudah terjangkit virus M4L45 secara kronis. Dan butuh pengobatan dan pembakaran motivasi yang super untuk mengalahkan efek virus yang satu itu dan mencoba memunculkan mood untuk nggarap skripshit. Euh, jangankan skripshit, laporan magang aja susah digarap kalau virus yang satu itu sudah muncul. Dan untungnya dt menemukan trick khusus untuk menghadapi virus satu itu. dt harus keluar dari ruang nyaman yang dt kenal ke tempat baru.

Jadi ga bisa dt nggarap tugas atau skripshit di kamar, di kosan, atau di rumah. dt kudu keluar dari sana. Misalnya kek pas nggarap laporan magang, dt baru bisa menuntaskannya di rumah Afni (temen dt) dalam waktu dua hari aja. Padahal kalau ngerjain di kamar sendiri bisa butuh waktu dua minggu. Belajar dari sana, dt kudu melakukan hal serupa dalam rangka nyelesein satu babak paling kritis di hidup dt ini.

Minggu, Agustus 02, 2009

Suramadu, oh Suramadu

dt mudik ke Madura dan untuk pertama kalinya lewat Suramadu, hehehe..

Kesan pertama dt atau Suramadu adalah: wew, keren! Dan dt langsung bisa bayangin tiga scenes keren. Pas matahari tenggelam dengan langit lembayungnya, pas matahari terbit dengan kabut tipis dan dingin embunnya, dan pas malem hari dengan kelap-kelip lampu dari jauh. Dan kalau itu jembatan Suramadu dihiasi lampu, pasti jadi lebih cantik lagi.

dt sedikit heran dengan kata-kata orang kalau Suramadu itu menakutkan. Ada yang bilang pagar untuk sepeda motor yang kurang tinggi. Perlu dt kasih tahu, itu pagar tinggi kali. Bahkan lebih tinggi dari kepala kalau lagi di duduk di atas sepeda motor. Ada juga yang takut kalau tiba-tiba jembatannya jebol. Ayolah, kalau ga ada yang mretelin mur, baut, besi, atau paku bumi dari jembatan itu, dt yakin, Suramadu punya konstruksi yang kokoh dan mampu menahan debur ombak Selat Madura sampai puluhan tahun ke depan. Percaya dong sama hasil tangan sendiri. Bangga dong sama buah karya anak negeri.

Menurut dt, Suramadu sebenarnya bisa jadi pintu buat Madura untuk membuka diri. Soalnya, banyak banget potensi yang ada di Madura. Mulai dari potensi pariwisata, pertanian, kelautan, sampai kulinernya. Tapi sayangnya orang-orang Madura ga mau terbuka. Buat gambaran, ga ada yang namanya mall, McD, KFC, Matahari, Ramayana, atau segala bentuk waralaba lain. Bukan karena ga ada yang tertarik, tapi karena orang-orang Madura sendiri menolak keberadaan itu.

Orang-orang Madura ga mau ada budaya luar yang konsumtif. Mereka ga mau budaya mereka diinvasi budaya asing. Dan mereka ga mau pasar lokal mereka jadi mati dan malah bergantung pada kapitalis. Ekstrem, huh? Tapi itu pendapat mereka. Dan ini adalah tanah mereka, jadi mereka yang punya hak.

Tapi dt akui, orang yang cukup lama tinggal di Madura bakal tau berapa kuatnya adat dan budaya yang di pegang orang setempat. dt aja yang ke Madura cuma beberapa kali setahun aja ngerasa. Ada percampuran kuat antara budaya muslim, arab, cina, madura, jawa, juga bahkan kepercayaan-kepercayaan klenik animisme-dinamisme yang masih dipegang orang-orang Madura. Dan menurut dt, hal itu menarik dan makin buat dt ga bisa melupakan kalau separuh darah dt berasal dari sana.

Kamis, Juli 16, 2009

No Bus for Today

Hari ini dt balik ke Ngalam City bareng papa seperti biasa. Berhubung papa kerja di Pandaan, dt ikutan sampe Apolo habis itu naik bus. Itu pola yang biasa. Tapi berhubung ada kejadian luar biasa, dt ga bisa pake pola biasa dt.

Mulai dari daerah sebelum pasar Porong sudah mulai macet. Dan macetnya ga nanggung-nanggung, mobil papa beneran berhenti selama beberapa menit sampe-sampe dt bisa nyelesein acara pake eyeliner dalam dua kali berhenti. Biasanya dt malah sama sekali ga sempat pakai eyeliner.

Usut punya usut, ternyata ada truk jagung yang ngguling di daerah sebelum jembatan Porong dan ngeblok tiga lajur jalan. Satu lajur dari arah Mudfield dan dua lajur dari arah Ngalam City. Jadi bisa dibilang yang dari arah Ngalam City macet total dan ga bisa bergerak sampai jagung-jagung yang berserakan di jalan itu sudah diberesin. Yang bikin tambah parah adalah orang-orang yang ngerubutin jagung tumpah yang ternyata cuma pengen lihat dan ga ada niatan sama sekali untuk bantu. Please deh, nyadar ga sih kalau mereka justru memperparah kondisi jalanan yang padat.

Anyway, dt sempet lihat truk jagung yang ngguling waktu itu truk lagi diderek. Reaksi pertama adalah "ga heranlah kalo ngguling, secara truknya udah ga layak jalan gitu".

Dan sepanjang perjalanan bukan cuma truk yang ngguling itu aja yang ga layak jalan. Banyak banget truk-truk tua yang sudah seharusnya diremajakan tapi tetap dipakai. dt jadi heran, gimana bisa truk-truk itu lulus uji keur. Hm, jadi mempertanyakan kinerja DLLJ.

Padahal tetap menggunakan truk yang ga layak jalan adalah pemborosan. Mesin-mesin tua jelas lebih banyak menghabiskan solar karena ga lagi seefisien dulu, belum lagi biaya perawatannya yang lebih mahal. Tapi sayangnya pengusaha kita ga peduli. Mereka lebih memilih tetap memakai truk tua biar ga perlu beli yang baru dan mereka juga ga pusing dengan perawatannya, jadi biaya yang mereka keluarkan cuma biaya solar. Tapi akibatnya kek gini. Truk ga pernah dirawat, ga layak jalan, jadi lebih besar kemungkinannya untuk kecelakaan. Kalau udah kecelakaan, bakal bikin macet. Kalau udah macet, berapa banyak bahan bakar terbuang percuma saat menunggu di kemacetan. Such a waste, huh? Atau malah ga kepikiran sejauh itu?

Okay, kembali ke topik awal. Selain merhatiin truk, dt juga merhatiin bus yang herannya ga dt lihat sama sekali. Aneh. Biasanya bus merajai jalanan pagi Porong tapi hari ini ga ada sama sekali. dt langsung bingung kalau di Porong aja ga ada bus, apalagi di Apolo. Jelas ga ada juga. Setelah tawar-menawar sama papa, akhirnya papa sepakat nganter dt sampe Purwosari. Soalnya di Purworasi ada bus dari Pasuruan atau Jember yang ke Ngalam City.

dt penasaran ada apa kok sampai ga ada bus sama sekali dari Surabaya ke Ngalam City..

Sabtu, Juli 04, 2009

Holi-Bali-day part.3

Ikutan out bond tanpa persiapan adalah hal bodoh.

Dan itu baru aja dt lakukan. Out bond di Bedugul tapi malah pake rok bali dengan atasan sweater tipis rajutan. Untungnya dt masih pake tight sebagai daleman. Dan dt copotlah itu yang namanya rok bali. Selain baju, dt juga ga pake sepatu yang pas. Pilihan terbaik adalah sepatu olahraga atau sepatu ninja, sedangkan dt cuma pake sepatu crocs yang model pantofel. Lengkap sudah. Tapi berhubung pengen main, ya sebodo amat.

Setelah pasang pengaman dan dengerin penjelasan tentang teknik dasar safety, dt langsung turun ke lapangan. Di sana ada lima macam tantangan yellow, green, blue, red, dan black. Itu sudah sesuai dengan tingkat kesulitannya.

Adek dt mulai dengan yang hijau dan dt yang ga punya pengalaman out bond sebelumya ini dengan polosnya milih jalur hitam.

Jadi dimulai dengan panjat dinding. Well, lebih pantas dibilang sebagai panjat papan karena memang terbuat dari susunan kayu setinggi 10-12 meter. Terlewati dengan aman walaupun bisep dt jadi sakit semua. Dilanjutkan dengan walking log (dt ga tahu apa sebenarnya namanya). Intinya kita harus jalan melewati batang-batang kayu bundar yang tergantung di ketinggian sepuluh meter, mungkin lebih. Yang susah pas pindah dari batang satu ke batang yang lain. Soalnya semuanya jadi goyang-goyang ga seimbang. Dan di tahap ini dt berhasil lewat dengan memar di lengan soalnya kudu menumpu biar seimbang dan ga goyang-goyang.

Yang berikutnya, dt harus berjalan di seutas tali dan juga hanya berpegangan di tali yang lain. Untuk tantangan yang ini sih gampang banget. Ga ada perjuangan yang berarti and all you have to do just enjoy it. But the next thing is different thing.

Kali ini dt kudu berayun ke sebuah bentangan jaring untuk bisa melanjutkan ke tantangan selanjutnya. Pada deg-deg ser sih awalnya, tapi dt sudah di point of on return. All i can do just fall, swing, and grab the net, right?

So, i do what i have to do. I swing, i grab the net. But the problem is, dt udah ga punya tenaga lagi. Sepertinya ATP di lengan dt sudah berubah jadi asam laktat semua. Jadi, begitulah, dt berhasil megang jaringnya tapi terlepas gitu aja soalnya tangan dt sudah terlanjur kemeng. Dan dt terus berayun. Berayun. Berayun. Sampai akhirnya ayunannya berhenti sendiri.

Kemaren dt juga sempet ber-flying fox di GWK, supergirl style. Kalau orang-orang biasanya duduk, dt telungkup. Serasa terbang kek superman.. wkwkwk..

Holi-Bali-day part.2

Semalam dt ikut sunset dinner cruise. And i meet this cute boy.

Jadi saat naik ke cruise, dt langsung naik ke lantai tiga sambil nyeripitin welcome drink. Saat kapal mulai jalan, pihak kapal punya kewajiban untuk nunjukin cara pemakaian pelampung yang benar, maka ada ABK yang memperagakan cara pemakaiannya. And there is my boy, smiling cutefully demonstrating how to use a life safer.

But don't ask me his name, because we just chat and flirt and not share any information.

Saat jam makan malam dimulai, dt turun ke deck bawah buat makan. And he pass and smile at me, i don't know, more than three times. Tapi menurut dt itu biasa aja, mengingat dia ABK.

Jadi selama di cruise selain acara makan. Juga ada sajian nyanyian dan tarian. Tarian bali dan tarian modern. Dan dua-duanya dt ditarik untuk ikut nari bareng penarinya.

Untuk tarian bali sih soalnya dt ngikutin gerakan penarinya pas di tempat duduk, ga heran ditarik dan diajak nari. Untuk modern dance sih sebenernya si adek yang ditarik dan berhubung adek ga mau sendirian, dt jadi didorong sama mama.

Jumat, Juli 03, 2009

Being waited

Menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan. Semua pasti setuju.

Tapi bagaimana dengan ditunggu? Apakah lebih menyenangkan? Nope. Absolutely nope.

Apalagi dt tahu bakal mengecewakan orang yang nunggu dt.

Sekarang, ada dua orang cowok yang sedang 'menunggu' dt. Menunggu hanya untuk ketemu dan, mungkin, nyoba pedekate dengan ngajak dt keluar. Yang sayangnya ga mampu memunculkan ketertarikan dt ke mereka.

Ada yang bisa kasih tahu dt gimana caranya ngasih tahu mereka berdua secara ga langsung, biar mereka ga perlu lagi 'menunggu' dt?

Holi-Bali-day part.1

Rasanya sudah lebih dari lima tahun dt ga jalan-jalan ke bali. Jadi untuk liburan kali ini, dt dan keluarga pergi ke pulau dewata yang satu ini.

Kalau dulu, dt selalu lewat jalur darat dan nyebrangin selat bali via ferry. And i love the wave of bali strait. Walau bagi beberapa orang ombak selat bali terasa besar, tapi atau dt justru di sana nikmatnya naik kapal ferry. Merasakan tiap debur ombak mencoba menghempas kapal yang mencoba membelainya. Tapi kali ini dt naik pesawat demi alasan kenyamanan.

Okay, first stop, Ngurah Rai. Yaeyalah, secara pake pesawat jadi emang kudu mandeg di sana. Nothing special, actually. Tapi menurut dt, untuk ukuran bandara internasional, Ngurah Rai terlalu biasa. Maksud dt, dengan traffic yang tinggi, harusnya Ngurah Rai bisa ngasih lebih dong. Gedung yang lebih bagus dan luas. Fasilitas yang lebih lengkap. Penyediaan garbarata. Atau pusat informasi pariwisata buat para turis. Tapi sayangnya yang kelihatan hanya seperti bandara lokal kecil di daerah pelosok.

First destination. Tanjung Benoa. Di sana dt diving dan parasailing. Pertama kalinya tuh buat dt. Diving tuh menyenangkan ternyata. Walau kuping pada sakit, tapi rasanya setimpal sama pemandangan yang dt lihat di bawah air. Begitu masuk ke dalam laut, rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. Seakan semuanya bergerak lebih lambat, lebih lembut, dan lebih indah.

Saat parasailing pun ga kalah asik. Walau sangat jelas kalau waktunya kurang lama. Mungkin dt bisa menghabiskan waktu satu jam biar puas melayang-layang di atas laut ditarik kapal boat.

Senin, Juni 15, 2009

I'm Through With You

I'm through with you

At first, i was nothing
Just a filthly creature
Who love staring at the star
Observing you

But it suffers me
Nauseous me
Be a devotee
While you don't even know me

Therefore i decide
I've got to be another star
Just like you
So you will glance at me even for a moment

What i feel for you
It just like the star itself
Full with zest, dazzling, and constantly flare up
And i try to keep my star shining

But still, like any other glowing star
It has their own time
Once the source on longer well maintain
It starts to dim

Like how i feel for you
Now

It's degradating
Sooth away
And shrink
It turn into a death star

A heap of crammed memories

And now i realize
I'm through with you
It's over,
...over

Jumat, Juni 05, 2009

dr. Nugroho

Rotasi minggu keenam dt bertugas di ruang Kenanga, bangsal syaraf dan jiwa.

Kebetulan untuk rotasi di Kenanga dt kudu konsultasi ke dokter bangsal atau dokter penanggung jawab pasien yang dt ambil sebagai kasus. Harusnya untuk bangsal 12 ini dt konsul ke dr. Putu tapi berhubung dua hari yang lalu dr. Putu kecelakaan, tugasnya dipindahtangankan ke dr. Nugroho.

Nah, dr. Nugroho ini masih dokter umum, masih muda, ringless pula. Pengen diincer sih awalnya, tapi setelah ketemu langsung jadi urung. Orangnya putih, lumayan, badannya kecil, kalo ngomong kek orang kumur-kumur, mana hobinya "ngudang" pasien. Padahal pasiennya udah uzur semua tapi ditangani seakan semuanya anak kecil. Tapi bener deh kalo liat dr. Nugroho bawaannya pengen ketawa. Image dia di mata dt itu kek adik kecil.

Tugas dt sekarang adalah hunting dr. Nugroho untuk minta persetujuannya jadi perceptor. Kemaren dt nyari dr. Nugroho ke UGD tapi ternyata dia jaga di poli. Berhubung poli kemaren rame banget, dt urung. Terus hari ini dt nyari lagi itu dr. Nugroho ke poli mumpung masih pagi n pasiennya belum banyak. Ucluk-ucluklah dt ke poli pagi-pagi. Eh, kata yang jaga dr. Nugroho nya jaga di UGD. Busyet, kemaren nyari di UGD disuruh ke poli, sekarang ke poli malah disuruh ke UGD.

Akhirnya dt reruntungan deh ke UGD. Celingak-celinguk di sana, nanyain dr. Nugroho ada apa engga. Yang ketemu malah dr. Lupita yang ngasih keterangan kalau ternyata dr. Nugroho hari ini ke Surabaya dan baru balik hari Senin.

Belum jodoh kali ya..

Kamis, Juni 04, 2009

Revenge time?

Seorang teman lama -mungkin ga pantas juga dt sebut teman- menghubungi dt.

Hanya dengan dengar suaranya sudah membongkar kembali luka lama yang ga bakal pernah kering. Dendam, you may say so.

Sebenernya dt bukan orang yang gampang marah sama orang lain, tapi dt pastikan, lebih baik kalian ga pernah lihat dt marah. Soalnya kalau dt marah, masalah itu bakal dt ingat terus dan ga bakal hilang. Mungkin yang kalian lihat dt tetap bersikap manis seperti biasa. Tapi sebenarnya dt hanya menunggu. Menunggu sampai datang waktu yang tepat untuk membalas kemarahan dt.

Separuh kenikmatan dendam adalah saat merencanakannya. Pernah dengar itu?

Anyway, "teman lama" ini menghubungi dt dan menawarkan sesuatu. Sesuatu yang dulu buat dt naik pitam. Yang dt heran, kenapa ini anak ga punya rasa malu untuk ngangkat hal itu di depan muka dt tanpa rasa bersalah. Ditambah lagi sekarang dia malah minta tolong dt untuk mempermudah kerjaan dia.

Well, sorry, dear.. Walau dt bukan orang yang suka mempersulit orang lain, you are an exception.

Maybe it's time for me to come up and crush her..

Sabtu, Mei 23, 2009

Missing IH

Di perjalanan menuju MudField dt lihat seorang cewek berjilbab pake kaos garis-garis putih-pink dengan satu kata terbordir di dada kiri.

Destiny

Dan tiba-tiba dt merasa rindu. Rindu dengan IndoHogwarts. Rindu dengan teman-teman komunitas Harry Potter. Rindu dengan rasa penasaran "apa ada reply?". Rindu dengan hunting image untuk siggy visualisasi. Rindu dengan semua dunia maya dt. Termasuk dengan chara pertama dt.

Terkadang dt ngerasa terlalu banyak memasukkan 'dt' ke dalam karakter Destiny. Bahkan dari nama saja sudah nunjukin berapa besar ego yang dt sisipkan ke Destiny. Cita-citanya. Kemandiriannya. Kemasabodohannya. Keseriusannya. Ketidaktertarikannya pada olahraga dan laki-laki (walau statusnya sekarang sudah engage). Bahkan rasa es krim kesukaannya.

Entah memang ego dt yang terlalu besar atau mungkin dt kurang kreatif dalam menciptakan chara. Dunno.

Sekarang gimana kabar Destiny, ya. Karena dt harus cuti dalam waktu lama, mau tidak mau Destiny juga harus dicabut dari dunia sihir. Sebenarnya bisa aja dt adopsiin Destiny ke tangan lain. Tapi sekali lagi, dgn dt terlalu besar untuk mengizinkan orang lain menyentuh Destiny. Mungkin dt ini posesif ya.

Ah ya, kembali ke Destiny. Dia sekarang masih dalam perjalanan sihirnya. Sangat umum bagi penyihir yang baru lulus sekolah, tentu. Mengadakan perjalanan untuk membuktikan kemampuan sihir mereka dan menambah pengalaman, tentu saja. Destiny sedang menjelajah Asia. Mencoba menguak dan mempelajari rahasia ilmu pengobatan Asia. Dan kabar terakhir yang dt dapat, Destiny berada di Indonesia. Keranjingan belajar membuat ramuan setempat a.k.a. meracik jamu.

Sabtu, Mei 09, 2009

Animaly Me


You Relate to Eagles and Whales


Your Power Animal: Eagle

Animal You Were in a Past Life: Whale

You are active, a challenger, and optimistic.
Hard-working, you are always working towards a set goal.




You Are a Pegasus


You are a perfectionist, with an eye for beauty.

You know how to live a good life - and you rarely deviate from your good taste.

While you aren't outgoing, you have excellent social skills.

People admire you and feel very comfortable around you.




You Are a Snake


You have extraordinarily sharp senses.

You sense what's going on almost before it happens.

You connect with the world. People instantly feel close to you.

You are a natural protector. You take good care of your friends.

You are an ambitious person. Your ambition drives you.

But while you are ambitious, you are also humble. You are thankful for everything you have.




You Are a Snow Leopard


You have learned that you must rely on yourself, and yourself alone, to live a happy life.

You are understand the world better than most people you know. You are very perceptive and intuitive.

You need lots of space to think. If you don't get the space you need, you're likely to bite someone's head off.

Because you are so thoughtful and solitary, people find you to be intense and mysterious. You're even seen as intimidating.

Senin, Mei 04, 2009

Macam Sarkam


Dari gambar di atas, bisa kita tentukan bahwa sarkam alias sadar kamera itu punya berbagai bentuk.

1. Sarkam Murni
Kalau anda termasuk jenis ini, berarti Anda sangat sadar akan keberadaan kamera yang sedang membidik Anda dan langsung berpose untuk memastikan wajah Anda tersimpan dalam helaian foto.

2. Sarkam Terselubung
Jenis ini sebenarnya setingkat di atas sarkam murni mengingat jenis ini juga memiliki kepekaan yang sama terhadap kamera dengan orang jenis sarkam murni. Hanya saja jenis ini memiliki kemampuan untuk bepose seakan dirinya tidak sarkam namun ada bagian dari posenya yang menunjukkan bahwa dirinya sarkam.

3. Sarkam LoLa
Jenis ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kemampuan sadar kamera yang rendah. Terbukti walaupun sudah berusaha menampakkan diri, namun hanya sepotong bagian dirinya yang terabadiakan melalui kamera. Hal ini disebabkan karena leletnya insting mereka terhadap bidikan kamera.

4. Tidak sarkam
Yah, kalau ini mah sudah jelas. Ga bakal sadar ada kamera ngebidik kalau ga diteriakin "Woi, ayo poto-poto, woi!"

Jumat, Mei 01, 2009

Miss Myth

Okay, i think it will sound childish.

Pernah denger mitos kalau liat angka kembar di jam henpun itu tandanya ada yang kangen?

Belum? Heu, padahal dt dah denger itu mitos sejak berapa tahun lalu. Jadi kalau kalian tanpa sengaja lihat angka kembar di jam henpun, misalnya 07.07 (kek pas dt mulai nulis ni entri), mitosnya, ada yang lagi kangen sama kalian.

Eh, mitos bulu mata jatuh juga pertanda ada orang lagi kangen, kan. dt jadi inget jaman kecil kalau ada bulu mata yang jatuh langsung dt tepuk-tepuk antara tangan kanan n kiri sambil nyebutin alfabet berurutan dari A sampe Z sampe itu bulu mata ilang dari telapak tangan. Mitosnya, saat bulu mata ilang di huruf tertentu, R misalnya, berarti yang kangen sama kamu itu orang yang berawalan huruf R. And sometimes dt is still doing it. Even dt knows that it's ridiculous, but it's fun.

Oke, kembali ke mitos jam henpun. Akhir-akhir ini dt sering liat angka kembar itu. Apa artinya banyak yang kangen sama dt? Atau yang kangen dikit tapi intensitasnya sering?

Well, sayangnya bukan. Itu tandanya dt terlalu sering liat henpun. Entah buat chatting, browsing, blogging, sms-an, atau cuma sekadar pake kalkulator buat ngitumg kebutuhan energi pasien.

But dt doesn't mind if there's someone miss her.. ;))
*diinjek*

Senin, April 27, 2009

People Changes

People changes. And so does dt.

Jadi, apa yang berubah dari dt sekarang? Well, selain fakta kalau dt tambah item dan tambah endut gara-gara magang tentunya.

Hm, lets see..

dt merasa ga seceria dulu. Dulu rasanya semua ringan. Semua bisa dt lewati tanpa harus bersusah-payah. Tapi sekarang rasanya harus dt jalani dengan langkah berat.

Rasanya dulu, memotivasi diri sendiri adalah hal yang mudah. Memaksa diri untuk melakukan hal yang sebenarnya ga ingin dt lakukan tapi tetap harus dt lakukan. Tapi sekarang, dt terjebak dalam jurang malas.

Hal kecil yang ga sesuai keinginan, yang ga sesuai harapan, atau yang hal yang krusial tapi dt anggap ga terlalu signifikan pun bikin dt mentok dan kesandung dengan rasa yang sama. MALAS.

Mungkin itu dosa terbesar dt.

Minggu, April 26, 2009

Ups, Wrong Gender

dt melakukan kebodohan lagi kemaren.

Kemaren kan dt nyewa VCD, nah, pas di persewaan itu dt salah manggil penjaga yang ternyata cowok itu dengan sebutan 'mbak'. Hahaha.. Salah sendiri itu mas-mas punya rambut panjang, diiket separuh, pake anting, pake eyeliner pula. Jadi jangan salahin dt kalo jadi salah ngira. Hoho *ngeles*

Oia, ada lima film yang dt pinjem dan semua film lama. Againts the dark, in the dark place, the omen, runaway jury, dan -yang bikin ga matching- another cinderella story. Honestly, semua dt pilih cume berdasarkan tangan yang seenaknya ngambil. Ga pake acara baca sinopsis atau lihat siapa yang main. Asal comot gitu intinya.

Baru dua setengah film yang dt tonton.

Another cinderella story, yang ternyata boleh juga karena dt suka drama musikal walau ide ceritanya klasik dan dah keliatan gimana alur ceritanya.

Againts the dark, yang ada steven seagel-na tapi dia cuma cameo dan ternyata bercerita tentang perburuan manusia yang terinfeksi dan berubah jadi zombi. And i don't really like zombie-kind movie. It's disgusting. Seeing those pale skin, plain eye, dirty mouth, nails, and fingers, ripping flesh with no manner. Yuks. Bahkan aksi pembantaian a la steven seagel pun ga ngangkat citra ini film.

In the dark place, ini yang baru dt tonton separuh terus ga kuat soalna ngantuk. Maklum, ceritana datar. Kekna bukan film amerika. Soalna pemeranna kek artis porno yang mencoba beralih genre ke film horor. Tapi kekna ide ceritana boleh juga. Kinda silent horor movie with all those creepy backsound with minor bleeding. Ntar deh dt terusin nonton dulu baru ngelanjutin penilaianna. Hoho..

Sabtu, April 11, 2009

Haru Nikah >.<

Hari ini temen dt nikah. Namanya Hartini Sri Utami. Tapi sejak jaman SMA, dt biasa manggil dia Haru.

Ceritanya nih, banyak cobaan pas perjalanan dt ke rumah Haru. Pertama, lepas dari puskesmas, dt nungguin bus dari Sumberpucung ke Ngalam. Ada kali satu jam dt berdiri nunggu bareng Sari tapi ga ada bis gede yang lewat. Untungnya Yaya lewat bersama BMW (box merah warnanya) dan bersedia mbarengi dt ke Ngalam.
-ps. Mbak Wulan, maaf ya dt ngganggu acara kencannya, hohoho-

Dua, kan ceritanya dt ga tau di mana rumahnya, jadi deh pake acara cari alamat dulu. Dan berhubung alamatnya cuma nama desa, rt, n rw, makin merabalah dt. Pas masuk Sukodono, dt tanya orang, 'Panjunan sebelah mana, pak?' 'Oo, tasih tebih, mbak' Oke, masih jauh. Katanya sekitar 3km ke arah pasar. Tapi udah jalan 4km kok ga nemu janur, dt tanya orang lagi dan dapet jawaban yang sama yang bahkan bilang masih kurang 6km lagi. Lah kok. Okeh perjalanan berlanjut. Lama-lama kok makin ga yakin dan tiba-tiba sudah di Taman. Tanya orang lagi deh. Katanya dt kejauhan. Jadi dt kudu balik dan Panjunan itu sesudah deretan pabrik. Oke deh, puter balik dan jalan lagi. Deretan pabrik lewat tapi ga ada tanda-tanda janur kuning melengkung di pinggir jalan. Dan sekali lagi dt tanya orang. Tau dt dapet jawaban apa? Yaps, KEJAUHAN.

Demi jubah kiwir-kiwir Morgana, dua kali kurang jauh dan dua kali kejauhan, bo! Ternyata di depan deretan pabrik tuh ada perkampungan. Dan emang di sana ternyata.

dt masuk, tulis nama, cemplungin amplop, dapet souvenir cantik, salaman cipika-cipiki cupcup muahmuah, cabut deh.

But wait! Cobaan masih menerpa. Beberapa ratus meter sepulang dari undangan, dt tiba-tiba sadar kalau Aiko hilang! Maka kembalilah dt ke tempat Haru buat nyariin Aiko. Untungnya ketemu.

Ha.. yokatta.. Ternyata dt masih jodoh sama Aiko, hehe.. XDD

Kalau Saja

Kalau saja saat itu aku lupa siapa dirinya
Sudah habis babak belur kupukuli

Kalau saja saat itu aku menggenggam sebilah pisau
Sudah kurobek mulut nyinyirnya

Kalau saja saat itu rasa sabarku habis
Sudah menancap kukuku dalam-dalam di tenggorokannya

Kalau saja saat itu aku tidak mengenal hukum Tuhan
Sudah piatu anaknya sekarang

Jumat, April 10, 2009

My Flash T.T

dt melakukan kesalahan bego hari ini...

Grusa-grusu dan panik sendiri sampe ga lihat jalan keluar simpel di depan mata. Padahal beberapa hari sebelumnya dt ngingetin yang lain kalau seharusnya anak ular tuh ga boleh grusa-grusu. Haha..

Jadi gini ceritanya, hari ini ada rencana konsultasi laporan ke Supervisor magang, pak Fajar. Nah, anak-anak lain pulang sekalian libur dua hari sedangkan dt memilih untuk stay di Sumberpucung biar hemat transport dan biar ga capek di jalan, dan laporan dt, dt rencanain untuk dt kirim via email ke salah satu temen biar di-print-in dan dikumpulin juga ke pak Fajar.

Nah, hari ini dt ke warnet mau ngirim itu laporan. Pas nancepin flashdisk, terjadi satu hal FLASDISK dt GA DETECT! Mati deh! Langsung aja kalang kabut sendiri. Gimana ini... Gimana ini... Walhasil, dt ngontak Diana biar ga nunggu kiriman email dt. Dan dt sempet berpikiran untuk ke Ngalam cuma buat nyerahin laporan (idena Diana tuh sebenernya).

Gimana ke Ngalamnya nih? dt milih naik kereta yang jam 12.15. Pas lagi jalan pulang dari warnet, dt mikir aja terus, apa ga ada jalan lain. Sampe kosan, dt pasrah dan nyiapin yang mau dt bawa ke Ngalam sambil nelpon nyuruk-nyuruk ke Hafrin. Setelah dapet comforting words dari Hafrin, dt nyalain lapotop, mastiin klao flash dt emang ga detect di mana-mana. Padahal sebelum berangkat ke warnet tadi masih bisa. Dan emang beneran ga bisa, haha. Jadinya dt nelpon ke pak Fajar, bilang kalau laporan dt bakalan telat.

Oh iya, itu flash disk jadinya puanuas buangets pas ditancepin di laptop. Ga tau tuh kenapa.

Pas sudah pasrah gitu dan lagi pegang-pegang flashdisk yang lagi panas-panasnya, muncul deh itu ide cemerlang bin brilian. Well, biasa aja sih sebenernya. Ide biar dt ga perlu ngelakuin heroic traveling Sumberpucung-Ngalam-Sumberpucung.

Mau tahu idenya?

Beli CD, burn datanya, ke warnet lagi, kirim deh itu laporan.

Just that simple!

Gitu kok ya ga kepikiran dari awal.

Kamis, April 09, 2009

Contrengan

Contrengan.

Jelek banget sih istilahnya. Kenapa juga ga pake nama yang seharusnya? Pemilu DPR-DPRD. He? Kepanjangan? Terlalu susah? Bilang aja males.

Oia, hari ini dt ga ikutan pemilu. Well, bukannya golput, dt sudah nentuin pilihan kok. Tapi keadaan yang bikin dt males. Secara sekarang ada di Sumberpucung buat magang, jadi males banget kalau harus balik ke Mud Field cuma buat coret-coret kertas dan ngerusak kuku jari kelingking dt sama tinta pemilu. Belum lagi bakal keluar biaya dan bakal capek di jalan.

Jadi, pilihan dt untuk ga ikutan pemilu didasarkan pada prinsip efisiensi.
*dijitak gara-gara seenaknya sendiri*

Rabu, April 08, 2009

Jatiguwi Adventure (2)

Ah ya, cerita kemaren nih..

Jatiguwi adventure part two dt bareng Zenta diawali dengan bocornya ban motor yang kami kendarai. Hoho.. Nice, eh? Jadi deh kami nambal dulu. Baru pertama kali ini dt liat orang nambal ban, and it was wow-ing. Semua didasarkan ke ilmu fisika sederhana. Belum lagi alat-alat yang dipakai memang sederhana banget, plus murah abis. Empat ribu perak, ban tertambal, plus dapet dua gelas teh manis anget, krupuk, en jeruk. Mantep ga tuh..

Ban beres, kami lanjut hunting balita yang ternyata makan waktu lebih pendek dari kemaren. Harusnya sih langsung balik ke puskesmas, tapi daripada semacam males nongkrong ga jelas di sana, mending kami jalan-jalan deh. Dan jujugannya adalah waduk Jatiguwi.

Untuk sampai ke sana sih jalannya ga susah. Lurus aja. Tapi ya gitu, medannya bukan jalan halus beraspal, tapi jalan terjal berbatu a.k.a. jalan makadam. Hehe.. Tapi demi jalan-jalan, dijabanin deh.

Dari jalan bagus yang beraspal itu waduk sudah kelihatan, jadi dt pikir deket. Ternyata setelah dijalanin kok ya lumayan jauh. Habisnya itu jalan makadam rasanya ga berujung. Dan sebelum terperosok ke jalan yang lebih jauh dan lebih ancur, berhentilah kami di deket jalan setapak yang sepertinya mengarah ke waduk.

Jalannya sedikit lebih lebar daripada pematang sawah dan menurun banget, jadi motor kudu di parkir dan ditinggal deket sawah. Petualangan berlanjut dengan jalan kaki. Itu jalan pematang berujung di tebing curam yang langsung ngadep ke waduk dan ada satu gubuk yang biasanya dipake penambak buat istirahat. dt nekat aja ke sana walaupun keamanan itu gubuk ga terjamin. Tapi udah jauh-jauh juga, kepalang tanggung, kan.. Kalau ga aman juga, paling-paling nyemplung ke waduk.

Nah, pas di gubuk nih lumayan horor. Secara itu gubuk emang ga meyakinkan dan rada reyot, dan kalau beneran jebol juga lumayan. Soalnya ada sekitar lima sampe tujuh meter tingginya itu gubuk dari air permukaan waduk. Berhubung sudah sampe sejauh ini, rasanya ga lengkap dong kalau ga foto-foto.

Tenang, seri pemotretan selalu ada. Jadi dt gantian saling jepret sama Zenta. Walau sayang ga bisa dt pajang sekarang soalnya dt lagi pake hape, dan hasil jepretan foto yang berobjek dt ga terlalu bagus. Tapi apa mau dikata, sense njepret Zenta memang jauh daripada dt, jadi bagusan fotonya Zenta daripada foto dt *ditendang*.

Hm, untuk hasilnya, dt upload lain waktu deh..

Senin, April 06, 2009

Jatiguwi Adventure (1)

Tepar.

Gempor.

Kelenger.

Terserah deh apa namanya. Yang pasti sekarang dt kecapekan. Dari jam sembilan pagi sampe jam satu siang keliling desa dari ujung sampe ke ujung lagi, dari pinggir jalan besar sampe ke antah berantah. Ngapain? Nyariin 11 balita BGM.

Ha? Ga tau BGM? Okeh, dt jelasin dikit. BGM atau Bawah Garis Merah adalah sebutan bagi balita dengan berat badan di bawah range berat badan normal.

Oke, kembali ke pencarian 11 balita BGM. Sebenernya ini tugasnya instruktur dt, tapi berhubung ada kami, maka jadilah kami diberdayakan dan nggantiin tugas bu Hermin buat melacak kasus gizi buruk.

Nah, dt berpartner sama Zenta sebagai pengendara dan dt navigatornya. Eh, eh, selama di sini kemampuan navigasi dt meningkat tajam, bo! Nah, pertama dt ke polindes dulu buat tanya ke bu bidan Nur di mana aja 11 anak itu berada, yang ternyata pencar-pencar. Yang satu di mana, yang lain di mana. Tapi yang namanya kewajiban ya kudu dijalanin, kan.

Berpetualanglah dt bareng Zenta naek motor lewat persawahan yang menghijau (eh, udah kuning, ding. Udah ada yang panen juga) bahkan kita juga sempet nemuin waduk, bo! -hm, bisa dijadiin objek jepret tuh-

Setelah empat jam penjelajahan dan perjuangan penuh peluh dan nyaris gosong gara-gara naik motor di siang bolong, dt n Zenta berhasil dapet 4 balita, hohoho.. Dan perjuangan masih berlanjut besok.

Minggu, April 05, 2009

Somehow

Tiba-tiba aku merasa sedih

Mereka bilang rasa cinta hanya bertahan selama empat tahun
Dan angka empat itu sudah hampir terlewat sejak rasa itu datang

Cinta...
Bukan, sepertinya bukan cinta
Hanya sekadar perpaduan rasa kagum dan ingin tahu yang dalam
Sangat dalam

Dan kini
Perlahan
Rasa itu mulai pudar

Dan entah mengapa aku merasa sedih

Senin, Maret 30, 2009

Sumberpucung Side (1)

Situasi kerja dt di puskesmas sumberpucung ga nyaman. Dan masalah ada apa instruktur komunitas, the one and only, bu Tri Hermin.

Ga tau kenapa, sejak awal dt ga suka sama ibunya. dt ga suka sama mulutnya. Ga suka sama cara ngomongnya. Ga suka sama model bajunya. Ga suka sama cara pake jilbabnya. Ga suka.. Ga suka deh pokoknya.

Dari tampangnya sih ga keliatan ga smart, but dont judge a book from its cover, right? Unfortunately, you can judge it from its cover this time. Udah ga smart, ga profesional, plin-plan pula, plus beliaunya bermasalah dengan kepala puskesmas yang bisa-bisa menyusahkan nilai kita entar..

Tugas kami di sini harusnya ambil data sampel dan evaluasi program puskesmas yang notabene harus turun ke lapangan bukannya ngedon di puskesmas. Sayangnya instruktur kami minta separuh dari tim untuk stay di puskesmas. Ngapain juga diem-diem ga guna kan mending jadi tenaga tambahan buat ambil data sampel di desa. Dan walaupun sudah kita coba ngobrol model apa juga untuk mempermudah kami ambil data, tetep ga guna, karena keputusan bergantung pada mood nih orang.

*sighed*

Jumat, Maret 20, 2009

Wlingi

Wlingi, oh, Wlingi...

Sudah sekitar sebulan dt magang di rumah sakit Ngudi Waluyo, Wlingi. Dulu sih, awalnya, dt rencana ngisi blog secara teratur kek pas di Kalisongo dulu. Via hape, gitu. Tapi ternyata kegiatan di sana sangat jauh lebih padat daripada pas praktik PIPPG, jadi ga sempet ngeblog deh... Hohoho...

Oke, ada yang tau Wlingi itu di mana? Ha? Engga? Ya... ya... Dimaklumi... dt awalnya juga ga tau Wlingi itu makanan apa, eh, ternyata nama sebuah kecamatan deket Blitar. Ha? Ga tau Blitar juga? Kelewatan ah. Blitar itu kota di mana Proklamator kita dimakamkan... (kualat lo entar kalo ga tau... ;)) *ngawur*)

Nah, selama magang, kebetulan dt kedapetan instruktur yang sangatamatsuperduperbaiksekali. Namanya bu Eni Kusmiyati Rahayu dengan nomor NIP 140 333 143 (hapal bo~). Bu Eni ini nih orangnya kooperatif, nyantai, akrab, mmbumi, pokoknya asik banget deh. Dan itu menghasilkan respek dt ke bu Eni, ga kek Instruktur yang lain... *lirikin Uut dan jeng K*

Ah, ya, kisah Uut dan jeng K... Nah, salah satu instruktur rumah sakit namanya tuh Eko Muji Nur Utami yang lebih suka menyebut dirinya dengan sebutan Uut Permatasari (goyang dulu mang~) dan kami lebih suka menyebutnya dengan Uut Pematangsawah. Ni orang nyolot banget. Dikit-dikit salah. Dan kesalahan yang diungkit selalu masalah kecil dan ga penting. Masalah rambut yang kudu digelung lah, masalah baju yang kudu seragam kek perawat lah (dt kan ahli gizi bu~ T.T), masalah yang kudu nyapa keras-keras kek anak teka lah, gitu-gitu deh... Geje... Oia, pernah dia ngedumel ke temen-temen pas temen dt -Septa- dateng telat soalnya dia baru pulang dari Ngalam. Kita dah takut sendiri si Septa bakal diapa-apain. Eh, ternyata pas si Uut ngadepin si Septa yang emang lebih tinggi soalnya orangnya jangkung, Uut cuma mesam-mesem fine-fine aja... Nyebelin..

Jeng K a.k.a. Kristina Kusumaningrum yang awalnya dt anggep orang yang kritis, ceplas-ceplos, dan profesional. Ternyata, ada kejadian yang bikin imej orang ini jatuh di mata dt. Jadi, temen dt yang namanya Laras, digodain sama Mr A atau pak Agus, orang Pemeliharaan Sarana yang dari awal dt ga suka sama tampangnya -ga tahu kenapa. Nah, pas Mr A nanyain nomer henpun Laras, Larasnya ya males aja, ngapain ngeladeni orang tua geje, gitu.. gitu mungkin yang Laras pikir, dan berujung tidak ada nomor yang tersebar. Tapi besoknya, Mr A ini nelpon Laras! How come! Ga mungkin temen-temen yang ngasih tau dan ga ada instruktur selain bu Eni yang tahu nomer henpun Laras. Sempet kita curiga ke bu Eni dan tanya langsung, dan mentah-mentah dijawab engga dan memang bukan hak bu Eni buat tebar-tebar nomer henpun orang.
Cerita punya cerita, Sofyan kemaren ditanya sama jeng K nomer henpun Laras. Dan berhubung Sofyan tuh orangnya positive thinking-an, dikasihlah itu nomer henpun Laras. Dia pikir jeng K ada urusan pribadi sama Laras or something. Dan kecurigaan langsung beralih ke jeng K. Dan hancur pula imej jeng K di mata dt.

Oia, untuk beberapa hari, dt sempat memasang status "Semoga selingkar cincin mampu menghalau pentol korek kacang ijo geje" di YM. Nah, ada ceritanya tuh.


Jadi, pas ulang tahun Kostrad, anggota Kostrad ngadain bakti sosial yang bertempat di RSU Ngudi Waluyo. Maka jadilah bertebaran para tentara yang sering dt sebut dengan pentol korek kacang ijo. Awalnya sih biasa aja, tapi pas dt ngolah data di taman bareng Laras, kita digangguin sama satu pentol korek yang geje abis. Ga tau kenapa sejak itu, dt pindahin cincin perak 25.000 dt dari tangan kanan di jari tengah ke tangan kiri di jari manis. Tujuannya? Buat mereka berasumsi sendirilah.

Ah, iya, photo session ga pernah ketinggalan...

Sabtu, Februari 14, 2009

Val Day

Valentine Day

Setiap orang pasti ingin beromantis-romantis ria dan dapat kiriman hadiah dari orang tersayang.

Oke sekarang bayangkan, saat kalian bangun tidur dan membuka kamar kalian menemukan sebuah pemberian untukmu dan pemberianya menunggu sampai kau menemukan pemberian itu.

Isn't it sweet? Isn't it romantic?

So, this is the problem. How if the gift is a rat and the one who give you a gift is a cat?

That's what happened to me. Bangun tidur dt nemuin bangkai tikus utuh yang nangkring manis di atas sandal dt dan Songong -nama kucing jantan yang doyan mampir ke kosan- sudah nongkrong dengan setia di samping pintu kamar kosan dt. Kesannya si Songong ini ngasih hadiah spesial buat dt.

Yang lucu, dt pernah mendeskripsikan dalam karakter dt di IH -Destiny- punya peliharaan elang kecil -Merlin namanya- yang doyan ngasih bangkai tikus ke Destiny sebagai hadiah. And now it's really happened to me.. Hahaha..

Well, that's my unique valentine's story. How about yours?

Selasa, Februari 10, 2009

Baby Edo

Hari ini dt ada pembekalan untuk pemagangan mulai tanggal 23 entar. Hari ini kita review Nutritional Assessment a.k.a. Pengkajian Status Gizi. Nah, di Nutritional Assessment ini kita menghitung ukuran tubuh dan komposisi klien kita berikut pola makannya. Terus dianalisa dan diinterpretasikan agar tahu gimana kondisi status gizi mereka.

Nah, kali ini pake roleplay. Biar kita bisa latihan prosedur yang sebenar-benarnya.

Kelompok dt kebagian kasus dengan klien seorang balita pria berusia 30 bulan (2,5 tahun) dan dt berperan jadi ibunya (Muakakakaka... dt... ibu... >.<). Kenapa harus ada peran ibu? Karena kan ga mungkin dapet data pola dan kebiasaan makan si balita tanpa pengasuhnya. Masa mu nanya ke si balita ^^. Dan jadilah dt mengarang indah apa yang Edo makan sehari-hari. Oia, Edo itu nama yang dt kasih ke boneka yang dibuat praktik ukur-mengukur tubuh klien. *digeplak, seenaknya sendiri ngasih nama ke boneka*

Eniwei, si Edo ini gizi buruk parah. Umur dua setengah tahun beratnya cuma sembilan kilo, tingginya ga sampe semeter, plus belum bisa berdiri tegak. Kakinya bengkok gitu deh. Kesian yak...

Tapi ni boneka lucu banget lo. Mirip banget kek bayi aslinya. Beratnya. Tekstur kulitnya. Persendianya. Ih... imut banget lo... Pengen bawa pulang aja rasanya. Tapi berhubung ini inventaris kampus, jelas dt ga bisa pulang.

Oia, ini poto dt bareng Edo~

Senin, Februari 09, 2009

Cinta BUKAN tentang Pengorbanan

Salahkan karena ini bulan Februari dan dt kapan hari nonton Never Been Kissed, kalau tiba-tiba dt jadi ngomongin hal yang paling tidak pernah habis dibahas oleh umat manusia.

Cinta.

Yeah...

"Cinta itu kek apa sih?"

Itu pertanyaan yang dt ajukan ke beberapa temen online dt di tengah malem buta tanpa sebab-musabab yang jelas. Tiba-tiba aja dt mempertanyakan apa cinta itu dan berhubung dt ga ngerti, dt coba tanya ke yang lain. Siapa tahu mereka bisa jawab.

Seseorang bilang cinta itu masalah.
Bila ita mencintai seseorang, kita cenderung menimbulkan masalah untuk orang itu. Pun sebaliknya.
Tapi bukankah hidup dari awal memang penuh dengan masalah? Lagipula apa pula hidup tanpa masalah. Hidup yang datar dan hambar. Enak mungkin karena tidak perlu pusing karena masalah. Tidak perlu pusing karena cinta.
Tapi tahukah kau, LOVE LIVES THE LIFE.

Seseorang bilang cinta itu seperti api.
Hangat, berguna, tapi kalau kau tidak berhati-hati justru akan membakar dirimu sendiri.
Dan kini, siapa yang tidak hidup tanpa api?
Tapi manusia pernah hidup tanpa api. A time before the human discover the fire.
Tapi tetap saja, setelah manusia menemukan api, mereka terus berusaha menjaganya agar tetap menyala dengan resiko adanya kemungkinan terbakar.

Dan orang yang lain bilang rasa cinta itu seperti apa yang terakhir menyentuh bibirmu.
Bagaimana kalau yang menyentuh bibir dt air putih?
Apa artinya cinta itu hambar dan tanpa rasa? Atau justru menyegarkan?

Entahlah.

Tapi yang dt tahu, cinta itu BUKAN tentang pengorbanan.
Karena yang dt tahu, pengorbanan hanya muncul dalam penghambaan.
Dan dt menghamba hanya pada Allah. Bukan pada cinta.