Kamis, Desember 31, 2009

A Lil Inconvenience on the Way Back Home

Oke, jadi dt janji nyeritain tumpukan duka-duka kecil yang menyebalkan di akhir perjalanan liburan natal dt yang menyangkut komplain ke beberapa pihak yang dt urung tulis di status FB karena khawatir entar berujung kek Prita Mulyasari atau Luna Maya *rofl*. Tapi akhirnya dt jabarin juga dt blog. Wkwkwk. Jangan khawatir, bakal dt tulis sehalus mungkin dan berusaha untuk hanya menjabarkan fakta yang ada (tapi bo’ong :p).

Diawali dengan kelelahan yang memuncak setelah muter-muter Muzium Negara yang isinya harusnya tentang sejarah Malaysia tapi menurut dt lebih pantas disebut dengan sejarah Malaka dan kaum Melayu karena juga masih banyak sangkut-pautnya dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, yang dilanjutkan dengan naik teksi ke train stesen (itu ejaan Malaysia lo :p). Nah, di sana ada express train yang mengantarkan kita langsung dari KL center ke KLIA. The fastest and greenest way to KLIA. Dan paling mahal juga tentunya. Kalo naik bus, cuma butuh 8 ringgit perorang, kalo naik itu kereta habis 35 ringgit perorang. Empat kali lipat lebih bo! Cepet sih. Nyaman sih. Tapi mahal. Tapi berhubung cuma sekali-sekali, dijabanin deh, biar tahu rasanya gitu, hehe. Nyampe di KLIA, kita nyari counter Air Asia (pertama kalinya nyobain naik maskapai ini nih) yang ternyata ga ada. Nah lo! Tanya sana-sini, ternyata seluruh penerbangan Air Asia itu ada di LCCT. Ngek! LCCT itu semacam terminal anak kalau KLIA adalah terminal induknya. Jadi, dari KLIA kita naik bus 2 ringgit –yang dt kirain gratis– ke LCCT. Check in, masuk imigrasi, lirik jam, masih ada dua jam lagi sebelum pesawat boarding yang langsung dt isi dengan ngubek-ubek book store di airport.

Buku-bukunya standar kek yang ada di book store lain di airport. Buku-buku baru karangan Stephenie Meyer dan Dan Brown masih merajai, didampingi novel-novel sepanjang masa punya Agatha Christie, Sidney Sheldon, dekaka. Walau sayangnya dt ga bisa nemuin buku-buku Katie MacCallister, dt nemuin satu buku yang sepertinya menarik yang berjudul Beyond Black (dt lupa siapa pengarangnya). Di rak cuma tinggal satu. Cacat pula. dt tanya ke yang jual siapa tahu masih tersimpan eksemplar yang masih sempurna entah di mana. Tapi ternyata kata penjualnya cuma tinggal yang ada di rak. Ragu mau dt beli. Cacat. Sampul cuil, ujung buku melengkung, halaman-halaman terlipat, belum lagi harganya yang dua kali lipat lebih dari harga novel normal kalau dikurskan ke rupiah. Dan dengan berat hati dt melangkah keluar dari toko buku dengan tangan hampa.

Diem-dieman nunggu pesawat dengan buku sudoku di tangan, dt yang lupa bawa jaket mulai kedinginan diterpa AC airport. 19.40 – oke, lima menit lagi. 19.50 – lah kok belum ada panggilan boarding. 20.10 – sebuah pengumuman menyatakan bahwa pesawat Air Asia yang harusnya dt tumpangi mengalami kelewatan (bahasa Malay-nya delayed tuh). Ngek! Dan ditengarai pesawat akan berangkat pada pukul 21.45. Dobel ngek! Walah, udah kedinginan, kelaperan, nganggur pula. Dan langsung direspon mama dengan kalimat singkat, ”Ini terakhir kalinya naik Air Asia.” Jiahaha. Duh, yang biasa punya bargaining position tinggi.

Setelah menunggu pesawat sambil ditemani teh hijau panas yang ga hijau dan mahal (yaiyalah, beli minum di airport gitu...), naik juga kita ke pesawat dan langsung memejamkan mata saking lelahnya dan menidakpedulikan jualan makanannya kru pesawat. Oia, kalo di Air Asia kita ga dapet makan-minum, tapi kita dikasih menu ala carte biar bisa milih makanan untuk dibeli di atas pesawat. Tapi kalo kalian duduk di bangku dengan nomor-nomor akhir, jangan harap punya banyak pilihan makanan atau minuman karena udah tinggal yang tersisa aja.

Penerbangan diakhiri dengan teknik landing yang ga begitu mulus (yang sebenernya dt suka karena exciting, tapi buat banyak orang hal ini menakutkan) dan berlanjut dengan berjalan ke imigrasi. Dengan muka lencu dan setengah sadar karena lelah dan mata masih berat karena belum tuntas tidur di pesawat dt berjalan gontai melewati imigrasi. Ga heran, jam udah nunjukin setengah dua belas lebih waktu Surabaya. Pas ngantri di imigrasi, ada aja orang yang seenaknya nempel di belakang dt sambil ngawe-awe temennya biar ikutan motong antrean. Langsung aja papa ngejawil dan nyuruh itu mbak-mbak ambil antrean yang bener.

Lepas dari imigrasi tinggal melewati bea cukai untuk bisa keluar dari airport. Dan berhubung dt ga bawa bagasi atau barang yang butuh persetujuan bea cukai, nyelononglah dt ninggalin adek, mama, n papa di belakang buat masukin backpack sekolahan dt ke mesin pemindai yang langsung dihadang petugas laki-laki dengan pertanyaan ketus ”Kertasnya mana?” Yang dimaksud adalah kertas pernyataan deklarasi yang ada hubungannya sama bea cukai. ”Ada di ayah,” dt jawab pendek aja sambil nunjuk Papa yang lari-lari kecil di belakang dt. Pas masukin backpack sekolahan dt ke pemindai, dt dapet satu pertanyaan lagi dengan nada yang sangat judgmental, ”Mana bagasinya?” ”Ga ada.” Heran deh, emang orang dodol mana sih yang bakal ninggalin dan melupakan bagasinya gitu aja di airport? Kalo niatnya mau ngingetin, ya mbok pake nada halus dengan intensi mengingatkan. Bukannya pake nada tinggi yang langsung menghakimi bahwa kita salah kalo ga ngebawa bagasi saat mau melewati mesin pemindai.

Dalam keadaan setengah linglung dan setengah kesal dt melewati area pemindai. Baru selangkah lepas dari sana, dt diteriakin, ”Heh! Heh! Ke sana dulu! Lewat sana!” dt dan adek yang setengah ngantuk malah diem aja ga bereaksi sementara mama yang juga diusir-usir untuk melewati jalan memutar yang lebih jauh langsung merespon dengan nada yang ga kalah tinggi, ”Ngapain, pak?” Si petugas tetep kekeuh untuk nyuruh kita ke petugas lain yang ada di ujung jalan dan bilang kalo kita kudu nunjukin paspor. Weh, buat apa? Bukannya tadi udah dicek pas diimigrasi? gitu dalam pikiran dt. Sementara si petugas masih dengan nada tinggi dan kesal, lengkap dengan jari telunjuk yang nuding-nuding, kekeuh maksa dt, adek, dan mama untuk jalan memutar untuk keluar, sedangkan papa dibiarkan melenggang keluar begitu aja. What the...

Mama yang juga kesel sama si petugas langsung narik dt dan adek buat ngikutin papa sambil bilang, ”memangnya TKW, keluarga, pak!” ke si petugas yang nyuruh-nyuruh tadi. Si petugas yang tadinya pasang tampang garang dan sebel mampus langsung diem plus salting. dt jadi heran sendiri dengan fenomena itu. Setelah nanya ini itu sama mama, dt menyimpulkan bahwa dt baru saja melihat sebuah fenomena diskriminasi.

Pengecekan paspor ulang yang diminta petugas nyebelin tadi ditujukan untuk para TKW yang umumnya jadi pembantu di negeri Jiran. Entah apa alasannya, atau memang prosedurnya seperti itu. Sementara, Air Asia adalah salah satu maskapai yang menyediakan penerbangan dengan harga sangat terjangkau yang biasanya jadi pilihan TKW untuk dijadikan penyedia transportasi mereka. Jadi mungkin, para petugas berasumsi bahwa setiap wanita yang cukup umur, bertampang pribumi, tidak berpakaian mewah, dan naik Air Asia adalah seorang pembantu di negeri Jiran yang harus melewati pengecekan paspor ulang, tanpa harus dt mengerti apa alasannya.

Kalau memang itu ketentuannya, seharusnya petugas bisa bersikap menghormati para pahlawan devisa kita (atau siapapun pengguna jasa mereka), bukannya merendahkannya dengan bersikap kasar seakan-akan mereka ga punya hak untuk dihormati hanya karena predikat pekerjaan mereka yang sebagai pembantu rumah tangga.

Additional note: nama-nama petugas sengaja ga dt sebutin karena saat itu dt ga terlalu awas untuk memperhatikan dan mengingat nama yang tertulis kecil-kecil di name tag :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar