Kamis, Desember 31, 2009

A Lil Inconvenience on the Way Back Home

Oke, jadi dt janji nyeritain tumpukan duka-duka kecil yang menyebalkan di akhir perjalanan liburan natal dt yang menyangkut komplain ke beberapa pihak yang dt urung tulis di status FB karena khawatir entar berujung kek Prita Mulyasari atau Luna Maya *rofl*. Tapi akhirnya dt jabarin juga dt blog. Wkwkwk. Jangan khawatir, bakal dt tulis sehalus mungkin dan berusaha untuk hanya menjabarkan fakta yang ada (tapi bo’ong :p).

Diawali dengan kelelahan yang memuncak setelah muter-muter Muzium Negara yang isinya harusnya tentang sejarah Malaysia tapi menurut dt lebih pantas disebut dengan sejarah Malaka dan kaum Melayu karena juga masih banyak sangkut-pautnya dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, yang dilanjutkan dengan naik teksi ke train stesen (itu ejaan Malaysia lo :p). Nah, di sana ada express train yang mengantarkan kita langsung dari KL center ke KLIA. The fastest and greenest way to KLIA. Dan paling mahal juga tentunya. Kalo naik bus, cuma butuh 8 ringgit perorang, kalo naik itu kereta habis 35 ringgit perorang. Empat kali lipat lebih bo! Cepet sih. Nyaman sih. Tapi mahal. Tapi berhubung cuma sekali-sekali, dijabanin deh, biar tahu rasanya gitu, hehe. Nyampe di KLIA, kita nyari counter Air Asia (pertama kalinya nyobain naik maskapai ini nih) yang ternyata ga ada. Nah lo! Tanya sana-sini, ternyata seluruh penerbangan Air Asia itu ada di LCCT. Ngek! LCCT itu semacam terminal anak kalau KLIA adalah terminal induknya. Jadi, dari KLIA kita naik bus 2 ringgit –yang dt kirain gratis– ke LCCT. Check in, masuk imigrasi, lirik jam, masih ada dua jam lagi sebelum pesawat boarding yang langsung dt isi dengan ngubek-ubek book store di airport.

Buku-bukunya standar kek yang ada di book store lain di airport. Buku-buku baru karangan Stephenie Meyer dan Dan Brown masih merajai, didampingi novel-novel sepanjang masa punya Agatha Christie, Sidney Sheldon, dekaka. Walau sayangnya dt ga bisa nemuin buku-buku Katie MacCallister, dt nemuin satu buku yang sepertinya menarik yang berjudul Beyond Black (dt lupa siapa pengarangnya). Di rak cuma tinggal satu. Cacat pula. dt tanya ke yang jual siapa tahu masih tersimpan eksemplar yang masih sempurna entah di mana. Tapi ternyata kata penjualnya cuma tinggal yang ada di rak. Ragu mau dt beli. Cacat. Sampul cuil, ujung buku melengkung, halaman-halaman terlipat, belum lagi harganya yang dua kali lipat lebih dari harga novel normal kalau dikurskan ke rupiah. Dan dengan berat hati dt melangkah keluar dari toko buku dengan tangan hampa.

Diem-dieman nunggu pesawat dengan buku sudoku di tangan, dt yang lupa bawa jaket mulai kedinginan diterpa AC airport. 19.40 – oke, lima menit lagi. 19.50 – lah kok belum ada panggilan boarding. 20.10 – sebuah pengumuman menyatakan bahwa pesawat Air Asia yang harusnya dt tumpangi mengalami kelewatan (bahasa Malay-nya delayed tuh). Ngek! Dan ditengarai pesawat akan berangkat pada pukul 21.45. Dobel ngek! Walah, udah kedinginan, kelaperan, nganggur pula. Dan langsung direspon mama dengan kalimat singkat, ”Ini terakhir kalinya naik Air Asia.” Jiahaha. Duh, yang biasa punya bargaining position tinggi.

Setelah menunggu pesawat sambil ditemani teh hijau panas yang ga hijau dan mahal (yaiyalah, beli minum di airport gitu...), naik juga kita ke pesawat dan langsung memejamkan mata saking lelahnya dan menidakpedulikan jualan makanannya kru pesawat. Oia, kalo di Air Asia kita ga dapet makan-minum, tapi kita dikasih menu ala carte biar bisa milih makanan untuk dibeli di atas pesawat. Tapi kalo kalian duduk di bangku dengan nomor-nomor akhir, jangan harap punya banyak pilihan makanan atau minuman karena udah tinggal yang tersisa aja.

Penerbangan diakhiri dengan teknik landing yang ga begitu mulus (yang sebenernya dt suka karena exciting, tapi buat banyak orang hal ini menakutkan) dan berlanjut dengan berjalan ke imigrasi. Dengan muka lencu dan setengah sadar karena lelah dan mata masih berat karena belum tuntas tidur di pesawat dt berjalan gontai melewati imigrasi. Ga heran, jam udah nunjukin setengah dua belas lebih waktu Surabaya. Pas ngantri di imigrasi, ada aja orang yang seenaknya nempel di belakang dt sambil ngawe-awe temennya biar ikutan motong antrean. Langsung aja papa ngejawil dan nyuruh itu mbak-mbak ambil antrean yang bener.

Lepas dari imigrasi tinggal melewati bea cukai untuk bisa keluar dari airport. Dan berhubung dt ga bawa bagasi atau barang yang butuh persetujuan bea cukai, nyelononglah dt ninggalin adek, mama, n papa di belakang buat masukin backpack sekolahan dt ke mesin pemindai yang langsung dihadang petugas laki-laki dengan pertanyaan ketus ”Kertasnya mana?” Yang dimaksud adalah kertas pernyataan deklarasi yang ada hubungannya sama bea cukai. ”Ada di ayah,” dt jawab pendek aja sambil nunjuk Papa yang lari-lari kecil di belakang dt. Pas masukin backpack sekolahan dt ke pemindai, dt dapet satu pertanyaan lagi dengan nada yang sangat judgmental, ”Mana bagasinya?” ”Ga ada.” Heran deh, emang orang dodol mana sih yang bakal ninggalin dan melupakan bagasinya gitu aja di airport? Kalo niatnya mau ngingetin, ya mbok pake nada halus dengan intensi mengingatkan. Bukannya pake nada tinggi yang langsung menghakimi bahwa kita salah kalo ga ngebawa bagasi saat mau melewati mesin pemindai.

Dalam keadaan setengah linglung dan setengah kesal dt melewati area pemindai. Baru selangkah lepas dari sana, dt diteriakin, ”Heh! Heh! Ke sana dulu! Lewat sana!” dt dan adek yang setengah ngantuk malah diem aja ga bereaksi sementara mama yang juga diusir-usir untuk melewati jalan memutar yang lebih jauh langsung merespon dengan nada yang ga kalah tinggi, ”Ngapain, pak?” Si petugas tetep kekeuh untuk nyuruh kita ke petugas lain yang ada di ujung jalan dan bilang kalo kita kudu nunjukin paspor. Weh, buat apa? Bukannya tadi udah dicek pas diimigrasi? gitu dalam pikiran dt. Sementara si petugas masih dengan nada tinggi dan kesal, lengkap dengan jari telunjuk yang nuding-nuding, kekeuh maksa dt, adek, dan mama untuk jalan memutar untuk keluar, sedangkan papa dibiarkan melenggang keluar begitu aja. What the...

Mama yang juga kesel sama si petugas langsung narik dt dan adek buat ngikutin papa sambil bilang, ”memangnya TKW, keluarga, pak!” ke si petugas yang nyuruh-nyuruh tadi. Si petugas yang tadinya pasang tampang garang dan sebel mampus langsung diem plus salting. dt jadi heran sendiri dengan fenomena itu. Setelah nanya ini itu sama mama, dt menyimpulkan bahwa dt baru saja melihat sebuah fenomena diskriminasi.

Pengecekan paspor ulang yang diminta petugas nyebelin tadi ditujukan untuk para TKW yang umumnya jadi pembantu di negeri Jiran. Entah apa alasannya, atau memang prosedurnya seperti itu. Sementara, Air Asia adalah salah satu maskapai yang menyediakan penerbangan dengan harga sangat terjangkau yang biasanya jadi pilihan TKW untuk dijadikan penyedia transportasi mereka. Jadi mungkin, para petugas berasumsi bahwa setiap wanita yang cukup umur, bertampang pribumi, tidak berpakaian mewah, dan naik Air Asia adalah seorang pembantu di negeri Jiran yang harus melewati pengecekan paspor ulang, tanpa harus dt mengerti apa alasannya.

Kalau memang itu ketentuannya, seharusnya petugas bisa bersikap menghormati para pahlawan devisa kita (atau siapapun pengguna jasa mereka), bukannya merendahkannya dengan bersikap kasar seakan-akan mereka ga punya hak untuk dihormati hanya karena predikat pekerjaan mereka yang sebagai pembantu rumah tangga.

Additional note: nama-nama petugas sengaja ga dt sebutin karena saat itu dt ga terlalu awas untuk memperhatikan dan mengingat nama yang tertulis kecil-kecil di name tag :p

Rabu, Desember 30, 2009

Christmast on Malay

Jadi, selama liburan natal dt pelesiran ke Malaysia. Gimana suasana natal di Malay? Ga berasa. Yaiyalah, secara Malaysia adalah salah satu negara yang kental banget budaya Islam-nya. Paling baru terasa natalnya pas dt masuk ke Suria KLCC yang di lantai dasarnya ada satu pohon natal yang supergede yang menjulang sampai lantai empat dan di bawah sana ada panggung yang dipenuhi ornamen merah, hijau, putih, emas khas natal plus seorang santa gendut berbaju merah berjenggot putih lebat yang siap diajak poto-poto. Di tempat lain? Jangan harap deh.

Ke mana aja di Malay? Hm, cuma sedikit tempat yang dt kunjungi, secara cuma ngabisin tiga hari dua malem di sana. Hari pertama dari KLIA dt naek bus ke Kuala Lumpur yang entah berapa waktu yang dt habisin. Yang pasti lama banget soalnya dt sempet ketiduran sampe dua kali. Dan langsung menuju hotel. dt nginep di Corus Hotel, yang kurang lebih lima menit dari Twin Tower kebanggaan Malaysia itu. Setelah check in dan leyeh-leyeh sebentar, dt langsung cabut ke Suria KLCC yang cuma butuh jalan kaki lima menit. Muter-muter, beli pernik, poto-poto di air mancur, makan, balik ke hotel.

Hari ke dua, setelah check out, dt langsung ke KL Bird Park.Yeah, taman burung yang menurut dt masih bagus Bird Park-nya Singapore karena lebih banyak atraksinya. Tapi lumayanlah udaranya dan lingkungannya yang hijau menyenangkan. Setelah poto-poto sama burung (yaiyalah, masa mau poto-poto sama orang utan), langsung tancap ke Genting Highland yang katanya adalah sebuah tempat di mana pemerintah Malaysia menghalalkan perjudian di sana. Untuk ke Genting Highland, kalian harus naik Genting Skyway. Well, ga harus sih, tapi naik Genting Skyway adalah salah satu must do kalo kalian pelesiran ke Malay.

Genting Skyway adalah bentuk transportasi yang cepat dan nyaman (kecuali kalian phobia dengan ketinggian) dalam wujud kereta gantung. Mirip-mirip Gondola di Ancol sanalah. dt ngantre dua jam lebih biar bisa naik itu kereta gantung, and it’s worth it! Menikmati pemandangan bagian atas hutan yang masih liar diselimuti kabut tipis malu-malu ditemani hawa dingin rintik ringan gerimis, kalo ditambah secangkir teh manis anget n mendoan, manteb banget deh. Sayangnya no food and drink inside the skyway. Jaraknya dari Genting bawah dan atas sekitar 3,4 km yang ditempuh dalam waktu ga sampe setengah jam. Bahkan Genting Skyway memproklamirkan diri sebagai kereta gantung terpanjang dan tercepat se-Asia Tenggara.

Nah, sampe di sana dt langsung berada dalam gedung yang menurut dt serupa kek mall (mall lagi, mall lagi.. =.=) yang langsung ditelusuri buat nyari jalan keluarnya yang malah membimbing dt untuk terus naik ke lantai yang lebih tinggi dan berakhir di sebuah pintu masuk kasino! Yay! Ketemu sama kasinonya eui! Mari mencoba bermain dengan dewi fortuna di sini, gitu pikir dt. Tapi begitu masuk, dt langsung dihadang petugas yang langsung bertanya ”Are you 21 yet?” Ngek! Umur dt udah 22 kali, pak. Tapi kalo ngelirik apa yang dt pake waktu itu, pasti petugasnya percaya aja kalo dt bilang umur dt 14 tahun. Secara dt pake kaos kedodoran, celana ¾ longgar, plus sepatu Crocs warna-warni khas anak kecil. Ditambah lagi backpack anak sekolahan, rambut diiket ekor kuda tinggi, and clearly, no make up. Kalo ga bareng sama ortu, mungkin dt udah dikira anak ilang kali ya. Dan dengan setengah hati, dt meninggalkan kasino dan menyenangkan diri sendiri dengan membeli dua ons gummy worms dan menghabiskannya sendirian (beneran jadi anak kecil kan… *ngakak*).

Capek muter-muter dan sore sudah datang, waktunya turun dan check in hotel. Tapi kali ini ga pake Skyway, bakal pingsan deh kalo disuruh ngantri dua jam lagi. Jadi dt pilih taksi untuk ke Awana Hotel dan berasa kek naik rollercoaster selama perjalanan. Jalan berliku dan menurun yang lumayan tajam sambil diguyur hujan deras. You should try it, it’s fun! (walau mama papa pada kepedesan selama di jalan, wkwk)

Last day, rencananya mau maen-maen di Theme Park (semacam Dufan-nya Genting Highland) tapi berhubung hari hujan dan kabut tetep tebal, diputuskan untuk mendingan turun dan jalan-jalan di Muzium Negara di KL sambil ngabisin waktu sampe waktu check in tiket pesawat nantinya.

Oia, ada hal konyol yang kejadian selama dt di Malay. Kita salah kamar, dua kali, di dua hotel berbeda! Oke, biarin dt cekikikan dulu. (...) Ehm, udah. Jadi pas di Corus, kata mama, kita dapet kamar 1109. Naiklah kita ke lantai 11 dan mencari kamar nomor 1109. 1116-1115 (oh, nomor kamarnya mundur) 1114-1113-1112-1111-1110-1108. Lho kok? Baliklah ke nomer 1110, dan menyusuri pelan-pelan sapa tahu kelewatan. Pintu kamar 1109 harusnya tepat ada di tikungan antara kamar 1110 n 1108. Tapi ga ada yang namanya itu pintu dengan nomor 1109. Nah lo! Untungnya ketemu sama cleaning service yang langsung kita sudutkan dan kita introgasi. Usut punya usut, ternyata emang ga ada kamar nomor 09 ditiap lantai. Bukan karena kepercayaan tertentu, tapi entah kenapa memang begitu penomorannya. Lah terus kamar kita? Apa artinya kita ditipu sama pihak hotel? Engga bo! Kita salah baca tulisan si resepsionis yang nulis nomor kamar. Muakakaka. Ternyata kita dapet 1102.

Nah, pas di Awana Hotel juga kejadian tuh acara salah kamarnya. Kata mama, kita dapet kamar 2366, tapi sampai di depan kamar, dt ngerasa ada yang ganjil. ”Kok di pintu ada kiwir-kiwirnya,” celetuk dt, tapi keknya ga ada yang denger. Dan mama tetep mencoba membuka pintu dengan kartu yang ada. Ga bisa. Giliran adek yang nyoba. Ga bisa juga. Terus giliran dt nyoba yang berujung dengan pertanyaan ”Beneran kamar 2366?” Selain itu dt juga ngerasa ada suara kartun dari dalem kamar. Oke, bisa diabaikan kalo tentang kemampuan dt mengenali arah sumber suara dt yang emang jarang benernya. Tapi gantungan Don’t Disturb di handle pintu itu jelas satu hal yang ganjil kan. Dilihatlah tulisan nomor kamar yang juga ditulis tangan oleh sang resepsionis. 2360. Ya jelaslah kalo itu pintu kamar ga bisa kebuka. Wakakakak.

Note to myself: selalu ingetin mama papa untuk bawa kacamata tiap kali pergi liburan. Wkwkwk.

Jumat, Desember 18, 2009

Punya Pulau Pribadi. Mau?

Sebelumnya, dt mau ngucapin Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1413 H buat yang ngerayain. Bukannya dt ga ngerayain juga, tapi tiba-tiba dt penasaran, sejak kapan kita mulai menyadari penanggalan Hijriah selain di bulan Ramadhan dan mulai merayakan hari-hari yang dispesialkan dengan saling menyampaikan ucapan selamat-ini dan selamat-itu? Yang mungkin terkadang ga bener-bener ngerti makna di balik hari yang dispesialkan itu.

Oke, bukan itu subyek entri sekarang.

Jadi, beberapa saat lalu dt jalan-jalan ke blognya Ichanx dan ngebaca entri tentang keinginannya pengen pulau pribadi sebagai hadiah ulang tahun. Sedikit ngayal eh? Tapi menurut dt itu bisa aja kejadian. Belum lagi beberapa saat lalu pada heboh eksploitasi dan penjualan pulau-pulau kecil di Indonesia. Nah, waktu awal baca, dt mikir ke sana dan ternyata bukan itu yang diomongin Ichanx. Dia ngomongin tentang MyPulau. Anyway, Ichanx berhasil dapet "pulau pribadi"-nya sekarang.

Nah sekarang, apa itu MyPulau? Setelah googling dan lihat langsung, dt simpulkan kalau MyPulau itu semacam situs jejaring sosial kek Facebook, Friendster, Twitter, dan kroco-kroconya. Karena penasaran dan ga ada yang bantu berbagi pengalaman via status FB (belum pernah nyobain MyPulau semua kali ya temen-temen dt), akhirnya dt sign up.

Di halaman awal, kita langsung disuguhi gambar peta Indonesia (ini artinya kalo MyPulau produk anak bangsa kan?) buat milih mau bikin pulau di sebelah mana dan baru bisa ngedaftar. Sign in. Log in. Dan dt dihadapkan ke sebuah halaman dengan gambar pulau dan sebuah pohon kelapa di tengahnya. Terus diapain? Scroll! Di bawah sana ada beberapa opsi dan fitur yang bisa diulik. Standarlah, profile, photo, agenda, group, bla bla bla. Fitur yang menarik mungkin bagian Pulau Mall di mana bisa belanja-belanja pake Coco (mata uangnya MyPulau). Terus tampilan pulau sendirian itu bisa berkembang sesuai dengan teman yang dimiliki, group yang diikuti, bla bla.

Anyway, dt belum eksplor lebih banyak jadi ga bisa cerita banyak juga. Tapi kalo disuruh bandingin sama Facebook, dt masih lebih milih Facebook. *tongue*

Kamis, Desember 17, 2009

Pelaku Individualistis

Menurut ipersonic, dt masuk ke dalam kategori kepribadian pelaku individualistis. Coba aja kalau pengen ngelihat kalian masuk kategori apa. Sebenernya dt begitu suka mengotak-kotakkan diri tapi tetep aja seneng sama yang namanya ramal-ramalan kepribadian kek gini. So, seperti apa pelaku individualistis itu? Ini dt kopipes hasilnya.

Tipe Pelaku Individualistis adalah orang-orang yang yakin akan diri sendiri dan sangat mandiri. Mereka orang-orang yang pendiam dan realistis, sangat rasional, dan sangat tegas. Mereka memelihara individualisme mereka dan senang menerapkan kemampuan mereka pada tugas-tugas baru. Namun mereka juga adalah orang-orang yang sangat spontan dan impulsif yang suka mengikuti inspirasi sekonyong-konyong mereka. Tipe Pelaku Individualistis adalah para pemerhati yang baik dan tajam yang menyerap segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Namun demikian, mereka tidak terlalu peka dalam hubungan antar manusia dan terkejut ketika sesekali membuat orang tersinggung dengan sikap blak-blakan dan lugas mereka. Mereka tidak terlalu menyukai kewajiban; namun jika Anda memberi mereka ruang, mereka adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak rumit, mudah bergaul, dan periang.

Tipe Pelaku Individualistis menyukai tantangan – aksi dan hal-hal yang dianggap aneh adalah bagian dari kehidupan mereka. Mereka suka mencobai nasib dan banyak orang tipe ini memiliki hobi berisiko seperti skydiving atau bungee jumping. Ini juga berlaku pada kehidupan sehari-hari mereka. Tipe Pelaku Individualistis mampu mengatasi situasi-situasi kritis; mereka dapat menangkap situasi, membuat keputusan, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dengan sangat cepat. Hirarki dan otoritas tidak terlalu membuat mereka terkesan; jika seorang atasan tidak kompeten, mereka tidak akan terlalu menghormatinya. Tipe Pelaku Individualistis suka menerima tanggung jawab. Mereka memiliki kepekaan terhadap realitas yang menonjol dan selalu menemukan solusi yang paling tepat dan praktis untuk sebuah masalah. Mereka melerai konflik secara terbuka dan langsung; di sini, kadang-kadang mereka tidak terlalu peka namun mereka sendiri juga dapat menerima kritik dengan sangat baik.

Sebagai teman, tipe Pelaku Individualistis setia dan penuh pengabdian; mereka hanya memiliki beberapa hubungan pertemanan namun banyak di antaranya berlanjut seumur hidup. Orang senang berbicara dengan mereka karena sikap optimis mereka dalam memandang kehidupan dan kemampuan mereka untuk mendengarkan. Namun demikian, mereka lebih suka membicarakan minat dan hobi yang sama ketimbang isu-isu teoritis atau filosofis – hal-hal itu tidak cukup nyata bagi mereka. Mereka membutuhkan banyak kebebasan dan waktu bagi diri sendiri dalam hubungan asmara namun, pada saat bersamaan, mereka juga sangat toleran terhadap pasangan mereka. Sangat jarang tipe Pelaku Individualistis jatuh cinta hingga mabuk kepayang. Mereka terlalu rasional. Mereka lebih suka memilih pasangan berdasarkan kesamaan minat dan kegemaran yang ingin mereka bagi bersama pasangan tersebut. Tipe Pelaku Individualistis tidak terlalu menyukai emosi yang meletup-letup. Mereka lebih suka membuktikan cinta mereka dengan tindakan dan mengharapkan hal yang sama dari pasangan mereka. Barangsiapa berharap mengikat diri dengan seorang Pelaku Individualistis membutuhkan banyak kesabaran. Butuh beberapa saat sebelum tipe kepribadian ini bersedia terlibat dengan orang lain.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: introvert, praktis, logis, spontan, suka berpetualang, memiliki tekad, mandiri, berani, setia, analitis, realistis, optimis, tertarik, tidak banyak bicara, ingin tahu, hati-hati, individualis, menyukai aksi, menyukai hal-hal baru, tenang, rasional, pendiam, trampil, percaya diri, komunikatif, rendah hati.


So, buat kalian yang merasa cukup mengenal dt, apa dt seperti penjelasan di atas?

Minggu, Desember 06, 2009

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita.

Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok.

Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain.

Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri.

Berhubung sudah terbiasa ngelipet-masang-ngisi kotak yang paling engga sebulan sekali, jelas kerjaan nyiapin konsumsi ini gampang banget. Langsung aja bagi tugas, Mama sama Adek yang ngelipet dan masang, dt yang masukin kue ke kotak, dan mbak Mar yang nata kotaknya ke dalam kresek. Kerja efektif seperti biasa.

Tapi tiba-tiba muncullah Akung. Yang langsung duduk dan menawarkan bantuan. Tumben. Sumpah tumben. Waktu itu di kepala dt langsung kepikir, wah besok ujan deres nih keknya. Sebenernya dt pengen nolak bantuan soalnya semua udah punya tugas efektif masing-masing. Tapi kok yang ga enak juga liat antusiasme Akung yang pengen ngebantu. Pengen berkontribusi buat skripshit cucu kali, ya. Yasu, dt ambilin beberapa lembar calon kotak yang belum dilipet. Dan semua langsung kembali bekerja dalam diam. Biar cepet gitu kerjanya.

Nah, alkisah cerita hampir berakhir karena setiap kotak sudah terisi dan tertata rapi, tertinggallah tiga kotak yang masih digarap Akung. Menolehlah dt, buat ngelihat hasil garapannya Akung dan langsung dt memalingkan kepala sambil nahan ketawa. Yeah, dt tahu kalo dt cucu ga tahu adat. Masa Akung sendiri diketawain. Tapi ga sampe ketawa kok. Ngikik ketahan gitu deh. Nah, kotak tiga biji ini baru selesai dan terpasang keliru dengan fantastisnya.

Jadi, buat yang sering ngerangkai atau yang merhatiin gimana betuk kotak kertas makanan, pasti tahu kalo lidah-lidah itu kotak ada di sebelah dalem. Sedangkan Akung dengan elegannya ngerangkai kotak kertas dengan lidah mengarah keluar. Mantab!

Walhasil, Adek yang jadi relawan buat ngebongkar dan merangkai sisa tiga kotak garapan Akung. Wekekek..

Selasa, Desember 01, 2009

Data Collecting Story (1)

Dalam beberapa hari terakhir ini rasanya banyak banget kejadian dan pemikiran yang ngeramein kepala dt. Yang saking ramenya justru bikin dt bingung mau nulis yang mana. Karena setiap kejadian dan pemikiran itu saling berhubungan, tumpang tindih, dan ga jelas ujung pangkalnya. Selain itu, akses dt ke inet beberapa hari terakhir memang cuma terbatas via Aiko aja (hape dt tersayang tuh). Jadi rasanya rada ribet kalau mau bikin entri panjang lebar pake dua jempol dan dibatasi kuota 5000 karakter.

*sigh*

Anyway, dt pengen muntahin yang terbaru dulu. Hari ini rencananya dt bakal ke Ngalam buat jemput temen-temen yang bersedia jadi enumerator dan bantu dt ambil data besok. Dari rumah ibu, dt dianter bapak ke Bungurasih. Dari sana dt bakal ke Ngalam.

Sebelumnya dt sudah ngontak beberapa temen yang sekiranya bisa ngebantu dt. Mentul, Anida, Rakhmi, Afni, Lucky, Dita, Dewi, plus Esti. Tapi ternyata Rakhmi n Afni ga bisa soalnya pas hari yang bersamaan mereka lagi ada yudisium. Terus pas reconfirm lagi dua hari lalu, Mentul ga bisa juga soalnya lagi ngurusin berkas buat penerimaan CPNS di Blitar (Congrats, ya, Mam! ^-^b). Nah, terus kemaren tiba-tiba Lucky juga bilang ngga bisa soalnya tiba-tiba dapet panggilan psikotest di Surabaya. Ngelu ga seh.. Akhirnya mau ga mau dt kudu siap dengan lima cewek yang tersisa, termasuk dt.

Rencana dt, dt ngajak mereka ngumpul dan berangkat bareng entar jam setengah tiga, padahal dt udah nyampe di malang sekitar jam dua belasan. Nah, sembari nunggu ini, dt berencana ngenet dan minta adek naruh data yang dt butuhin di email dt. Lumayanlah, dua jam ga nganggur. Tapi pas nyampe warnet, ternyata dt ga bisa ngebuka gmail, yahoomail, hotmail, bahkan blogger. Waktu itu dibilang Load Page Error. dt tunggu beberapa menit sambil buka-buka yang lain. Terus waktu dt coba lagi masih ga bisa juga, dt nanya ke mbak yang jaga. Eh, katanya itu memang pusatnya yang lagi ga bisa. Duh, yang bener aja! Masa tiga penyedia email gratis besar gitu trouble di waktu yang bersamaan.

Akhirnya dt berinisiatif buat ngeintrogasi temen-temen yang lagi online. Nanyain apa mereka bisa buka email masing-masing. Eh, bisa tuh. Berarti kesalahan ada pada warnet. dt coba lagi buka gmail dan halaman Load Page Error kembali muncul. Terus di bawahnya ada opsi add exception dan dt coba klik dan ngikutin petunjuknya. Voila! Terbukalah halaman muka Gmail! Sumpah! Rasanya seneng sampe pengen jumpalitan!

Oke, step selanjutnya. Lirik jam, jam satu lewat. Harusnya adek udah nyampe di rumah. Telponlah dt ke rumah dan mendapat kabar kalo ternyata adek belum pulang. Jadinya dt langsung nelpon ke hape adek. Adek bilang dia masih di sekolah. Masih ngerjain tugas. Yeah, right. Paling juga lamaan waktu ngumpul, ngobrol, n maen-maen daripada ngerjain tugasnya.

Jadi deh dt langsung cengo. Bingung kudu ngapain dan ini otak langsung nyusun plan B buat damage control.

*sigh*