Sabtu, April 23, 2011

Lembur

Sekarang nih, dt masih di kantor. Untuk pertama kalinya ngelembur sampe lewat jam enam malem.

Ceritanya nih, selama kurang dari tiga bulan dt kerja di tempat kerja dt sekarang, sudah tiga orang yang jadi PIC (Person in Charge). Yang pertama, namanya mbak Tanti, yang resign karena kudu ngikut suaminya pindah tugas ke Kupang. Yang kedua, namanya mbak Daniyar, yang resign karena ga tahan dengan pressure kerjaan. Dan yang ketiga ini namanya mbak Yeyo, yang belum ada sebulan jadi PIC dan semoga bertahan.

Ngerasa sih kalo posisi PIC di kantor dt mirip kek posisi Guru PTIH di Hogwarts pas jaman Harry Potter? Ga ada yang bertahan lebih dari setahun. Bahkan katanya, PIC sebelum mbak Tanti pun cuma setahun kurang sedikit. Keknya posisi ini emang makan tumbal ya.. Hot seat.. Yang duduk di sana ga bisa lama saking panasnya itu tempat duduk.

Nah, sebenernya sih dt ga ngelembur. dt cuma nemenin mbak Yeyo yang ga berani sendirian di kantor. Konon katanya sih, ini kantor udah ada penunggunya lo. Katanya lagi, penunggunya doyan banget main keyboard di ruang IT, which is di sebelah ruangan dt n PIC dt.. Padahal ini kantor termasuk gedung baru lo.. Biasanya yang berpenunggu kan gedung-gedung tua.. Ah, entah. Toh, dt sendiri belum ngalamin sendiri kejadiannya.

Nemenin orang kerja itu enak-ga enak ya, ternyata. Karena dt dikacangin juga sih, sebenernya. Tapi kesian kalo mbak Yeyo harus sendirian di kantor. Mana dt kan jadi bisa belajar gimana reporting-nya PIC (punya planning untuk jadi PIC gitu, ceritanya :p).

Jam kerja dt kalo hari sabtu gini sebenernya cuma sampe jam 2 siang. Tapi kudu nambahin loyalitas, jadi biasanya kalo sabtu-sabtu stay di kantor baru pulang jam 3. Nah, sekarang molor nih sampe entah nanti jam berapa.

Dan ga ada uang lembur, btw.. :))

Tiga Bulan Lewat

Yak, lagi-lagi dt vacuum ngeblog.. *ketawa mengenaskan*

Sudah tiga bulan lebih dt ga ngeblog, dan beberapa hal yang terjadi selama tiga bulan ini.

I get a job, as a trainer. Tahu sih agak melenceng dari jurusan waktu dt kuliah dulu. But i enjoy it. Dan sepertinya dt bisa lihat arah karir dt ke sebelah mana. Jadi tempat kerja dt adalah sebuah agensi SPG sebuah perusahaan susu multinasional yang sudah tersohor di Indonesia (halah :p). Ngarepnya sih, perusahaan itu bakal ngelirik dan ngerekrut dt dalam waktu dua tahun. Tapi kalau dalam dua tahun ga ada perkembangan yang menurut dt cukup pesat, mungkin dt bakal bertahan setahun lagi sambil cari opsi pekerjaan lain..

I get a partner, either. Dari dunia maya. Yang jelas mama setengah hati dengernya. Emang sih ga ada hujatan atau penolakan, tapi dt ngerasa kalau mama ga sreg saat tahu partner dt itu dt temuin di dunia maya. Mungkin mama takut dt jadi korban penipuan kek di tipi-tipi itu..

Selama itu terjadi beberapa drama yang bisa dt tulis satu-satu per entri blog, karena kalo digabungin jadi satu pasti bakal njelimet. Jadi mungkin beberapa entri ke depan bakal berisi tentang drama dt di kantor. Dan jangan begitu berharap dt nulis drama dt bareng partner dt di sini, btw.. ;))

Intimacy is a private things, dear~

Jumat, Januari 14, 2011

Good but Not Great



Ini gara-gara ffeebbyy ngetwit kalo dia baru baca entri blog terakhir RedZz.

Yeah, dt menyalahkan febi karena mengingatkan seberapa plin-plan dt.. *ngakaksetan*

Sila loncati entri Rz yang berbicara tentang liburan ke phuket karena dt ga ada rencana berdarmawisata ke luar negeri berhubung dt seorang pengangguran tanpa penghasilan. Lewati juga tentang penggemukan karena dt tidak sekurus Rz dan punya lekukan tubuh untuk dipamerkan (OMG! I love my curve! #plak). Berhentilah di mana saat Rz berkata tentang dia bisa melakukan hampir segalanya, tapi bukan pakar.

I'm good on almost everything, but never great on something.

That's what i feel. That's my life.

Orang-orang dengan kondisi seperti dt biasanya lancar saat melewati masa-masa sekolah. Karena saat sekolah kita diminta untuk mampu mengusai segala macam pelajaran. Bukan hanya mata pelajaran yang kita sukai saja. Setiap nilai mata pelajaran sedikit di atas rata-rata itu saja sudah cukup. Sedangkan manusia yang memiliki kemampuan khusus biasanya justru tertekan karena lebih mampu di satu-dua mata pelajaran saja, dan tidak di mata pelajaran lain. Sayangnya, orang tua dan guru terbiasa untuk menitikberatkan segala sesuatu pada hal yang tidak kita bisa dan melupakan di mana kita bisa berkembang lebih baik. Atau memang kurikulum pendidikan di Indonesia yang terlalu menekan?

Eh, kok jadi ngelantur ke kurikulum pendidikan..

Oke, kembali ke topik. Seperti yang bilang tadi, tanpa bermaksud sombong (mungkin sedikit congkak lah..), dt bisa, mampu, mengerti, -atau paling engga- tahu tentang banyak hal sampe pernah dapet panggilan ensiklopedia berjalan. Kalo Mika bilang: I could be brown, I could be blue, I could be violet sky, I could be hurtful, I could be purple, I could be anything you like, Gotta be green, Gotta be mean, Gotta be everything more. I could be anything you like. I could be anything you want. I could fulfill every little fantasy you have.

Tapi sepertinya itu masalah dt. dt selalu berfokus pada orang lain, berkaca pada orang lain, mengukur dengan ukuran orang lain. Menerka dan mencoba menjadi apa yang orang lain inginkan. Karena dt sendiri ga tahu apa yang dt inginkan. Kalaupun tahu, tidak dalam waktu yang lama karena dt ini termasuk makhluk yang mudah bosan dan mudah tertarik dengan hampir apapun.

Sepertinya pe-er dt sekarang adalah berhenti menakar diri dengan ukuran orang lain; find where i could put my passion but still can give enough space to broaden my curiosity; dan tentu saja getting steady and stop being a parent parasite.

Amen..

Senin, Januari 10, 2011

A Reallife Networld


i'm in the point where i want my reallife back which i have to leave mynet world that i already love so bad.. #lifeless
Itu yang dt tweet tengah malam tadi yang sayangnya langsung dt hapus. 

dt menganggapnya sebagai racauan tengah malam. Tapi kalau dipikir lagi, mungkin tweet itu ada benernya. I do love my networld. Di dunia maya dt sudah membangun dunia dt sendiri, dt belajar banyak, dan dt juga nemu banyak manusia-manusia yang lebih teman daripada teman di dunia nyata.

Aneh kah?

Kalau mama dt pasti bilang "Aneh banget. Kok bisa berteman dengan manusia yang tahu bentuknya aja engga? Kok bisa percaya dengan orang yang pernah bertatap muka aja belum?"

Kalo ditanya kok bisa, ya bisa aja. Buktinya bisa..

Tapi mungkin kalian yang sudah larut dan terbiasa dengan dunia maya pasti menganggap hal itu hal yang biasa. Sepertinya generasi sekarang memang lebih terbiasa berinteraksi dengan barang daripada manusia langsung. Ah, teknologi.

Entah kenapa dt merasa sedikit takut dengan kenyataan itu. Apa bener dt termasuk orang yang lebih mampu berinteraksi dengan barang? Apa bener dt kemampuan berinteraksi langsung dengan manusia sudah berkurang? Kalo beneran iya, ngeri..

Sabtu, Januari 08, 2011

Refusing Gift


Pernah menginginkan sesuatu tapi yang didapat ga bener-bener sesuai yang diinginkan?

It's happening on me right now.

Biasanya saat menghadapi yang kek gini dt bisa dengan legawa menerima dan bersyukur. Tapi ga tahu kenapa kali ini dt malah merasa sebal luar biasa.

Jadi ceritanya semalam dt n adek ngomongin tentang mandphone yang lagi dipengenin. Adek pengen nokia X5 dan dt yang lagi naksir android pengen antara samsung 5333 atau LG GW620. Di sini mama ikutan lihat n denger pas dt browsing sambil ber-kya-kya lihat gambar-gambar henpon yang kita pengenin.

Entah ada angin apa, barusan mama yang seharian emang keluar ke Surabaya, pulang-pulang dateng n nyodorin sebuah handphone LG layar touchscreen sambil bilang "ini buat kakak"

Dan reaksi jujur pertama dt adalah "apaan nih maksudnya?"

Sepertinya mama salah nangkep waktu denger n lihat dt semalem. Dikiranya dt pengen henpon touchscreen, mengingat most android emang touchscreen. Mungkin maksud mama mau ngasih kejutan dan mengharapkan anaknya nerima dengan sumringah dan seneng karena ibunya ngasih sesuatu yang anaknya inginkan tanpa diminta. Tapi bukan itu yang reaksi bisa dt beri.

dt malah nolak dan bilang "mending kalau mau beliin gadget bawa dt, deh. dt kan rewel banget sama urusan gadget."

Sumpah, dt berasa jijik sendiri denger kalimat itu dari mulut dt.

Such an ungratefull child.

In the other hand, dt juga ga mau pasang tampang hepi dan nerima henpon yang mama beli karena itu artinya dt bersedia mengganti henpon yang dt inginkan dengan henpon yang mama beli.

Ah, mbulet.. ==a

Senin, Januari 03, 2011

When to Say Sorry


Entri kali ini muncul setelah dt chatting dengan seorang temen yang lagi ditodong untuk nulis artikel. (Aduh, jadi inget sama deadline artikel sendiri :3) Ceritanya, temen dt diminta untuk membuat artikel yang intinya adalah:

"in a fight, cewek itu harus submissive. bukan berarti harus nurut kayak kerbau, tapi yg harus minta maaf, itu bagiannya cewek."

Bibir dt langsung mengerucut saat itu juga.

Masa siapapun yang salah, cewek yang kudu minta maaf? Ga bisa gitu lah. Harus lihat situasi dan kondisinya gimana. Makan ati aja terus, kalo cewek yang cuma kebagian minta maaf sambil menghela nafas panjang n ngelus dada mulu..

Jadi, setelah dt tanya lebih lanjut, kondisinya adalah kalau saat sepasang kekasih bertengkar, siapa yang harus minta maaf lebih dulu? Harusnya sih yang salah, kan? Logikanya sih gitu, ya.. Tapi dalam kenyataanya, kalo nunggu yang salah ngaku dan minta maaf dengan ksatria, bakal keburu putus itu sepasang kekasih.

Menurut dt, saat bertengkar sudah blur tuh yang namanya garis batas antara benar dan salah, karena saat bertengkar pasti sudah bawa-bawa emosi dan ego masing-masing. Nah, kalo sudah digandolin ego muncullah rumus "Saya benar. Kamu salah. Kalaupun kamu benar, pasti ada salahnya." Ini yang bakal ngerusak hubungan.

Satu-satunya cara untuk menyudahinya jelas salah satu dari dua pihak harus menurunkan emosi dan melepaskan atribut egonya. Berhubung konsentrasinya adalah penyelamatan hubungan, bukan penentuan salah-benar, terserah sih siapa yang mau minta maaf duluan. Ga bergantung jender. Tapi yang dt tahu, biasanya yang minta maaf duluan adalah yang lebih mampu mengontrol emosi, punya dada yang lebih lapang, dan tahu kalau prioritas hubungannya lebih penting daripada memenangkan pertengkaran.

Jadi, sekarang kalo lagi bertengkar, siapa yang mau minta maaf duluan?

Sabtu, Januari 01, 2011

Tahun Berganti, Juga Kami


How d’you spend your new year’s eve?

Beberapa ngumpul bareng keluarga. Beberapa menghabiskan waktu bareng temen. Sementara yang lain anteng di depan tivi. Atau mungkin juga ada yang terjebak macet di jalanan. dt sendiri awalnya asik nongkrong di depan tivi sebelum akhirnya mama-papa ngajak keluar buat menghabiskan waktu terakhir tahun 2010 di resto deket rumah. Katanya sih, di Taman Indie punya festival sate nusantara buat acara malam tahun baruan. Tapi tahun belum berganti dt sudah minta pulang.

Kalo inget tahun-tahun sebelumnya, dt ngerasa kalo makna tahun baru lama-lama berubah buat dt.

Dulu waktu masih jaman SD, tahun baru berarti terompet dan alasan untuk tidak tidur semalam suntuk. Maklumlah, waktu SD dulu dt harus sudah memejamkan mata sebelum jam sembilan. Lalu bergeser jadi menikmati segala macam acara yang tivi tawarkan dan berbuntut autis semalaman dan seharian, mulai dari malam tahun baru sampai malam pertama di tahun baru. Terus beberapa tahun terakhir, tahun baru berarti menyalakan sumbu kembang api bareng sepupu-sepupu dt yang masih kecil.

Dan sekarang? Malam tahun baru ga ada bedannya dengan malam di hari-hari lain.

Well, happy new year everyone, have a better year ^-^