Jumat, Januari 14, 2011

Good but Not Great



Ini gara-gara ffeebbyy ngetwit kalo dia baru baca entri blog terakhir RedZz.

Yeah, dt menyalahkan febi karena mengingatkan seberapa plin-plan dt.. *ngakaksetan*

Sila loncati entri Rz yang berbicara tentang liburan ke phuket karena dt ga ada rencana berdarmawisata ke luar negeri berhubung dt seorang pengangguran tanpa penghasilan. Lewati juga tentang penggemukan karena dt tidak sekurus Rz dan punya lekukan tubuh untuk dipamerkan (OMG! I love my curve! #plak). Berhentilah di mana saat Rz berkata tentang dia bisa melakukan hampir segalanya, tapi bukan pakar.

I'm good on almost everything, but never great on something.

That's what i feel. That's my life.

Orang-orang dengan kondisi seperti dt biasanya lancar saat melewati masa-masa sekolah. Karena saat sekolah kita diminta untuk mampu mengusai segala macam pelajaran. Bukan hanya mata pelajaran yang kita sukai saja. Setiap nilai mata pelajaran sedikit di atas rata-rata itu saja sudah cukup. Sedangkan manusia yang memiliki kemampuan khusus biasanya justru tertekan karena lebih mampu di satu-dua mata pelajaran saja, dan tidak di mata pelajaran lain. Sayangnya, orang tua dan guru terbiasa untuk menitikberatkan segala sesuatu pada hal yang tidak kita bisa dan melupakan di mana kita bisa berkembang lebih baik. Atau memang kurikulum pendidikan di Indonesia yang terlalu menekan?

Eh, kok jadi ngelantur ke kurikulum pendidikan..

Oke, kembali ke topik. Seperti yang bilang tadi, tanpa bermaksud sombong (mungkin sedikit congkak lah..), dt bisa, mampu, mengerti, -atau paling engga- tahu tentang banyak hal sampe pernah dapet panggilan ensiklopedia berjalan. Kalo Mika bilang: I could be brown, I could be blue, I could be violet sky, I could be hurtful, I could be purple, I could be anything you like, Gotta be green, Gotta be mean, Gotta be everything more. I could be anything you like. I could be anything you want. I could fulfill every little fantasy you have.

Tapi sepertinya itu masalah dt. dt selalu berfokus pada orang lain, berkaca pada orang lain, mengukur dengan ukuran orang lain. Menerka dan mencoba menjadi apa yang orang lain inginkan. Karena dt sendiri ga tahu apa yang dt inginkan. Kalaupun tahu, tidak dalam waktu yang lama karena dt ini termasuk makhluk yang mudah bosan dan mudah tertarik dengan hampir apapun.

Sepertinya pe-er dt sekarang adalah berhenti menakar diri dengan ukuran orang lain; find where i could put my passion but still can give enough space to broaden my curiosity; dan tentu saja getting steady and stop being a parent parasite.

Amen..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar