Rabu, November 11, 2009

What a Geisha is

Dalam berapa hari terakhir ini dt mencekoki diri sendiri dengan film Memoirs of a Geisha. Yeah, dt tahu itu film lama. Tapi semua juga tahu kalau itu film bagus. Jadi jangan salahkan dt kalau dt nonton ulang untuk kesekian kali. Lagi. Lagi. Dan lagi. Dan entah kenapa dt ingin punya kemampuan layaknya seorang Geisha.

Menurut kalian, apa Geisha itu? Pelacur? Wew, kalian salah besar. Menurut bahasa, Geisha yang terdiri dari dua huruf kanji, yaitu Gei (yang artinya seni) dan Sha (yang artinya orang), memiliki arti seniman. Jadi bisa dibilang kalau Geisha adalah karya seni berjalan. Setiap gerakan, suara, dan kata-kata dihasilkan oleh seorang Geisha adalah seni. Cara mereka bertindak, berbicara berjalan, duduk, tidur, bahkan melihat, memiliki tekniknya sendiri. Bisa dibilang, Geisha itu seperti sosok Barbie-nya Jepang. Sebuah sosok sempurna yang isinya hanya misteri dari keindahan.

Sejak jaman Meiji yang berawal sekitar pertengahan abad 19, Geisha mulai dikenal. Yang namanya Geisha awalnya adalah seorang pria, sedangkan yang wanita dikenal sebagai Odoriko. Nah, dt ga tahu sejak kapan seniman wanita juga disebut sebagai Geisha. Nah, sekarang apa sih kerjaannya seorang Geisha? They entertain. Menghibur. Mereka menari, menyanyi, memainkan musik, menuangkan sake, dan menemanimu ngobrol.

Yang Geisha lakukan saat bekerja kebanyakan adalah menemani klien mereka. Jaman baheula dulu, setiap pernikahan kalangan atas adalah pernikahan yang diatur yang biasanya mereka juga ga bebas untuk berkeluh-kesah dengan istri atau anggota keluarga yang lain. Makanya mereka membeli jasa Geisha untuk menemani mereka. Mendengar dan menghibur mereka. Everyone wants to be heard. Dan inget, no sexual things include.

Hm, kalo ga bawa-bawa hubungan seksual, kenapa Geisha bisa dikonotasikan sebagai pelacur? Well, semuanya berawal sejak Perang Dunia ke-2, di mana Jepang ikut ambil andil. Saat Jepang kalah dan negara mereka mulai "dijajah" Amerika, warga Jepang mau ga mau kudu menerima keberadaan tentara Amerika di tanah mereka. Dan layaknya tuan rumah yang baik, Jepang berusaha menunjukkan keramahan mereka dengan menyajikan budaya terbaik oleh seniman terbaik. Para Geisha dipanggil. Bagi tentara berpendidikan dan berpangkat tinggi, atau pengusaha Amerika dari kalangan atas tentu senang dengan keramah-tamahan dan keindahan seni tradisional Jepang.

Tapi bagaimana dengan tentara kelas bawah yang hanya tahu menerima perintah atasan mereka? Mereka ga peduli dengan misteri Geisha dalam balutan kimono tebal. Mereka ga peduli kelembutan gerakan butō yang Geisha tarikan. Mereka ga peduli indahnya alunan musik hasil petikan shamisen para Geisha. Mereka ga peduli dengan kemampuan berbahasa dan berbicara para Geisha. Yang mereka pedulikan hanya wanita-wanita dengan dada dan paha terbuka. Jugun Ianfu. Pelacur-pelacur dalam kimono tipis dengan bedak tebal dan bibir merah. Tapi tetep aja para tentara yang ga ngerti budaya Jepang menyebut mereka dengan sebutan Geisha.

Dan asal kalian tahu, Geisha asli itu orang yang berpendidikan. Mereka harus bisa membaca, menulis, tahu sejarah dan budaya, bisa berpuisi dan berpantun, bisa memainkan musik dan menari, intinya yang kek dt bilang tadi. Sebuah karya seni berjalan yang mampu menghadapi orang-orang dengan bahasa dan tindakan yang cerdik. Lagipula, untuk bisa jadi temen ngobrol yang sebanding dan tidak membosankan dari orang-orang kalangan atas yang berpendidikan, para Geisha juga ga boleh kalah tinggi pendidikannya. Makanya cuma para kalangan atas yang bisa menjangkau dan membeli jasa para Geisha. Karena jasa Geisha mahal. Berapa duit yang keluar untuk memfasilitasi pendidikan mereka? Berapa duit yang keluar untuk memoles diri dengan make up dan kimono sutra yang mahalnya naudzubillah? Berapa duit pula buat biaya hidup dan makan mereka?

Euh, jadi makin ngelantur, kan...

Jadi yang dt inginkan adalah kemampuan mendengar dan menghibur seorang Geisha. Menjadi teman ngobrol yang sebanding untuk tiap orang. Tahu kan kalau dt seorang calon dietitian alias konselor nutrisi yang intinya nanti kerjaan dt itu jual omongan? Itu artinya, sebelum omongan dt didenger orang lain, dt harus denger orang lain dulu. dt harus dapetin kepercayaan orang lain dulu. Sebelum dt bisa nentukan dan nganjurkan sesuatu untuk mereka, dan membuat mereka menuruti saran yang dt kasih.

Anyway, dt masih takjub dengan sosok Geisha. Bisa dibilang, mereka adalah boneka. Mengatur diri begitu ketat agar dapat selalu menjadi sosok sempurna seperti yang diinginkan dan dikhayalkan setiap orang. Mereka tidak diizinkan memiliki keinginannya sendiri. Mereka tidak diizinkan untuk memilih cintanya sendiri. Karena mereka tidak punya pilihan lain selain menjadi boneka dalam kaca yang dipuja orang dan harus tampak sempurna setiap saat.

Kalau dipikir-pikir siapa sih yang mau hidup dalam segala ikatan peraturan yang begitu mengikat sampai-sampai ga diizinkan untuk bertindak sesuai keinginan diri sendiri? Ga ada. dt yakin ga ada.

We become Geisha not to pursue our own destinies. We become Geisha because we have no choice. - Mameha, Memoirs of a Geisha.

Minggu, November 08, 2009

Semoga Malang Mendapatkan Kembali Predikat Dinginnya.

Hari ini Malang disiram hujan. Walau cuma sedikit, jelas rintikan air itu mampu sedikit demi sedikit mengembalikan suasana Malang yang dingin. Paling tidak malam ini akan lebih sejuk daripada malam-malam sebelumnya, dan sepertinya dt perlu mengeluarkan selimut tipis dt. Tahu kan kalau dt punya kebiasaan tidur pake selimut ga peduli seberapa hangat suhu saat dt tidur? Well, tidur pake selimut di sini ga berarti selalu bergelung dalam selimut. Terkadang, saat cuaca pengap tak tertahankan, selimut akan tetap menemani dt walau cuma dt peluk.

Dan sekarang dt sedang menikmati belaian dinginnya angin yang sengaja dt izinkan masuk dengan membuka separuh pintu kamar. Yeah, yang lain juga turut masuk, tentu. Nyamuk, maksudnya. Menurut dt dingin dan sejuknya suhu kamar saat dt berangkat tidur nanti akan sebanding kalau harus diiringi pengantar tidur khas para nyamuk yang hanya bisa menghasilkan satu jenis bunyi. Nging. Tapi ga masalah, dt sudah siapin antinyamuk untuk menjamin kenyamanan telinga dt saat berangkat tidur nanti.

Semoga suasana seperti ini akan tetap terjaga.
Semoga esok matahari tak lagi terlalu berani dan membiarkan awan menirai sinar dan panasnya.
Semoga esok awan akan membawa hujan walau hanya sejenak.
Semoga esok hujan mampu menyejukkan hari dan mengundang angin untuk berdansa.
Semoga esok angin berdansa dan mampu memberikan kenyamanan bagi kami.

Dan semoga Malang mendapatkan kembali predikat dinginnya.

Jumat, November 06, 2009

Malang Panas

Wahai warga Malang, entah hanya perasaan dt atau bukan, tapi menurut dt, Malang panas. Paling tidak untuk beberapa hari terakhir ini (Soalnya emang baru balik hari Selasa dari rumah). Dan tolong jangan bawa-bawa becandaan "kebanyakan dosa tuh" yang sering dt pake. Soalnya dt juga mendapat pernyataan serupa dari temen-temen yang menurut dt dosanya lebih sedikit daripada dt.

Jadi, sejak Selasa dt tidur tanpa berbalut selimut. Padahal umumnya, dt selalu tidur bergelung bareng selimut kalo di Malang. Dan untuk pertama kalinya dt menjauhkan diri dari yang namanya selimut dan memilih untuk meraih kipas yang sudah mulai berdebu soalnya ga pernah dt pake.

Hari ini, setelah menemani Rakhmi dan Afni yang baru selesai sidang skripshit (Lulus!) kami berlanjut ke Cafetaria UB bareng Lucky dan Ekka. Nah, pas lagi asik menghabiskan jus alpukat hasil traktiran dua orang yang baru dinyatakan lulus itu, Ekka nyeletuk kalo di luar sana gelap. Padahal waktu itu masih jam duabelas lewat sedikit. Tumben. Biasanya jam segitu lagi panas-panasnya yang pasti bakal bikin kita dehidrasi tanpa membuat kita berkeringat, soalnya keringatnya keburu menguap saking panasnya.

"Wah, mau ujan keknya.."

Waduh, padahal dt lagi ngegembol Ichibun dan ga bawa payung. Mana dt juga punya jemuran pula. Dan reflek dt langsung berdoa, "Ya Allah, semoga hujan turun saat setiap orang siap." Well, definisi setiap orang di sini itu dt maksudnya.. *ngakak setan*

Sesampainya di kosan, dt lihat jemuran sudah dipinggirkan ke tempat aman. Wah, sudah ada yang siap-siap kalo ujan ternyata. Tapi setelah di tunggu, sepuluh menit, setengah jam, dua jam, dan akhirnya sampai terbitnya entri ini, Malang belum juga dijatuhi tetesan air yang sebenarnya bisa menyegarkan suasana.

Malang panas... *kipas-kipas*

Kamis, November 05, 2009

Happy Guy Fawkes Day

Remember, remember the fifth of November
The gunpowder treason and plot
I know of no reason why the gun powder treason should ever be forgot

But what have the man?

I know his name is Guy Fawkes
And I know it was 1605 when he attempted to blow up the houses of parliament
But who was he really?
What is he like?

We told to remember the idea not the man
The man can failed
He can be caught
He can be killed and forgotten

But four hundreds years later
An idea can still change the world

I have witness first hand the power of the ideas
I see people kill in the name with them
And die defending them

But you cannot kiss an idea
Cannot touch it or hold it

Ideas did not bleed
They did not feel pain
They did not love

And it is not an idea that I missed
It is a man
A man who made me remember the fifth of November
A man that I would never forget

Selasa, November 03, 2009

Ngelu..

Dalam rangka pengumpulan data buat skripshit tersayang, kemaren dt ke kantor mama dengan baju ala pelamar pekerjaan. Bahkan sekretaris mama bilang kalo tampilan dt kemaren feminim banget. Yah, bisa dt maklumin, berhubung kalo ke kantor mama, dt lebih suka pake jeans dan kaos santai, nah sekarang pake kemeja, rok selutut, plus heels. Waktu dt ngaca juga dt juga rada kaget, sudah lama rasanya ga dandan kek gini sejak ga ada kuliah.

Well, sudah pada tahu kan kalo di kampus dt, urusan baju juga diatur, jadi setiap mahasiswa yang kuliah kudu tampil rapi dengan catatan no jeans, no shirts, and no sandals, of course. Tujuan kampus sih sepertinya membiasakan mahasiswanya untuk tampil rapi dan berkredibilitas. Dan sepertinya kampus juga ngerti kalo penampilan memang bukan segalanya, tapi penampilan bisa memngaruhi segalanya. Ambil contoh gini deh, ada dua dokter sama-sama ahli, sama-sama pinternya, yang satu tampilannya rapi n wangi, yang satunya awut-awutan. Nah, mau pilih yang mana?

Oke, kembali ke acara kemaren. dt berencana untuk sampling karyawan kantor mama, makanya mama nolongin dengan nyoba menghubungkan dt dengan pak Adam. Nah, pas ngobrol sama pak Adam, pak Adamnya bilang sih bisa aja. Bahkan dt juga diizinkan mengakses medical record yang kudunya classified (tenang, dt ga merencanakan hal yang aneh-aneh sama data-data itu). Sekarang tinggal ngurus prosedur dan persyaratannya. Kata pak Hanafi (bawahannya pak Adam yang biasa ngurus hal begini), dt diminta untuk nyerahin proposal dan surat pengantar dari kampus. No problemo.

Itulah mengapa dt ngampus hari ini. dt berencana untuk ngurus ijin surat-menyurat itu sekalian konsultasi ke ibu dosen pembimbing tersayang. Nah, pas nyampe kampus, dt langsung ngejujug ke kantor beliau yang ternyata dt tidak menemukan batang hidungya di sana. Ngajar mungkin, gitu pikiran dt. Makanya akhirnya dt milih ke kantin buat online dan kirim sms ke beliau, nanyain kapan ada waktu luang hari ini.

Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit lebih sedikit, akhirnya datang sms balasan.

Saya lagi di Bangkalan, ayah saya meninggal kemarin. Telpon aja.

Aduh, ngelu! Begitu diniatin ngampus, yang dicari malah ga ada. Belum lagi, semua perizinan harus beres dalam minggu ini mengingat kedua dosen pembimbing dt berangkat haji akhir minggu ini.

Anyway, dt juga menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya ayah dari ibu Nurul Muslihah. Semoga amalan beliau diterima dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan.

Women Should Work

Well, at least that what i think...

Ini berawal saat dt membaca status facebook temen yang bilang: “berapa usia ideal cewek nikah, sih?” Nah, saat pengen ngirim comment, tak disangka tak dinyana ternyata dt kehabisan pulsa. Maklumlah, kalo udah online kadang sering kalap dan lumayan sering kejadian model gini. Jadilah dt kirim komentar dt lewat sms (pulsa online sama pulsa sms terpisah, fyi).

dt: Kata mama sih, umur 24—25an lah yang pas. Kenapa? Udah ada yang ngelamar nih?
Adina: Belum ngelamar sih. Iseng-iseng aja dia ngajak nikah. Haha.. Rabu depan aku 23 lo, bentar lagi dong. Emang dt mau nikah umur berapa?
dt: Ebuset, ngajak nikah kok iseng. Haha, tuwek awakmu! *tongue* dt sih ntar aja 28an. Pengen kerja dulu biar dapet financial freedom dulu sebelum nikah biar punya bargaining position di mata suami (halah bahasaku)
Adina: Emang kalo punya financial freedom bisa dapet bargaining position? Aku masih ga ngeh korelasinya apa? *garuk kepala*
note: texting di atas telah dipersingkat dan diedit demi kenyamanan bersama :p

Nah, acara texting itu berhenti saat dt bilang kalo mendingan dibahas kalo ketemu karena ga bakal cukup kalo dijelasin selembar sms (kuliah satu sks aja belum tentu cukup).

Sampe sekarang dt masih percaya kalau wanita sebaiknya juga bekerja dan punya penghasilan sendiri dan punya kebebasan finansialnya sendiri. Karena kalau melihat pola keluarga di sekitar dt, dt malah melihat ketidakseimbangan di keluarga yang ibunya justru ga bekerja. Eh, salah, ga berpenghasilan sendiri, lebih tepatnya.

Kenapa pake istilah tidak memiliki penghasilan sendiri? Karena menurut dt, ibu rumah tangga juga sebuah pekerjaan. Sebuah karir (yang harusnya juga memberi penghasilan yang ga mereka dapat). Dan kalau dilihat sampai sekarang, status pekerjaan ibu rumah tangga masih disamakan dengan para pengangguran yang ga kerja karena mereka ga menghasilkan rupiah.

Ah, such injustice..

Dan hanya karena tidak membantu mengisikan koin ke celengan ayam, ibu rumah tangga sering jadi warga nomor kesekian karena dirinya (dan mungkin para suami juga) merasa hanya berfungsi sebagai tukang makan gaji suami yang sering kali pendapatnya tidak terlalu didengar dan sering kali diremehkan.

Lah, ibu rumah tangga kan ngurus anak dan rumah.

Menurut dt sih, urusan ngurus anak dan rumah itu tergantung komitmen tiap orang. Ga begitu ngaruh apakah sang ibu bekerja atau berkonsentrasi jadi ibu rumah tangga. Coba lihat wanita-wanita yang mengaku sebagai ibu rumah tangga, apa mereka masih sempat mampir ke dapur buat masak masakin makan malem buat orang serumah? Apa mereka ga punya pembantu atau babysitter yang nongkronging anaknya? Apa anak-anak mereka memberikan kepercayaan pada mereka? Apa anak-anak mereka membagi setiap cerita mereka hari itu entah yang sepele hingga yang rahasia pada mereka? Kalau iya, well, mereka benar-benar ibu rumah tangga.

Sekarang coba lirik wanita pekerja yang berkomitmen untuk mengurus keluarga, toh mereka masih punya waktu untuk keluarganya, suaminya, anak-anaknya. Terus sekarang lirik wanita tidak bekerja yang ngaku ibu rumah tangga tapi tetep ga tahu apa acara tivi favorit anaknya. Ada kan? Well, once again, being parents are all about commitment. Dan ga cuma buat wanitanya, tapi juga kaum prianya.

Kebanyakan pria bakal angkat tangan dan kaki kalau disuruh ngurus anak dan lebih milih kerja atau sok tenggelam dengan kesibukannya sendiri. Aduh, aku sudah seharian kerja masa disuruh ngurus anak juga. Yeah, kerja itu alasan yang paling sering dipake para lelaki buat melarikan diri untuk ngasuh anak. Dan kalau istri juga kerja dan berpenghasilan, otomatis suami ga bisa pake kalimat pamungkas itu. Eh, tapi bukan berarti dua-duanya jadi ga mau ngurus anak, ya.

note: Kalau ga ada komitmen untuk ngurus dan ngedidik anak, tolong jangan sok-sok-an bikin anak, ya… *wink*