Rabu, Desember 01, 2010

Fiksi: Garis Lurus


Cahaya ruangan berukuran dua kali tiga meter persegi itu kuning temaram, berasal dari lampu minyak. Jelaga hitam tertera jelas di dinding bambu dekat mulut lampu minyak. Pencahayaan yang remang itu jelas bukan pencahayaan maksimal kalau kau ingin memperhatikan lekuk detil wajahmu. Tapi cahaya redup itu membuat sosok yang sedang memoles diri itu tampak lebih bersahaja.

Aku duduk memerhatikan di atas kasur kapuk di dipan kayu usang yang sudah tidak jelas lagi seperti apa warnanya. Memerhatikan sosoknya yang mulai mematut diri di depan satu-satunya lemari dengan cermin tinggi di rumah ini. Sebuah pemandangan lembut yang indah. Aku menguap. Atau karena mataku yang mulai berat sampai-sampai pemandangan di hadapanku jadi kelihatan lebih indah?

Tapi memang indah.

Aku selalu suka melihatnya berdandan. Selalu. Rasanya seperti sihir. Bagaimana dengan polesan sedikit warna di sana-sini bisa mengubah setiap orang menjadi cantik. Seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Mengoleskan paduan warna nila dan putih di kelopak mata. Menegaskan bentuk mata dengan celak hitam. Lalu menambahkan maskara berwarna biru yang sepadan dengan eyeshdow-nya. Hanya alisnya yang tak disentuh. Sudah cukup tebal tanpa harus digarisi dengan pensil.

Kini ia meraih perona pipi dan mulai menepukkan kuasnya di tulang pipi. Aku mendekat dan meraih pemerah bibir dan memolesnya di bibirku sendiri. Ikut-ikutan berdandan seperti ini juga kebiasaanku sejak kecil. Responnya pun selalu sama.

"Kamu sudah cantik, Nduk. Ndak usah ikut-ikutan dandan pake bedak murahan gini."

Tangan besarnya mengusap lembut puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum. Kini ia yang memolesi bibirnya dengan warna merah darah yang pekat. Tebal. Selalu tebal.

"Apa ndak apa-apa mulai kerja malem kayak gini lagi? Kerja sambilanku cukup buat bayar uang sekolah, kok."

"Tapi sebentar lagi kamu mau ujian akhir kan, Nduk. Lebih baik kamu konsentrasi belajar saja. Urusan uang ndak usah ikut mikir. Atau kamu malu?"

Aku menggeleng. Aku tidak malu. Kenapa harus malu dengan orang tua tunggal yang berjuang melakukan apa pun untuk membiayai pendidikan dan kehidupan anaknya. Walau jelas uang yang didapat dari hasil kerja yang banyak orang mengecapnya sebagai pekerjaan tidak benar. Penari kabaret. Rumah petak ukuran lima kali enam meter persegi ini pun hasil menari. Aku mampu disekolahkan sampai kelas tiga SMA pun hasil menari.

Aku menguap lagi karena mengantuk.

"Tidurlah, Nduk. Besok kau harus sekolah dan masuk pagi, kan?"

Ia mengecup puncak kepalaku. Sekilas campuran aroma apak bedak murahan dan asap rokok kretek itu mampir di hidungku. Sudah biasa.

"Tidak usah menunggu, aku pulang dini hari seperti biasa."

"Nggih, Bapak."

Baru kurebahkan tubuh di kasur kapuk lapuk setelah ia mengunci pintu depan. Aku pergi tidur.

7 komentar:

  1. Nice Post.. :D

    http://future-gadgets.net for news about gadgets.

    http://pisvot.com for watch online tv streaming and tips about health, home, and fashion

    BalasHapus
  2. Gyahaha. Tadinya Ambu kira tulisan biasa yang sudah sering ada *nyaris nguap* tapi bertahan membaca sampai akhir, dan ... hihi. Ternyata twist ending!

    Udah lama juga Ambu ga blogwalking ya? Secara blog Ambu aja udah berapa bulan ga diurus XP

    BalasHapus
  3. @eja: thanks.. :D

    @ambu: emang yang biasa endingnya kek apa, ambu?
    iya, karena ada microblog, banyak blog yang jadi terbengkelai :D

    BalasHapus
  4. dt ... itu papanya bencong??? :|

    paling sebel deh sama akhir cerita yang gantung ... :( :( :(

    terusin dt ... kek-nya seru ...

    BalasHapus
  5. @ghimbul yang pake anonim: bukan~
    emang laki jadi penari kabaret kudu jadi bencong?

    terusin gimana?

    BalasHapus
  6. KEREN!! dari awal sampe akhir semuanya keren..
    @ anonim : ini gak gantung kali ceritanya huahahahhaahhaha.. udah jelas gtu masa dibilang nggantung -__-!! :P

    BalasHapus
  7. @Febiantika: makasih XDD

    BalasHapus