Sabtu, Februari 27, 2010

Fakta Jemari

Pernah perhatiin jari-jari kalian ga? Kalo dt mah doyan banget merhatiin jari dan kuku sendiri, tapi beberapa saat lalu dt jadi juga merhatiin jemari orang lain.

Berawal dari waktu dt cari makan bareng Che dan Noni. Ceritanya si Che lagi pengen makan di Mami dan Noni pengen tempe penyet, dan berhubung dt ga ada rikues makanan khusus, jadilah dt bareng mereka. Nah, saat nunggu pesenan kita dimasakin Mami, dt iseng aja merhatiin tangannya Che. Dan merasa ada yang berbeda. Terus dt perhatiin sama tangan dt sendiri. Terus liat tangan Che lagi. Terus akhirnya ketemu bedanya di mana. Jari telunjuk Che lebih panjang daripada jari manisnya. Sedangkan punya dt, lebih panjang jari manis daripada telunjuk. Lah kok beda? Waktu ngelihat jarinya Noni juga lebih panjang telunjuknya. Wah, jangan-jangan dt anomali! (well, sebenernya udah biasa jadi anomali sih :p)

Jadilah dt melemparkan daily question ke temen-temen formspring dan sms beberapa teman buat nanyain jemari mereka. Iseng banget ya. Tapi namanya juga orang penasaran. Daripada dipendem terus sampe kebawa mimpi dan malah dapet mimpi buruk dikejar-kejar jari-jari raksasa yang mau mithes (dt ga tau apa bahasa Indonesianya) kita, kan mending survei langsung biar puas. Hoho.

Setelah dapat jawaban, dt dapet beberapa kesimpulan bahwa semua jari manis cowok yang dt tanyain lebih panjang daripada telunjuknya, sedangkan cewek lebih variatif antara telunjuk yang lebih panjang, jari manis lebih panjang, atau bahkan sama rata. Berhubung masih penasaran tentang perihal jari-jemari ini, dt minta wangsit sama mbah Gugel dan menemukan jawaban saintifik-nya.

Katanya, orang-orang dengan jari manis yang lebih panjang, terpapar lebih banyak hormon testosteron pada saat masih dalam kandungan dulu. Well, ga heran kalo semua temen cowok dt jari manisnya lebih panjang. Secara testosteron memang hormon khusus cowok (untuk cewek, ada hormon yang berfungsi sama tapi namanya hormon androgen).

Katanya lagi nih, cowok dengan jari manis yang lebih panjang ini lebih agresif daripada yang telunjuknya lebih panjang. Sedangkan untuk yang cewek, kalau jari manisnya lebih panjang risiko kena osteoarthritis bakal lebih tinggi dibandingin sama yang telunjuknya lebih panjang. Walah, berarti dt termasuk calon pasien rematik nih. Wah, kudu mulai merhatiin tulang dan sendi nih..

Nah, satu fakta lagi tentang jari-jemari ini. Dalam sebuah studi diketahui bahwa kaum homoseksual cenderung memiliki jari telunjuk dan jari manis yang sama panjang.

Bagaimana dengan jari Anda? wkwkwk

Kamis, Februari 25, 2010

Grater Nose

Kalau perhatiin status facebook dt, pasti inget kalo beberapa hari yang lalu dt bilang kalo dt berasa kek korban pasca cacar. Nah, sekarang ada yang baru nih, dt berasa kalo hidung dt kek parutan kelapa!

Jadi semua berawal saat dt akhirnya facial setelah berbulan-bulan ga melakukan ritual satu itu. Eh, salah, salah, awalnya pasti bukan saat facial. Facial adalah saat dt menyadari bahwa semua telah terlambat (halah, apaan sih). Dan setelah dipikir, diukur, dan ditimbang ulang, dt merasa kalo semua ini berawal dari skripshit! Yeah, skripshit lagi, skripshit lagi. Keknya dt lagi doyan banget menyalahkan skripshit ya.. Well, mendinglah menyalahkan benda mati dari pada menyalahkan benda hidup terus berujung dengan ketidaknyamanan massa *ingetbeberapasaatlalu*

Anyway, kembali ke hidung dt yang kek parutan kelapa. Sebenernya, kulit dt itu termasuk kulit normal yang cenderung berminyak, makanya risiko jerawat sama komodo, eh, komedo juga cenderung lebih tinggi daripada yang kulitnya normal atau kering.

Nah, berhubung sejak ngegarap skripshit dt jadi ga rajin lagi ngebersihin muka dan dipadukan dengan terpaan cuaca Ngalam yang kering, kondisi kulit dt juga ikutan berubah kering. Dan dengan suksesnya mengeringkan peternakan komodo di hidung dt. Maka jadilah itu komodo mengeras dan berhasil membuat hidung dt seperti parutan kelapa. Hahaha..

Keknya harus mulai rajin-rajin pasang krim malem lagi ini.. :-?

Rabu, Februari 10, 2010

I have My Own Favicon

dt bisa ganti favicon lo!

Haha.. sebuah penemuan ga penting sebenernya. Jadi awalnya dt berencana nyari template-template beta blogger gratisan buat blog dt yang lain. Blog yang itu lebih jadi semacam project dt sih, buat nulis artikel-artikel yang berhubungan tentang gizi dan food labelling gitu yang sayangnya belum aktif juga sampai detik ini *ngakaktolol*. Anyway, dt nyelonong ke betatemplates yang mana merupakan salah satu jujugan favorit dt kalo nyari-nyari template, tapi berhubung ga nemu yang cocok dan sepertinya ga ada template baru, dt mulai melirik ke sidebar sebelah kanan itu.

Di sana dt menemukan judul-judul tutorial yang salah satunya cukup menarik perhatian dt. Cara ngubah favicon. Well, judulnya bukan itu sih, secara itu site pake bahasa Inggris, tapi intinya itu lah, tutorial buat ngubah favicon.

He? Ga tahu favicon apaan? Favicon itu gambar kotak kecil di sebelah judul kalau di dalam tab, atau gambar kecil di sebelah tempat url itu. Contohnya kalo blogger itu favicon-nya huruf B kapital warna putih dalam kotak oranye itu. Nah, tahu kan? Dan sekarang perhatikan apa favicon dt. Terlihat bedanya? Sip.

Jadi, yang pengen pasang favicon juga, silakan berkunjung ke sini.

Sabtu, Februari 06, 2010

Dark Side of Skripshit

Thanks to skripshit, pola hidup dt jadi berantakan.

Entah sejak kapan dt jadi kalong-man kek gini. Biasanya jam 9-10 dt sudah merasa ngantuk dan beranjak tidur dan mampu bangun jam empat esok paginya. Nah sekarang, baru bisa memejamkan mata dengan tenang saat jarum jam menunjukkan pukul tiga lebih dan baru bisa membuka mata dengan berat sekitar jam tujuh pagi.

Jujur ya, dt kangen dengan pola tidur dt yang lama. Tidur dengan nyaman, cukup, dan berasa segar saat pagi datang. Bukannya malah punya punggung remek, kemeng, dan sakit setiap kali bangun tidur. Ditambah lagi efek begadang itu jelek banget buat kesehatan dan kulit. *sigh*

Kalo dt perhatiin, kulit dt jadi tambah pucat, kering, dan kusam sejak ngegarap skripshit secara intens. Secara selama ngegarap skripshit dt jadi jarang keluar dari kamar dan kurang bergerak karena menghabiskan banyak waktu hanya nangkring di depan Ichibun. Jadi deh dt kurang terpapar sinar matahari, kurang beraktifitas, plus kurang oksigen.

Duduk seharian di depan Ichibun juga ga bagus buat badan. Punggung, pundak, dan leher dt jadi sakit karena terus-terusan duduk ngebungkuk walaupun dt sudah meletakkan Ichibun di meja dan dt duduk di lantai. Dan karena terlalu lama membungkuk, organ di dalam perut juga jadi tertekan dan jadi sering terasa sakit pada saat-saat tertentu. Utamanya di sekitar hepar. Jadi pengen periksa ke dokter deh.

Permasalahan belum selesai juga sayangnya. Karena kurang bergerak, dt mulai kehilangan massa otot dt. Beneran ya, dulunya dt punya otot trisep dan betis yang kenceng. Tapi sekarang dt bahkan sudah mulai bisa gundukan otot lemah itu. Padahal dulu rasanya rajin banget latihan ringan tiap bangun tidur buat ngejaga massa otot. Tapi sekarang bangun tidur, buka mata, langsung buka n mantengin Ichibun lagi.

Urusan makan juga jadi kacau. Buat ngejar deadline, terkadang dt merasa kalau makan pun termasuk kegiatan yang bisa diabaikan untuk memperbanyak waktu untuk ngegarap skripshit. Belum lagi berada di hadapan Ichibun memang membuai. Jadi deh acara makan dt makin jarang dan makin tidak teratur. Dan untuk menipu diri sendiri, dt memilih untuk beli camilan tinggi gula, natrium, dan soda macam biskuit, roti kemasan, dan minuman bercafein untuk mengganjal perut tapi makin jarang minum air putih karena males kalo kudu bolak-balik ke kamar mandi.

*sigh*

Sepertinya skripshit benar-benar mampu memaksa seorang calon tenaga kesehatan untuk hidup dengan pola yang tidak sehat.